oleh

DPRD Sesalkan Pemilihan Muli Mekhanai Bandarlampung

Harianpilar.com, Bandarlampung – Kontroversi pemilihan lomba Muli Mengkhanai Kota Bandarlampung 2016 tindak hanya mengecewakan rakyat dan walikota Bandarlampung. Namun, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandarlampung menyesalkan atas kesalahan panitia yang telah memilih Muli Mengkhanai tanpa memiliki kemampuan budaya Lampung.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandarlampung, Imam Santoso mengungkapkan, kekesalan, kekecewaan dan penyesalnnya atas apa yang dilakukan pemenang Muli Mekhanai yang tak mampu menyanyikan lagu Lampung dianggap merupakan kesalahan panitia.

“Kenapa dipilih, harusnya jangan dipilih kalau memang tidak bisa menyanyikan lagu Lampung. Jelas ini murni kesalahan dari  panitianya, karena  Muli Mekhanai ini kan duta, harusnya  bisa berbahasa, tahu aksara, dan tahu adat budaya Lampung. Apalagi hanya menyanyikan lagi Lampung,” sesal Imam saat dihubungi via telepon, Rabu(23/5/2016).

Imam menegaskan, untuk selanjutnya panitia harus profesional dan menetapkan standar pemenang Muli Mekhanai, yakni wajib harus  tahu sejarah budaya, lagu dan lainnya yang berkaitan dengan  kebudayaan Lampung.

“Sangat disayangkan dan disesalkan, yang akan datang harus ada standar pengetahuan serta wawasan kebudayaan adat Lampung. Kalau nggak bisa bahasa dan lagu Lampung ya ikut pemilihan puteri Indonesia saja, jangan pakai embel-embel Muli Mekhanai. Karena ini kan duta Lampung, otomatis dong mereka harus ngerti lagu Lampung. Disbudpar harus mengubah standar penilaian ini, artinya selama ini kita kecolongan dengan sistem standar yang ada,” pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandarlampung, Yus Amri, mengatakan pihaknya akan meningkatkan kemampuan para pemenang Muli Mekhanai.

“Iya kita akan tingkatkan kembali standar dari para duta kita,” paparnya.

Disinggung mengenai standar penilaian Muli Mekhanai apakah memuat unsur mampu berbahasa dan tahu adat kebudayaan Lampung.

“Kita nggak buat standar harus pintar berbahasa Lampung. Karena peserta kita ada yang nggak bisa bahasa Lampung karena memang bukan orang Lampung, ada juga yang suku asli Lampung tapi nggak bisa ngomong Lampung. Ya nanti akan kita tingkatkan kemampuannya,” pungkas Yus Amri.

Untuk diketahui, insiden pemenang Muli Mekhanai buta lagu Lampung ini terkuak saat Walikota Bandarlampung Herman HN meminta para duta ini untuk mengisi acara, saat menunggu juri menentukan juara dalam perhelatan pembukaan HUT Kota Bandarlampung ke-334.

“Waktu finalkan saya tidak hadir, jadi sekarang saya minta pemenang I, II, dan III nyanyi lagu Lampung, sendiri-sendiri jangan berpasangan. Coba nyanyi sekarang, kalau nggak bisa copot aja gelar juaranya itu,” perintah Herman HN, Minggu (22/5/2016)

Sontak panggung tempat Muli Mekhanai berada terdengar riuh. Uniknya, instruksi langung dari orang nomor satu di Kota Seribu Siger tidak segera dilaksanakan lantaran sound system eror yang sebelumnya baik-baik saja.

Akhirnya setelah menunggu sekitar 30 menit, seorang Mekhanai mampu menyanyikan lagu Cangget Agung dengan baik. Disusul seorang Muli yang mencoba menyanyikan salah satu lagu Lampung, namun dihentikan oleh walikota karena mencontek lirik lagu yang ada di handphone.

“Coba saya maunya yang tidak mencontek teks. Saya mau yang bisa saja,” tukas Herman. Panggung tersebut kembali hening, sampai akhirnya seorang Mekhanai pun maju dan menyanyikan lagu Tanah Lado dengan baik yang ternyata merupakan pemenang Mekhanai IV.

“Kamu pemenang 4? Saya minta juara I,II, dan III. Mana yang menang? Ini kenapa panitia bisa memenangkan orang yang nggak bisa nyanyi lagu Lampung? Mana panitianya? Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kan?,” tanya Herman.

Salah seorang perempuan yang mengaku dari tim panitia Disbudpar pun maju dan menjelaskan bahwa para pemenang Muli Mekhanai ini fasih dalam berbahasa Inggris.

“Ya buat apa bisa bahasa Inggris? Memangnya kita mau lomba internasional? Kita kan mau lomba di tingkat Provinsi Lampung. Coba kalau nggak percaya, nanti di kompetisi tingkat provinsi disuruh nyanyi lagu Lampung, bukan lagu bahasa Inggris,” tegas Herman. (Putri/Juanda)