Harianpilar.com, Bandarlampung – Keberadaan Bhayangkara FC di Lampung kembali menjadi perhatian serius kalangan pemerhati dan komunitas sepak bola daerah. Setelah satu musim bermarkas di Lampung, muncul kekhawatiran klub tersebut sewaktu-waktu memilih hengkang ke daerah lain, termasuk Boyolali.
Kekhawatiran itu mengemuka dalam diskusi sejumlah pegiat sepak bola Lampung, Sabtu (15/8). Mereka menilai masyarakat Lampung membutuhkan kepastian mengenai masa depan Bhayangkara FC sekaligus arah pembangunan sepak bola daerah yang memiliki identitas Lampung di level nasional.
Pegiat sepak bola Lampung, A. Danny Elbhara Kobum, menegaskan dukungan masyarakat terhadap Bhayangkara FC tidak semata-mata untuk menikmati pertandingan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi bagian dari proses membangun ekosistem sepak bola Lampung.
“Kita sudah kumpul-kumpul, sudah bantu masalah tiket. Ujungnya kalau musim depan pindah, tentu menjadi pertanyaan. Kita butuh kepastian sampai berapa lama Bhayangkara di Lampung,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Menurut Danny, masyarakat Lampung tidak ingin kembali menjadi sekadar pendukung klub dari luar daerah. Ia berharap kehadiran Bhayangkara FC dapat memberikan warisan positif bagi generasi muda, khususnya berupa kebanggaan terhadap sepak bola yang membawa identitas Lampung ke tingkat nasional.
“Kalau hanya buat rame-ramean, sudah terlalu lama kita menjadi pengembara suporter klub luar daerah. Kita butuh warisan buat anak-anak kita ke depan, namanya kebanggaan sepak bola yang membawa identitas Lampung di nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Coach Dino Sefriyanto menyebut berdasarkan perjanjian kerja sama atau MoU, masa kerja sama Bhayangkara FC di Lampung berlangsung selama lima tahun dengan evaluasi setelah dua tahun.
“Di perjanjian MoU lima tahun, evaluasi dua tahun. Tapi selama masyarakat Lampung terus menginginkan Bhayangkara stay di Lampung, mereka akan stay terus,” kata Dino.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kepastian durasi keberadaan klub. Sebab, bagi komunitas sepak bola Lampung, kepastian menjadi penting agar dukungan masyarakat tidak berhenti hanya pada euforia sesaat.
Di sisi lain, keberadaan Bhayangkara FC dinilai telah memberikan dampak positif terhadap gairah sepak bola Lampung. Armuni dari Sikambara menyebut kehadiran klub tersebut selama satu musim memberikan dampak yang tidak hanya dirasakan pecinta sepak bola, tetapi juga masyarakat secara lebih luas.
“Selama satu musim BPLFC ada di Lampung, lumayan besar dampaknya, bukan hanya untuk sekadar pecinta atau penikmat bola saja. Masyarakat luas juga dapat,” ujarnya.
Diskusi tersebut juga berkembang pada kebutuhan Lampung memiliki klub profesional yang benar-benar membawa identitas daerah. Sejumlah peserta bahkan membahas kemungkinan menghadirkan klub Liga 2 ke Lampung apabila suatu saat Bhayangkara FC tidak lagi bermarkas di Bumi Ruwa Jurai.
Namun, persoalan terbesar yang dihadapi adalah pendanaan. Coach Dino menyebut kebutuhan anggaran untuk menjalankan klub Liga 2 berada pada angka puluhan miliar rupiah dalam satu musim.
“Belum ada investor di kita untuk membiayai Liga 2. Satu musim rata-rata menghabiskan Rp20-30 miliar untuk klub level menengah. Kalau materi pemain level Liga 1, bisa Rp50-60 miliar,” jelasnya.
Karena itu, keterlibatan pemerintah daerah dan dunia usaha dinilai menjadi salah satu kunci. Ketua Sikambara, Junaedi, menilai kepala daerah tidak harus menggunakan uang pribadi, melainkan dapat mempertemukan perusahaan-perusahaan besar melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Sebetulnya tinggal panggil 30 perusahaan besar. CSR-nya, kamu Rp1 miliar, kamu Rp2 miliar dan seterusnya. Terkumpul angka Rp30 miliar,” kata Junaedi.
Menurutnya, jika seluruh pemangku kepentingan duduk bersama, bukan mustahil Lampung memiliki klub profesional yang memiliki identitas daerah.
Gagasan tersebut juga dikaitkan dengan visi besar pembinaan sepak bola Lampung menghadapi agenda olahraga nasional, termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON).
Para pegiat sepak bola berharap pembangunan sepak bola tidak berhenti pada kehadiran klub profesional, tetapi dilanjutkan dengan pembinaan pemain muda, kompetisi berjenjang serta penguatan klub-klub lokal.
Junaedi menilai saat ini Lampung masih membutuhkan kerja bersama seluruh pihak untuk mewujudkan klub yang benar-benar menjadi representasi daerah.
“Untuk sementara kita masih bermimpi memiliki klub yang asli Lampung. Gambaran itu memang belum nampak,” ujarnya.
Diskusi tersebut akhirnya bermuara pada satu harapan: sepak bola Lampung tidak sekadar menjadi pasar bagi klub dari luar daerah, tetapi mampu melahirkan klub profesional yang tumbuh, bertahan dan membawa nama Lampung di pentas nasional.
Bhayangkara FC kini menjadi bagian dari gairah baru tersebut. Namun, bagi suporter dan masyarakat sepak bola Lampung, yang dibutuhkan bukan sekadar kehadiran klub untuk beberapa musim, melainkan kepastian, pembinaan dan warisan sepak bola untuk generasi berikutnya. (Ramona)









