oleh

Petani Lampung ‘Cuan’ Berkat Bed Dryer Mirza

Harianpilar, com. Bandarlampung-  ​Program digitalisasi dan modernisasi pertanian yang diinisiasi oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui penyaluran bantuan mesin pengering (bed dryer), kini mulai membuahkan hasil nyata di berbagai pelosok daerah.

Teknologi tepat guna ini terbukti menjadi solusi krusial dalam mengatasi persoalan klasik petani terkait cuaca, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi desa-desa di Provinsi Lampung.

​Di Kecamatan Suoh, Lampung Barat, kehadiran mesin pengering ini membawa perubahan signifikan pada pola tanam dan produktivitas. Para petani yang sebelumnya sangat bergantung pada sinar matahari, kini mampu melakukan panen minimal tiga kali dalam setahun tanpa khawatir terkendala proses pengeringan saat musim penghujan.

Selain mempercepat durasi kerja, alat ini memungkinkan petani mengatur kadar air secara presisi untuk menghasilkan kualitas beras terbaik, yang pada akhirnya meningkatkan daya saing produk lokal di pasar.

​Manfaat serupa dirasakan oleh Kelompok Tani Siphe Handayani 6 di Desa Braja Caka, Lampung Timur. Ketua kelompok tani, Muskriono, mengungkapkan bahwa efisiensi yang ditawarkan mesin ini berdampak langsung pada stabilitas harga.

Gabah yang dikeringkan menggunakan mesin memiliki kualitas yang lebih stabil dibandingkan jemur manual, sehingga harga jual di tingkat petani mengalami kenaikan yang menggembirakan.

Hal ini menjadi angin segar bagi kemandirian kelompok tani melalui unit usaha pengolahan pasca-panen yang lebih modern.

​Sementara itu, di Kabupaten Tanggamus, pengoperasian bed dryer telah menyentuh level profesional dengan kapasitas besar. Kelompok Tani Sido Bangun di Desa Sidomoro telah mengoperasikan mesin berkapasitas 18,3 ton yang dilengkapi sistem kontrol panel modern serta dukungan generator set mandiri untuk mengantisipasi gangguan listrik.

Di wilayah yang sama, BUMDes Gemilang Pekon Wonosobo juga mencatatkan keberhasilan teknis yang impresif, di mana kadar air gabah yang semula 30 persen berhasil ditekan hingga standar ideal 14 persen dalam waktu singkat, menjadikan komoditas mereka memenuhi standar kualitas pasar nasional.

​Transformasi ekonomi paling mencolok terlihat di Desa Wonomarto, Lampung Utara. Melalui BUMDes Swa Desa Artha Mandiri, mesin pengering bantuan pemerintah ini telah menjadi unit usaha unggulan yang meningkatkan nilai tambah komoditas secara drastis.

Sebagai gambaran, harga jagung yang biasanya dijual basah di kisaran Rp3.600 hingga Rp3.900 per kilogram, kini melonjak hingga Rp6.500 per kilogram setelah melalui proses pengeringan.

Fasilitas ini bahkan telah melayani permintaan dari luar daerah, termasuk pengolahan singkong menjadi gaplek yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

​Rangkaian keberhasilan di berbagai kabupaten ini menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat posisi daerah sebagai lumbung pangan nasional.

Integrasi teknologi pasca-panen ini diharapkan tidak hanya berhenti pada mesin pengering, tetapi terus bersinergi dengan alat mesin pertanian lainnya serta bimbingan teknis dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Dengan hilirisasi pertanian yang merata hingga tingkat desa, optimisme terhadap kesejahteraan petani dan kemandirian pangan di Provinsi Lampung kini semakin nyata dan berkelanjutan.(*)