oleh

Tiga Orang di Tanggamus Tewas Akibat DBD

Harianpilar.com, Tanggamus – Penyebaran demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Tanggamus hingga September 2016 mencapai 370 kasus. Ada tiga orang meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti itu. Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Tanggamus Sukisno, mengatakan kasus tertinggi terjadi di Puskesmas Gisting mencapai 102 kasus, kemudian Pulau Panggung (32), Margoyoso (31), Sukaraja (28), Sumanda (24), Talang Padang (22), Kotaagung (20). Kemudian Pasar Simpang (19), Sudimoro (17), Kedaloman (10), Ngarip (10), Bulok Sukamara (9), Negara Batin (9), Siring Betik (8), Sanggi (7), Rantau Tijang (6), Wonosobo (5), Way Nipah (4), Air Naningan (3), Atar Brak (3), dan Kelumbayan (1), hanya Puskesmas Putih Doh dan Kelumbayan Barat tidak ada kasus penderita DBD.

Sukisno, mengintruksikan kepada seluruh Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (KUPT) untuk memberantas virus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Menurut Sukisno, fooging atau pengasapan bukanlah solusi dalam memberantas penyakit DBD, melainkan hanya upaya mencegah meluasnya penyebaran virus DBD, yang dibawa vektor DBD yaitu nyamuk aedes aegypti pasca menggigit ataupun menularkan virus berbahaya tersebut di suatu area endemis DBD.
Kemudian sebagai langkah yang lebih efektif dalam memberantas virus penyakit DBD adalah melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan terus menggalakkan 3 M plus di lingkungan dan pemukiman masyarakat. Adapun 3 M plus tersebut yaitu menguras atau membersihkan tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, ember penampungan air dan sebagainya, menutup rapat tempat yang berpotensi menampung air dan memusnahkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarangnya nyamuk aedes aegypti.

Sedangkan plusnya yaitu menaburkan bubuk larvasida dalam bak penampungan air, menggunakan obat nyamuk, menggunakan kelambu, memelihara ikan dalam bak mandi, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya vetilasi rumah dan menghindari menggantung pakaian dalam rumah.

“Untuk melaksanakan program PSN 3M plus, tidak bisa dilakukan oleh diskes sendiri melainkan harus melibatkan seluruh masyarakat, maka dari itu seluruh KUPT diskes bekerja sama dengan satuan kerja lintas sektoral, yang tergabung dalam kelompok kerja operasional pemberantasan DBD, agar lebih proaktif memanfaatkan SDM dilingkungan wilayah kerjanya, dalam rangka memberantas penyakit DBD,” kata Sukisno saat memberikan materi pada pertemuan kelompok kerja operasional (pokjanal) pemberantasan penyakit DBD, Jumat (18/11/2016), diaula gedung serumpun padi, Kecamatan Gisting. Tampak mendampingi Sukisno, Sekretaris Taufik Hidayat dan Kepala Bidang Pencegahan Pengobatan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Sismantoro, hadir dalam pertemuan ini 23 KUPT Diskes, perwakilan BLHK dan Dinas Pendidikan.

Sukisno menerangkan, dalam pokjanal pemberantasan penyakit DBD sendiri, telah bergabung beberapa satker terkait diantaranya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK), aparat Kecamatan dan Kelurahan serta aparat Pekon. Tugas pokjanal memberikan penyuluhan terkait DBD, seperti sosialisasi dan penyuluhan di sekolah-sekolah, selain itu pokjanal juga berkoordinasi dengan aparat Kecamatan, Kelurahan dan Pekon untuk melaksanakan gerakan PSN di lingkungan masing-masing.

“Dalam penyuluhan pemberantasan penyakit DBD di sekolah-sekolah, harapan kita para murid ini bisa mengerti dan menerapkan PSN minimal di rumah mereka ataupun lingkungan sekitar rumah mereka. Dan harapan utamanya, para murid ini dapat menjadi kader kesehatan dilingkungannya, sehingga dapat menularkan pengetahuannya dalam memberantas penyakit DBD kepada masyarakat sekitar,” terangnya.

Sukisno menjelaskan, dalam kondisi cuaca ektrem saat ini, yaitu curah hujan tetap saja tinggi, dan diselingi cuaca panas, maka ancaman bahaya penyebaran virus DBD masih harus diwaspadai oleh masyarakat Tanggamus. Maka, oleh sebab itulah warga masyarakat diharapkan agar terus melaksanakan PSN 3 M plus minimal 7 hari sekali, guna membunuh jentik nyamuk aedes aegypti.

“Jadi kami himbau kepada masyarakat agar menguras bak mandi, dan tempat-tempat tertampung air minimal 7 hari sekali, agar jentik nyamuk penular DBD tersebut mati, karena dari masa menetas menjadi jentik lalu menjadi nyamuk dewasa siklusnya hanya 10 hari. Kemudian yang menghisap darah manusia adalah nyamuk berjenis betina, karena darah manusia untuk menghangatkan telur yang ada di dalam tubuhnya, ditaruh didalam air, sebenarnya masa hidup nyamuk DBD ini hanya sekitar 10 hari, setelah itu mati sendiri,” jelasnya. (Ron/Agus)