Harianpilar.com, Bandarlampung – Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara, Kementerian Keuangan, Brahmantio Isdijoso, menyampaikan semua pihak menginginkan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) memberikan dampak positif bagi masyarakat Lampung. “Pembangunan JTTS di Lampung berjalan dengan baik, dan tercepat bila dibandingkan dengan Provinsi lainnya. Tentu hal tersebut akan berdampak positif bagi perekonomian Lampung,” ucap Brahmantio pada pembahasan penelitian potensi dan penerapan value vapture pada proyek JTTS, di Ruang Way Halim Hotel Horison, Bandarlampung, Selasa (17/4/2018).
Hadir dalam acara ini, selain pejabat Pemprov Lampung juga Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Kementerian Keuangan, Brahmantio Isdijoso dan Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyaraksat (LPEM) Universitas Indonesia Denny Irawan.
Hal serupa juga disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Qodratul Ikhwan. Dia menjelaskan JTTS akan meningkatkan perekonomian Lampung.
“Adanya JTTS ini harus didukung rest area yang memadai, serta antisipasi akan adanya penumpukan dan kemacetan kendaraan,” jelasnya.
Sementara itu, Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyaraksat (LPEM) Universitas Indonesia, Denny Irawan menjelaskan cakupan studi pada value capture yakni analisis dampak ekonomi, estimasi willingness to contribute dan penyusunan skema value capture.
Dalam analisis dampak ekonomi, Denny menjelaskan pembangunan JTTS akan berdampak pada sektor-sektor pembangunan seperti sektor bangunan, sektor transportasi darat, sektor perdagangan, sektor industri pengolahan dan sektor primer. “Di sektor pembangunan, Provinsi Lampung akan memiliki multiplier output 1,67 dan multiplier nilai tambah 2,45 sedangkan sektor transportasi darat akan memiliki multiplier output 1,55 dan multiplier nilai tambah 1,75,” jelasnya.
Terkait estimasi “willingness to contribute”, jelas Denny, hal itu ditujukan untuk memprediksi kesediaan pemangku kepentingan yang memperoleh manfaat dari keberadaan JTTS untuk turut berpartisipasi dalam skema value capture yang ditujukan untuk pendanaan JTTS. Dalam penyusunan skema value capture, terdapat aspek-aspek penerima manfaat, koordinasi, waktu inisiasi, basis pungutan, frekuensi, cakupan biaya, tingkat wewenang dan cakupan area.
Menurut Plt. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung, Taufik Hidayat Pemprov berupaya memanfaatkan JTTS bagi kesejahteraan masyarakat Lampung. Salah satunya dengan memanfaatkan exit jalan tol.
“Pemprov Lampung akan memanfaatkan exit tol JTTS yang mengkoneksikan langsung dengan kawasan industrialisasi, pelabuhan, dan lainnya. Tentunya daerah yang terkoneksi dengan JTTS akan menetapkan kawasan industri level kabupaten,” jelas Taufik.
Keberadaan JTTS, jelas Taufik, tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, tetapi juga akan memberikan dampak positif bagi daerah lainnya. “Provinsi Lampung sangat dekat dengan pulau Jawa, bahkan 30-40% pasokan pangan ke Jakarta berasal dari Lampung. Dengan adanya JTTS tentu secara tidak langsung akan meningkatkan ketahanan pangan, serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Provinsi Lampung, yang pada akhirnya membawa dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Lampung,” jelasnya. (Maryadi)









