Beberapa hari ini, viral protes jalan di Tulang Bawang (Tuba).
Lokasinya di Pasiran Jaya, Dente Teladas.
Kondisinya parah.
Kubangan air cokelat memenuhi seluruh badan jalan. Persis seperti rawa atau kolam lumpur.
Influenser Lampung, Bang Taun, tampil di depan.
Dengan rambut oranyenya, dia berlagak seperti pejabat meresmikan proyek besar.
Ada pita. Ada gunting. Di belakangnya, puluhan warga menonton dengan tawa getir.
”Dengan ini, jalan kubangan babi di Pasiran Jaya saya resmikan sebagai kolam renang masyarakat,” serunya.
Kalimat itu disambut riuh tepuk tangan. Dia berterima kasih kepada Bupati.
Katanya, ini fasilitas luar biasa agar warga tidak perlu jauh-jauh cari tempat liburan.
Cukup di depan rumah. Bisa mandi lumpur. Bisa maskeran gratis.
Begitu pita dipotong, warga langsung nyebur. Mereka bergulung-gulung di lumpur.
Ada yang pura-pura berenang gaya bebas. Ada yang telentang sambil tertawa terbahak-bahak.
Aksi ini jelas sebuah tamparan keras. Nampaknya warga bosan menggu pemimpinnya peduli. Mereka memilih jalur komedi agar dapat perhatian.
Memang agak mengherankan. Tuba sejak 2022 dipimpin seorang birokrat senior. Penuh pengalaman. Harusnya punya kemampuan di atas rata-rata dalam membangun daerah.
Ia menjabat Penjabat Bupati Tuba sejak 18 Desember 2022. Sempat mundur untuk Pilkada 2024.
Setelah menang, ia kembali memimpin hingga kini memasuki tahun kedua sebagai bupati definitif.
Artinya hampir 4 tahun ia memegang kendali.
Namanya Drs. Hi. Qudratul Ikhwan, M.M.
Birokrat tulen. Sejumlah jabatan mentereng pernah diembannya.
Mulai dari Kepala Biro Perekonomian, Kaban Kesbangpol, hingga Pj. Bupati Pesisir Barat.
Pernah jadi Kadis Perhubungan, Kadis Pariwisata, hingga Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Provinsi Lampung.
Dengan jam terbang sepanjang itu, persoalan jalan rusak harusnya bukan lagi keluhan utama.
Dari sisi pengalaman, Qodratul lebih dari cukup. Dari sisi waktu, hampir 4 tahun adalah durasi yang panjang.
Dari sisi anggaran pun Tuba lumaian besar. APBD Tuba tahun 2023 sekitar Rp1,4 Triliun. Tahun 2024 di angka sekitar Rp1,3 Triliun. Tahun 2025 sekitar Rp1,3 Triliun, dan 2026 ini sekitar Rp1,2 Triliun.
Potensi daerahnya juga luar biasa. Tuba adalah lumbung pangan. Menghasilkan 414.448 ton padi pada 2024. Menyumbang 15,2% produksi padi provinsi.
Singkongnya mencapai 565.912 ton.
Ada kebun tebu raksasa. Ada produksi sawit 62.140 ton dan karet 37.542 ton.
Sektor peternakan juga juara. Populasi kerbau menyumbang 23,9% dari total di Lampung.
Lantas mengapa persoalan jalan begitu tertinggal?
Angka kemantapan jalan Tuba hanya 20,28%. Ini angka terendah se-Lampung. Masih kalah jauh dibanding Way Kanan (24,07%) atau Mesuji (29,35%).
Ini benar-benar mengusik akal sehat. Apa yang menjadi prioritas pembangunan Qodratul selama ini? Kemana dia selama hampir empat tahun memimpin?
Rakyat sampai harus mandi lumpur demi mendapat perhatian.
Apa tidak malu dengan rentetan jabatan mentereng?
Jalan adalah urat nadi ekonomi. Jika jalan hancur, potensi besar Tuba bisa turut tenggelam dalam lumpur jalan..Wallahu a’lam bish-shawab. (*)










Komentar