oleh

DPRD Lampung Soroti Pungli di PKOR

Harianpilar.com, Bandarlampung – Adanya temuan pungutan liar (pungli) di PKOR Way Halim, Bandarlampung membuat DPRD Lampung angkat bicara. Pasalnya, pungli tersebut sangat meresahkan para pengunjung PKOR Way Halim.

Anggota DPRD Lampung, Noverisman Subing mengatakan, dirinya sangat menyayangkan masih muncul lagi pungli di PKOR Way Halim.

“Inikan dulu sudah pernah ada dan pernah ditertibkan, kenapa ini muncul lagi,” tegasnya dihubungi via ponsel, Senin (15/1/2018).

Menurutnya, PKOR Way Halim merupakan fasilitas umum yang diawasi oleh Pemerintah Daerah untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya.

“Seharusnya kalau memang sudah ditertibkan dan diawasi sudah tidak ada pungli-pungli lagi dong. Kasihan masyarakat yang pingin jalan-jalan di PKOR. Inikan fasilitas umum. Jadi harusnya nggak boleh ada pungli,” jelasnya.

Untuk itu, politisi PKB ini meminta kepada Pemerintah Provinsi Lampung melalui instansi terkaitnya dapat menertibkan oknum-oknum yang melalukan pungli di PKOR Way Halim.

“Kita kan sudah ada tim saber pungli, seharusnya Pemprov bisa dong menertibkan pungli disana. Jangan sampai ini terus merajalela dan membuat masyarakat resah,” ungkapnya.
Mantan Bupati Lampung Timur ini juga menghimbau kepada Pemerintah Provinsi Lampung untuk dapat mengelola PKOR Way Halim dengan baik.

“Ini kan aset pemprov, harusnya bisa dikelola dengan baik. Bagaimana caranya bisa meningkatkan PAD dan jaga jangan sampai ada pungli lagi,” pungkasnya.

Sebelumnya, lagi, pungli di PKOR Way Halim, Bandarlampung yang dilakukan oknum yang mengaku pengangguran terus merajalela. Kejadia tersebut tanpa adapengawasan dari Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, dan membuat resah para pengunjung khusunya para pengendara roda dua dan roda empat.

Salah seorang pengunjung PKOR Way Halim yang membawa kendaraan roda empat, Muhammad Iqbal mengaku bahwa dirinya dimintai pungutan parkir menggunakan karcis parkir berwarna kuning sebesar Rp10.000 yang bertuliskan,“ jasa penitipan motor/mobil Rp 5.000”.

“Saya masuk sinipun nggak ada tukang parkir yang ngawasi dan tidak ada lahanparkir yang khusus banget buat kendaraan, cuma disinisaya duduk-duduk saja malah nggak keliling kemana-mana, mobil saya ya saya sendiri yang ngawasin,” jelas Iqbal sambil tertawa ditemui disekitaran PKOR Way Halim, belum lama  ini.

Dirinya sangat menyayangkan dengan kehadiran para oknum petugas parkir bayangan tersebut, karena dinilai tidakjelas dengan sistem pungutan yang dilakukan.

“Saya sih sebenarnya biasa saja kalau memang parkir harus bayar, tapi ini setahu sayakan dilingkungan fasilitas umum (Fasum) yangdiberikan pemerintah dan disini juga nggak ada tulisandilarang parkir dan lain sebagainya,” tukas dia.

Terpisah, salah seorang pengendara sepeda motor, Iswandi warga Sukarame, Bandarlampung mengatakan dirinya bahkan sampai dua kali dimintai bayaran parkir.

“Tadi saya dah ngasih Rp5.000 eh nggak lama adalagi beda orang yang datengminta lagi, untung karcis parkirnya belum saya buang,” ujarnya.

Setelah ditelusuri, ketika Harian Pilar dimintai pungutan liar parkir disekitaran PKOR  seorang yang mengaku petugas parkir yang tidak diketahui namanya mengatakan pungutan parkir hanyalah inisiatif sendiri dari warga sekitar.  “Saya orang sini, yaminta ajalah,” kata dia.

Ditanya apakah hasil parkir disetorkan ke Dinas Perhubungan, dirinya mengatakan tidak sama sekali. “Nggak ada, saya orang sini,” kata dia.

Setelah dibaca, pada karcis parkir tersebut pada pojok kiri bawah ada keterangan yang bertuliskan gunakan pengaman ganda. Titipkan helm, kehilangan bukan tanggung jawab kami. Namun nyatanya tempat penitipan helm tidak ada, dan petugas parkir yang mengawasipun tidak ada.(Ramona/Mar)