oleh

Petugas Kewalahan Usir Gajah Kembali ke Hutan

Harianpilar.com, Tanggamus – Sudah selama 11 hari, pengusiran gajah disekitar Pekon Sri Katon dan Karang Agung Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus masih tetap berlangsung. Namun kawanan gajah masih sulit diarahkan masuk hutan lindung.

Pengusiran yang dilakukan oleh gabungan Satuan petugas (Satgas) yang terdiri dari BKSDA, TNBBS, World Wide Fund for Nature (WWF), Wildlife Conservation Society (WCS), Rhino Protection Unit (RPU) bersama warga yang berasal dari beberapa Pekon diarea Kecamatan Semaka tersebut.

Menurut Camat Semaka Edi Fahurozy kawanan gajah sekarang terpencar menjadi dua kelompok, satu rombongan besar berjumlah delapan ekor yang mau diusir ke hutan namun masih tetap akan kembali ke sekitar perkampungan. Sedangkan lima ekor lagi tidak diketahui berada di mana, namun pastinya bersembunyi di sekitaran dua pekon.

“Pengusiran ini harus sampai selesai, gajah harus masuk hutan lagi. Dalam hal ini kami tetap memilih melindungi manusianya dan juga gajah sebab itu hewan dilindungi,” katanya, Selasa (15/8/2017).

Edi menjelaskan, untuk pengusiran dibagi dua tim yang masing-masing berjumlah sekitar 25 orang. Maksud pembagian tim untuk menghindari gajah kembali dari arah lainnya. Sehingga masing-masing tim mengarahkan ke arah hutan namun dari dua arah agar gajah tidak kembali.

“Pengusiran dilakukan mulai siang hari, sebab gajah mulai mencari makanan mulai sore hingga malam hari. Maka dengan diusir diharapkan gajah itu akan berpindah,” terangnya

Selanjutnya Camat Semaka itupun mengatakan, pengusiran dilakukan dengan gertakan-gertakan, menyalakan petasan jadi, dan petasan buatan yang dibuat dari spirtus.

“Usaha tersebut memang membuahkan hasil karena gajah menjauh, namun tetap pada malam hari akan kembali ke sekitar perkampungan,” terangnya.

Sementara itu Sapar warga Pekon setempat mengatakan bahwa, gajah umumnya merusak pohon pisang, pepaya, singkong, kelapa, dan pohon nangka yang kecil. Sedangkan pohon-pohon yang keras dan buahnya pahit tidak dimakan seperti kopi dan kakao. Gajah juga sudah merusak satu gubug yang ada di perkebunan.

“Jadi sekarang ini pusing karena mau ke kebun jadi takut dan tanamannya juga rusak jadi tidak bisa diambil apa-apanya. Waktu malam Jumat (10/8/2017) lalu, gajah datang dekat rumah saya, saya senteri malah mau menyerang saya, akhirnya saya lari,” terang Sapar.

Lebih lanjut Sapar menjelaskan bahwa rumahnya kini menjadi posko bagi tim satgas, dan masyarakat untuk ronda malam hari. Tujuan ronda agar gajah tidak masuk pemukiman dan merusak rumah warga. Saat malam hari warga membakar dedaunan agar gajah tidak datang karena takut dengan api dan asap.

“Lokasi ini memang dulunya sekitar 20 tahun lalu pernah didatangi kawanan gajah. Namun saat itu gajah mudah diusir berbeda dengan sekarang yang sulit untuk pergi. Gajah berjumlah sekitar 12 ekor yang dipimpin satu gajah dengan kondisi fisik ekornya buntung atau tidak utuh,” ujarnya.

Terpisah, Rusmaidi, salah satu pimpinan satgas mengatakan, pengusiran tetap dilakukan, membantu warga menjaga kampung sekitar yang berkemungkinan dimasuki oleh kawanan gajah untuk memastikan keselamatan warga berikut kawanan gajah tersebut. Rusmaidi juga mengatakan bahwa gajah-gajah tersebut berasal dari hutan lindung di register 31 dan bukan berasal dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

“Sepekan ini masih disini sambil terus laporan ke atasan bagaimana langkah yang diambil nantinya. Pastinya kami menghindari konflik antara gajah dan manusia yang membahayakan bagi semuanya,” ujarnya. (Agus/Mar)