Jika berkomunikasi denganya, saya selalu dengan bahasa Lampung pesisir.
Kebetulan saya berasal dari Ranau OKU Selatan, berbatasan langsung dengan Lampung Barat (Lambar).
Bahkan OKU Selatan dan Lambar berbagi satu danau yang sangat indah, namanya Danau Ranau. Jadi secara budaya dan bahasa banyak kesamaan.
Ia tipikal pendengar, juga pendebat yang kritis.
Saat berbincang untuk hal-hal yang politis, dia menunjukkan tipikal politis humoris. Berpolitik riang gembira.
Maka tak heran, nyaris tak ada gesekan politik yang keras dengan siapapun.
Tapi, ketika bicara soal rakyat, dia menunjukkan posisi yang jelas keberpihaknya pada rakyat kecil. Mungkin itu karena dia kader tulen PDI Perjuangan.
Ya, dialah Parosil Mabsus. Akrab disapa PM.
Lulusan FKIP Unila. Sempat jadi guru honorer. Lalu garisan tangannya membawa ke politik.
Bukan setahun dua tahun. Dia duduk di DPRD Lampung Barat (Lambar) tiga periode. Sejak 2004 hingga 2017.
Kematang dan pengalamaan di legislatif, membuka jalannya maju Pilkada Lambar. Terpilih. Jadi Bupati.
Sekarang, dia sedang menuntaskan periode keduanya.
Lompatan karirnya memang tak biasa. Tapi ini bukan simsalabim. Bukan karena semata karpet merah yang digelar.
Ada proses berjenjang. Ada keringat perjuangan. Ada ketekunan.
Itu yang membuatnya matang secara emosional. Matang secara pandangan.
Tak bisa ditampik, dia terjun ke politik mengikuti jejak sang kakak, Mukhlis Basri (MB). Tapi PM berproses dengan caranya sendiri. Ditempa keadaan. Bukan hasil instan.
Belakangan, dia digoreng habis oleh netizen. Gara-gara potongan video soal anggaran.
Sejatinya dia bicara realita. Pembangunan hari ini terbatas karena anggaran berkurang banyak. Hampir semua daerah merasakan hal yang sama.
Tapi begitulah dunia digital. Video dipotong. Konteksnya hilang. Netizen memang kreatif, tapi kadang lupa bijak.
Lalu dibandingkan dengan daerah lain. Seolah-olah Lampung Barat jalan di tempat. Seolah-olah PM hanya beralasan.
Padahal, mari jujur sedikit saja. Lihat datanya. Lihat faktanya.
Di bawah kepemimpinan PM, Lampung Barat justru banyak menjalankan program yang menyentuh hal paling fundamental.
Program seragam gratis misalnya. Lambar satu-satunya daerah di Lampung yang berani menggratiskan seragam SD dan SMP.
Sederhana? Memang. Tapi tidak bagi orang tua yang kesulitan uang sekolah, itu adalah hal yang sangat disyukuri.
Ada juga beasiswa kedokteran. PM ingin putra daerah jadi dokter spesialis. Mengabdi di tanah kelahiran sendiri.
Lalu, ada program Satu Keluarga Satu Sarjana. Ini cara cerdas memutus rantai kemiskinan. Lewat pendidikan.
Literasi dan budaya juga diperkuat. Gedung Budaya berdiri megah. PM membawa Lambar jadi daerah berkomitmen sebagai Kabupaten Literasi bukan sekadar jargon.
Soal infrastruktur? PM fokus pada urat nadi. Jalan penghubung antar pekon. Antar kecamatan. Tujuannya satu, distribusi hasil bumi lancar. Terutama kopi.
Lihat bagaimana dia memuliakan petani kopi. Lambar adalah lumbung Robusta. PM tak ingin petani hanya jadi penonton. Sekolah Kopi didirikan. Edukasi dari hulu ke hilir. Petani diajari petik merah. Belajar roasting. Festival Kopi digelar. Promosi sampai nasional. Hilirisasi digerakkan. UMKM kopi lokal menjamur.
Keuntungan tak lagi lari ke tengkulak. Tapi balik ke kantong rakyat.
Dari beberapa program itu saja. Hasilnya mulai terasa. Kualitas manusia meningkat. Dokter lahir dari desa. Sarjana muncul dari pelosok. Petani kopi kini lebih ahli.
Ini bukti PM sedang membangun fondasi. Agar Lambar bisa mandiri. Berdiri tegak di atas kaki putra-putri daerahnya sendiri.
Itulah perjuangan. Itulah cara membangun fundamental daerah.
Meski kadang disalahpahami, bukti tak pernah ingkar janji.
Tapi, risiko jadi pemimpin di era digital, memang harus kuat-kuat mental. Karena jempol netizen kadang lebih cepat dari sambaran petir.
Tetap semangat dan selamat bertambah usia PM. Semoga makin sabar menghadapi netizen, dan tetap fokus bekerja untuk rakyat.
Karena yang bisa mematahkan keraguan, adalah kerja nyata yang manfaatnya dirasakan saat ini atau kelak di masa mendatang…Wallahu a’lam bish-shawab. (*)









