Harianpilar.com, Bandarlampung – Mahasiswa IAIN Raden Intan Lampung meminta pihak Rektorat untuk lebih riil dalam mensosialisasikan dana pembangunan masjid, yang mana saat ini menjadi salah satu tuntutan para massa mahasiswa. Pasalnya, mahasiswa menilai pungutan liar (Pungli) itu berkedok Infaq. Seharusnya pihak rektorat harus mampu menjelaskan tetang tatanan proses pembayaran infaq masjid bagi mahasiswa tidak mampu.
“Seleberan-selebaran pembayaran pembangunan masjid yang dibagikan ke mahasiswa itu isinya hanya membayar saja, tidak ada yang menjelaskan jika yang tidak mampu dapat menghubungi kesini-kesini, itu nggak ada. Kan itu kasian, mereka taunya membayar sekian-sekian tapi nggak tahu alur pembayarannya seperti apa itu. Jadi taunya bayar aja mereka kan kasian,” ujar Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Agis Dwi Prakoso, saat ditemui di lingkungan Fakultas Dakwah, beberapa waktu lalu.
Dikatakan Agis, jika memang tuntutan yang mereka pinta tetap tidak dapat dikabulkan, mereka akan tetap melakukan berbagai cara apapun itu agar permasalahan seperti pungli di tahun mendatang tidak membudaya.
“Kami ikhlas lahir batin untuk perjuangan ini asal ke depan perjuangan kami ini tidak sia-sia bagi adik-adik kami , secara idealis kami akan lakukan berbagai upaya namanya kita punya tuntutan seperti infaq, memberantas pungli dan UKT seharusnya pihak birokrasi mendukung apa yang kami tuntut,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian (Kabag) Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Raden Intan Lampung Ajis mengatakan, Infaq pembangunan masjid sudah sesuai prosedur dan pada saat merealisasikan juga pihak kampus melampirkan bila yang tidak mampu tidak diwajibkan.
“Masalah infaq masjid juga tidak dipaksakan, ya walaupun sudah ditarik sekian kalau ada yang tidak mampu dipaksa membayar? Kan nggak. Bagi mereka yang tidak mampu kan ada cara lain tapi bukan negosiasi ya tetapi cara lain untuk menyalurkan,” ujar Ajis, ditemui di ruang Humas beberapa waktu lalu. (Ramona/Juanda)









