oleh

Pasien Keluhkan Pelayanan RSUD Bob Bazzar

Harianpilar.com, Lampung Selatan – Pasien yang menggunakan BPJS di Kabupaten Lampung Selatan menggeluhkan pelayanan yang diberikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazzar Kalianda. Pasalnya, banyak pasien BPJS yang tajah ruangannya kelas 1 dan 2, tapi ditempatkan di kelas 3.

Menurut Budi, warga Kecamatan Kalianda mengaku kecewa dengan pelayanan yang diberikan pihak RSUD Bob Bazzar Kalianda karena pada saat anaknya dirawat di rumah sakit selama 2 hari ditempatkan dikelas III. Padahal di kartu BPJS dirinya mendapatkan hak pelayanan kelas II. “Alasan pihak rumah sakit adalah karena ruangan kelas II penuh, kalau hanya satu hari tidak apa-apa mas. Ini kan sampai dua hari. Dengan kondisi itu terpaksa anak saya pulang walaupun kondisinya masih sakit,” kata Budi minggu (15/5/2016).

Dia juga menambahkan, biaya pelayanan untuk kelas III dan kelas II pasti berbeda,  dirinya mempertanyakan klaim yang dilakukan pihak RSUD Bob Bazzar terhadap BPJS apakah kelas III atau kelas II? Siapa yang tahu tidak ada, hanya pihak rumah sakit dan BPJS yang tahu, kejadian tersebut bukan hanya menimpa pada dirinya saja, tapi beberapa pasien yang mengunakan BPJS yang seharusnya menerima pelayanan kelas II dan kelas I, tetapi ditempatkan dikelas III.

“Hal ini terjadi bukan kepada diri saya aja mas,  banyak keluhan terjadi terhadap pasien yang mengunakan BPJS, yang seharunya dapat kelas II dan kelas I, tetapi karena alasan ruangan penuh dialihkan kekelas III. Parahnya lagi kalau pihak keluarga hanya menunggu dikelas III pihak RSUD tidak pernah memindahkan pasien ke kelas yang menjadi hak pasien,” tambahnya.

Dirinya mengharapkan, kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan agar segera mencarikan solusinya, kalau memang kapasitas ruangan untuk kelas I dan II sudah tidak memadai lagi seharus pihak rumah sakit menambahnya. “Saya lihat masih banyak bangunan yang terlihat kosong yang berada diarea RSUD ini, kenapa tidak difungsikan,” pungkasnya.

Sementara itu menurut Fitri salah seorang perawat di ruangan anak kelas III mengatakan, penempatan pasien yang seharusnya mendapatkan ruang kelas II dan I, tetapi harus menempati ruang kelas III bukan karena adanya rekayasa, tetapi karena benar-benar ruang kelas II dan I penuh. “Memang penuh mas ruangan kelas II dan I,  itu bukan kemaunan kami. Ini juga masih banyak yang antri untuk masuk ruangan kelas II dan I,” katanya. (Saiful)