Harianpilar.com, Bandar Lampung – Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penyusunan Rencana Kontingensi SAR sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi gempa bumi megathrust yang dapat berdampak besar terhadap wilayah Provinsi Lampung dan sekitarnya.
Kegiatan yang berlangsung di Swiss-Belhotel Bandarlampung ini dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso, serta diikuti unsur TNI-Polri, BPBD, instansi pemerintah, akademisi, relawan, dan organisasi kemanusiaan.
Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso menegaskan bahwa penyusunan rencana kontingensi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak bencana megatrust di Provinsi Lampung,”Kita tidak bisa memprediksi kapan bencana datang, tapi kita bisa mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Rencana kontingensi ini akan menjadi panduan operasional bagi seluruh unsur sehingga dapat bergerak secara cepat, tepat, terpadu dan terkoordinasi,” ujarnya.
Dengan adanya rencana kontingensi ini, Basarnas melalui Kantor SAR Lampung berharap sistem kesiapsiagaan di Provinsi Lampung semakin kuat, terpadu, dan terkoordinasi.
Seperti diketahui Lampung memiliki potensi nyata akan terjadinya gempa bumi megathrust, terutama dari segmen zona subduksi di Selat Sunda dan di sepanjang pantai barat Sumatera. Ancaman ini dianggap serius oleh pihak berwenang seperti BMKG dan Basarnas, yang telah melakukan langkah-langkah antisipasi dan penyusunan rencana kontingensi bencana.
Meski belum ada metode yang bisa memprediksi waktu akan terjadi, tapi sudah diketahui zona megathrust Selat Sunda diperkirakan berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan yang sangat besar, mencapai magnitudo 8,7 hingga 8,9. Gempa sebesar itu berpotensi kuat memicu gelombang tsunami. Beberapa prediksi menyebutkan tinggi tsunami di wilayah pesisir Lampung bisa mencapai 4 hingga 8 meter, atau bahkan hingga 20 meter dalam skenario terburuk, yang dapat berdampak katastrofik.
Wilayah terdampak mencakup seluruh wilayah pesisir Lampung, termasuk Kota Bandar Lampung, berpotensi terdampak langsung, baik oleh guncangan gempa maupun oleh tsunami jika terjadi.
Meskipun belum ada teknologi yang dapat memprediksi kapan tepatnya gempa akan terjadi, pemerintah daerah dan lembaga terkait (BPBD, Basarnas, BMKG) telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui penyusunan rencana kontingensi SAR (Search and Rescue). Edukasi dan imbauan kepada masyarakat pesisir untuk tetap siaga dan memahami jalur evakuasi. Memastikan kondisi sensor gempa di Lampung dalam keadaan aman dan berfungsi baik untuk pemantauan dini. (*)









