oleh

UBL Lestarikan 3 Tarian Tanggamus

Harianpilar.com, Tanggamus – Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bandar Lampung (Prodi TI FIK UBL) melestarikan seni budaya Lampung. Terutama pada tiga tarian tradisional yang ada sejak 1700- awal 1900-an dari Kabupaten Tanggamus, yang hampir punah, yakni Tari Kipas Saibatin, Igol dan Naga Bejelung.

Langkah ini dilakukan Tim TI FIK UBL beranggotakan para mahasiswa dan alumni, seperti Debi Herlina Meilani, S.Kom ; M. Fadhilah, S.Kom ; dan Derik Aguesty, yang dibimbing Kaprodi TI FIK Marzuki, S.Kom, M.Kom dan Dosen Maria Shusanti Febriyanti, S.Kom, M.Kom. Kegiatan dipusatkan di Pekon Sanggi Unggak, Kecamatan Bandar Negeri Semuoung/ Way Semaka, Tanggamus.

Marzuki menjelaskan, langkah kerja timnya, berupa mencari data dan fakta otentik dilapangan. Seperti mewawancarai tokoh pemuka adat, dan sesepuh praktisi tari. Serta mendokumentasikan dan memproyeksikan gerakan tari, menggunakan teknologi kamera tiga Dimensi (3D), Kinect Version 2.

Selain itu, pihaknya berkesempatan mengabadikan Museum Mini Sanggi Unggak, yang menyimpan berbagai peninggalan kuno Kerajaan Sai Batin Way Semaka, Tanggamus. Semua kegiatan dilakukan bersamaan,Rabu (5/4/2017) kemarin. Rencananya, semua hasil kegiatan ini akan dilaunching, Selasa (11/4/2017) dalam pesta adat masyarakat setempat.

“Kita sudah ambil (data mula) dengan tari igol, sekarang kipas sebatin. Kedua tari ini, narasumbernya masih ada dan satu-satu pelaku (penari)nya. Lewat langkah ini, kita akan rangkai (gerakan tari) lewat aplikasi virtual 3D disertai saran-pesan sang tokoh, termasuk memperlihatkan berbagai koleksi peninggalan sejarah tersisa. Sebagai bentuk pembelajaran bagi generasi masa depan,”jelasnya.

Dikorelasikannya pelestarian seni budaya dengan teknologi komputer, dianggap Marzuki sebagai langkah inovatif, kreatif, positif, dan masif yang dilakukan sivitas akademika FIK UBL. “Teknologi akan mempermudah orang dengan banyak hal, untuk melakukan apapun. Termasuk mempelajari seni tari tradisional dan mendalami (peninggalan) budaya leluhurnya,”imbuhnya.

Secara teknis, Maria menjelaskan penggunaan teknologi 3D Kinect Version 2, karena alat ini dapat merekam langsung tiap pergerakan tari secara lengkap, berdasarkan reprsentasi pergerakan tubuh manusia, yang diselaraskan alunan musik pengiringnya. Alat ini dapat pula merekam, dan menganalisis langsung 25 titik objek anggota tubuh, yang memiliki berbagai nilai observasi.

“Dengan alat ini kita tidak hanya menonton tarian dengan musik, secara virtual. Tapi,melihat langsung tokoh animasi penarinya, dengan lekuk tubuh lengkap. Kedepan, hasil alat ini tidak hanya menjadi dokomentasi. Tapi dapat dioper kebanyak objek. Seperti animasi 3D, Humanic Robotika,atau dokementasi tersimpan berbentuk video (fakta) maupun angka (data). Jadi publik, akademisi dan pihak peneliti dapat mengukur ketepatan pergerakan tari secara tepat,”ujarnya.

Sedangkan, Kepala Pekon Sanggi Unggak, Abu Sahlan mengapresiasi langkah pelestarian UBL dibidang seni tari kontenporer dan berbagai budaya barang peninggalan sejarah Kerajaan Way Semaka, dengan menggunakan aplikasi teknologi komputer.

“Kami gembira, seni dan budaya yang (lama) yang kurang pernah digali ini, sekarang mendapat perhatian (serius) untuk dilestarikan pihak perguruan tinggi (UBL). Memang seni budaya ini semua, ada turun menurun. Tapi, harus diakui bersama, kurang dilestarikan karena berbagai faktor. Mulai kondisi keamanan, politik, ekonomi, hingga kehidupan sosial,”aku penerus Kerajaan Way Semaka generasi ke-13, dengan gelar adat Pangeran Punyimbang Khatuk Semaka ini.

Secara singkat, Pun Abu, begitu disapa menjelaskan ketiga tarian asal Teluk Semaka ini, yang erat dengan gabungan nilai historis dari Kerajaan Skala Brak Kuno, Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Banten ini, memiliki gerakan, nilai filosof serta makna tarian berbeda-beda.

“Semua tarian ini sifatnya sakral, karena diadakan untuk pertemuan maupun pesta begawi adat Sai Batin. Para penarinya termasuk orang pilihan pihak kerajaan ataupun utusan pekon (kampung), masih anggota keluarga (kerajaan). Mereka diutus memikul perwakilan wilayah. Bedanya, tari igol dilakukan perpasangan diatas nampan, dengan perempuan memegang 2 kipas dan lelaki 1 kipas. Tari naga bejelung dilakukan dua penari lelaki memperebutkan piring.

Tari kipas Sai batin, ada unsur pencak silat ini dilakukan 2- 6 penari lelaki, masingnya menggunakan 2 kipas,”paparnya.
Ikut menimpali, Camat Kecamatan Bandar Negeri Semuoung Suwandi menyebut langkah dilakukan FIK UBL ini ajang bagus mendalami seni budaya Lampung. “Pelesatrian budaya hilang karena pengaruh jaman, pergerusan globaliasi, dan masyarakat, khususnya kalangan muda kurang peduli pada budaya leluhurnya. Upaya (eksplorasi) UBL ini berarti ada bentuk pengulasan perguruan tinggi mendalami peninggalan masa lalu, yang akan diteruskan kepublik,”ujarnya.
Penari Kipas Saibatin, Tanggamus yang tersisa Ramli ikut sepakat, upaya UBL ini bertujuan agar seni tari asli Lampung tidak hilang.

“Saya harap tarian ini tidak punah, sepeninggal saya. Saya bersyukur kampus ini (UBL) mau mempertahankan, meneneruskan dan memberikan ilmu yang saya dapat. Saya berharap pelestari seni dan budaya,tidak hanya perguruan tinggi tapi semua pihak (stakeholder). Agar tarian Lampung bisa terkenal hingga ke dunia,seperti tari Bali,”tukasnya.