oleh

1970-an kosumsi gula Indonesia terus meningkat. Kebutuhan 1,5 juta ton/tahun, produksi dalam negeri hanya 1,1 juta ton.

Lima pabrik gula dalam negeri yang terpusat di Jawa, tak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perlu penambahan pabrik, perluasan kebun.

Dengan undang-undang penanaman modal asing (1967 direvisi 1970), rezim orde baru (orba) mendorong penanaman modal termasuk di sektor perkebunan.

Sejak itu pembangunan pabrik gula di luar Jawa dilakukan. 1983 di Lampung Tengah dibangun PT. Gula Putih Mataram (GPM). 1987 mulai beroperasi. Total luas lahan 62 ribu hektar.

Di zaman orba hampir semua usaha besar ada campur tangan penguasa. Begitu juga awal berdiri GPM, berada di bawah Salim Group. Sekutu Soeharto dalam bisnis.

Berbagai artikel menyebut, saham GPM mayoritas dimiliki Bambang Trihatmodjo, putra ketiga Soeharto.

1997 krisis melanda. Salim Group guncang. Mendapatkan dana talangan BLBI.

Perkebuan dan pabrik tebu terbesar di Asia itu jadi jaminan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Dilelang BPPN. Dimenangkan Gunawan Yusuf, pemilik PT. Garuda Panca Arta.

Pabrik dan perkebunan gula ini dikelola Gunawan Yusuf. Bersama adiknya Purwati Lee. Biasa disapa Nyonya Lee.

Di tangan Gunawan Yusuf dan Purwati Lee berkembang pesat.

Sugar Group Company (SGC) menggurita. Membawahi enam perusahaan : PT. Gula Putih Mataram, PT. Sweet Indo Lampung (SIL), PT. Indo Lampung Perkasa (ILP), PT. Indo Lampung Distilery (ILD), PT. Guna Layan Kuasa (GULAKU), PT. JJ Multi Utama Indonesia.

SGC kerap bergejolak.

Utamanya protes rakyat : tuntutan ukur ulang lahan, tanah ulayat, asap pembakaran tebu, berbagai masalah pajak. Hingga masalah CSR.

Tuntutan rakyat seperti angin lalu. Muncul setiap waktu. Timbul tenggelam. Tak kungjung selesai.

SGC perkasa.

Sekaliber Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) pun tak mudah menyentuh SGC. Dari pajak alat berat, hingga pajak air. Belum jelas ditangan KPK.

DPRD Lampung berulang kali memanggil Nyanyo Lee. Juga diabaikan. Tak pernah hadir.

Rakyat berulang kali aksi massa. Menyampaikan tuntutan. Tak pernah mendapat tanggapan.

Purwati Lee selalu tampil. Dari kampanye Arinal-Nunik di Pilgub. Hingga kampanye Jokowi : semua menang.

Purwati Lee tampil di pelantikan Arinal sebagai Sekdaprov. Meski tak nampak di pelantikan Arinal sebagai Gubernur. Di Istana Negara.

SGC sudah perkasa di ekonomi, politik bahkan mungkin di hukum….wassallam