Harianpilar.com, Bandarlampung – Personil Badan SAR Nasioan (Basarnas) Provinsi Lampung dituntut untuk selalu siap siaga selama 24 jam dalam kondisi apapun. Namun, kondisi sarana dan prasarana (sarpras) Basarnas sendiri masih kurang mencukupi dengan luas wilayah kerjanya se-Provinsi Lampung.
Demikian diungkapkan oleh Kepala Kantor Basarnas (Kakansar) Provinsi Lampung, Jumaril dalam diaog Bicara Fakta Pilar TV Entertaiment di Kantor Surat Kabar Harian Pilar, baru-baru ini.
Menurut Jumaril, ada tiga tugas pokok utama personil Basarnas Lampung. Pertama, personil Basarnas adalah harus siap siaga selama 24 jam.
“Jadi dalam situasi dan keadaan apapun, jika ada musibah atau bencana, personil Basarnas ini harus siap siaga. Jadi personil Basarnas ini harus siaga 24 jam,” ungkapnya.
Kedua, personil Basarnas harus menjaga dan memelihara kondisi fisik, meningkatkan pengetahuan di bidang SAR.”Ini kita lakukan dengan cara sering melakukan pelatihan-pelatihan bagi personil Basarnas. Pelatihan ini bisa pelatihan fisik maupun keterampilan di bidang SAR. Agar ketika mereka melakukan operasi SAR, mereka sudah siap,” terangnya.
Ketiga, melakukan operasi SAR apabila ada kejadian atau musibah yang memang membutuhkan pertolongan SAR.”Di lain sisi kita juga melakukan tugas lainnya. Seperti melakukan komunikasi dan koordinasi dengan instansi-instansi terkait yang memang mempunyai potensi SAR,” tuturnya.
Putra asli Way Kanan ini menyampaikan kondisi sarpras Basarnas Lampung yang menurutnya masih kurang jika dibandingkan dengan luas wilayah kerja se Provinsi Lampung.”Sarpras sebenernya kalau kita bandingkan dengan luas wilayah Lampung, dengan peralatan yang ada saat ini bisa dikatakan masih sangat kurang,” ungkapnya
Dicontohkannya, jumlah kapal kelas dua yang dimiliki saat ini hanya satu untuk wilayah kerja dengan luas perairan Lampung yang terbentang dari perairan timur Lampung sampai perairan barat Lampung masih sangat kurang.”Karena kemampuan jelajah kapal kita saat ini masih terbatas. Terlebih perairan barat Lampung yang biasanya cukup ekstrem, gelombangnya bisa mencapai 2,5 sampai 4 meter, tentu saja kapal kami sangat riskan untuk menjangkaunya. Bisa-bisa tim SAR kita yang di-SAR-kan,” kata dia.
Kemudian, lanjut dia, peralatan lainnya seperti read atau Sirider yang saat ini hanya standby di Panjang dan Bakauheni. Sementara perauran laut Lampung terbentang dari sebelah timur, teluk Semaka, hingga bagian barat Lampung. “Jadi ini tentu masih sangat kurang,” kata dia.
Kendati demikian, pihaknya mensiasati kekurangan sarpras yang dimiliki dengan memaksimalkan fungsi potensi SAR yang ada di Provinsi Lampung.
“Maksimalkan fungsi peranan potensi SAR. Untuk mereka bisa membantu kita. Caranya kita jalin komunikasi dan koordinasi, silaturahmi dengan instansi-instansi yang ada di Provinsi Lampung yang memang memiliki potensi SAR. Seperi Pol Airut, BPBD, dan lain-lain,” bebernya.
Jumaril menyadari bahwa dalam kondisi saat ini, Basarnas Lampung harus menjalin koordinasi untuk percepatan pertolongan pertama SAR.
“Misal ada kejadian di Krui sedangkan pos jaga kita ada di Tanggamus, makanya disini kita perlu koordinasi dengan instansi di Krui yang ada potensi SAR untuk percepat pertolongan Basarnas. Makanya penting koordinasi ini,” jelasnya.
Jumaril mengajak kepada seluruh masyarakat Provinsi Lampung untuk membudayakan safety diri atau perlindungan terhadap diri sendiri. Karena kejadian atau musibah yang terjadi saat ini kebanyakan dikarenakan akibat kelalaian masyarakat terhadap perlindungan dirinya sendiri.
“Salah satu yang masih perlu sosialisasikan masyarakat budaya safety. Karena ini penting ditengah masyarakat,” jelasnya.
Dikatakannya, dimana pun apabila melakukan aktifitas di tempat berbahaya sebaiknya menggunakan alat pelindung diri (APD).”Misal nelayan yang berada di perairan, ketika melaut sebaiknya menggunakan pelampung, atau masyarakat yang berenang di pantai, sebaiknya menggunakan ban atau life jaket. Atau yang di kendaraan menggunakan helm,” bebernya.
Selain itu, diperlukan sosialisasi terkait pengawasan orang tua atau orang dewasa terhadap anak-anak yang masih balita ketika sedang bermain.
“Kelalaian pengawasan orang tua ini juga bisa menjadi faktor kejadian. Seperti kejadian di Pasar Tugu belum lama ini. Masyarakat harus diberikan pemahaman dan edukasi demikian agar hal-hal seperti itu tidak terulang kembali,” kata dia.
Di lain sisi, Jumaril mengatakan, pihaknya selalu berusaha meningkatkan untuk mensosialisasikan safety diri terhadap masyarakat, meskipun tidak secara langsung. “Tapi melalui media, kita bisa memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana melakukan safety diri,” pungkasnya.(Ramona)









