oleh

Mahasiswa Diminta Kembangkan Teknologi Pertanian

Harianpilar.com, Bandarlampung – Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), mahasiswa diminta untuk meningkatkan hasil pangan dan teknologi pertanian. Khususnya bagi mahasiswa di provinsi Lampung yang merupakan salah satu lumbung padi nasional.

Hal ini diungkapkan oleh Anggota DPR RI Komisi IV, Hermanto dalam acara seminar nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Sumbagsel yang diadakan di Gedung Serba Guna (GSG) Polinela, Senin (20/4/2015).

Dihadapan sekitar 600 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi se-Sumbagsel, Hermanto mengatakan, peningkatan teknologi pertanian sangat penting untuk dapat mengcover kebutuhan penduduk yang semakin besar.

“Masalahnya lahan kita semakin sempit dan penduduk terus bertambah. Jika tidak diantisipasi, itu akan menjadi celah masuknya produk-produk asing. Dan akhirnya kita tidak akan pernah mampu berswasembada,” katanya.

Menurutnya, mahasiswa punya peranan yang sangat penting karena mahasiswa yang mendapatkan ilmu pengetahuan dan aplikasinya di lapangan. Untuk itu, pemerintah juga harus mengalokasikan dana pendidikan yang mencapai 20 persen dari APBD ke sektor pengelolaan pertanian

“Sebenarnya dana sangat besar, tetapi selama ini sasaran untuk pengembangan pertanian masih sangat minim. Ini yang harus dibenahi, jadi kedepannya dana pendidikan harus diupayakan sebesar-besarnya untuk anggaran pertanian,” imbuhnya.

Selama ini, tambahnya, kebutuhan pangan nasional masih bergantung pada impor luar negri. Untuk itu, Lampung sebagai lumbung pertanian harus terus meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Menurutnya, Lampung memiliki potensi yang sangat besar untuk komoditas beras, jagung dan juga kedelai

“Lampung ini salah satu penghasil padi setelah terbesar setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Kedepan kita harapkan bisa meningkatkan komoditas tani lainnya,” jelasnya.

Sementara, Direktur Polinela, Joko SS Hartono mengatakan, dalam meningkatkan mutu dan kuantitas hasil pangan, Polinena lebih mengutamakan praktek di lapangan dari pada teori. Untuk komoditas utama, mengatakan Polinela fokus pada pengembangan padi dan jagung

“Polinela sudah melakukan produksi padi dengan hasil yang cukup besar, yakni dari lahan 1 hektar bisa mencapai hasil 6-7 ton perkali panen. Sementara untuk jagung kita punya jangung hibrida yang sudah kita kelola sejak tahun 2007. Hasilnya juga bisa mencapai 9 ton per kali panen,” ungkapnya seusai kegiatan, Senin (20/4/2015).

Dalam menghadapi MEA ini, ia juga menghimbau, agar setiap mahasiswa terus menggali potensi dan meningkatkan skill, sehingga nantinya tidak kalah bersaing dengan SDM dari luar negeri.

“Mahasiswa perlu memiliki soft skill dan semangat pantang menyerah. Mereka juga harus mampu berinovasi untuk menciptakan peluang usaha baru. ini yangterus kita tanamkan di Polinela,” pungkasnya. (Harry/JJ) si pendaftaran,” imbuhnya. (Harry/JJ)