oleh

Proyek Dinas PUPR Waykanan Diduga “Cacat Sejak Lahir”

Harianpilar.com, Waykanan – Sejumlah proyek milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Waykanan tahun 2024 diduga “cacat sejak lahir”. Hal itu terlihat dari proses awal atau proses tendernya yang sudah terindikasi sarat masalah.

Indikasi itu nampak dari penawaran hampir semua pemenang tender hanya turun 0,2 persen sampai 0,3 persen dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS), indikasi itu semakin kuat karena peserta tender yang hampir selurunya sama dan bergantian menjadi pemenang tender.

“Kalau pemenang tender penawarannya hanya turun 0,2 persen dari HPS maka percuma saja dilaksanakan tender. Tender itu tujuannya agar pemerintah bisa mendapatkan pelaksana terbaik dengan harga termurah, sehingga pelaksanaan proyek bisa efektif dan efesien. Kalau inikan aneh, sudah penawarannya hanya turun sedikit tapi kualitasnya tetap buruk,” cetus Koordinator Aliansi Komunitas Aksi Rakyat (Akar) Lampung, Indra Musta’in, pada Harian Pilar Senin (27/10).

Menurut Indra, terungkapnya tender sejumlah proyek Dinas PUPR Waykanan yang mayoritas penawaran pemenang tender hanya turun 0,2 persen sampai 0,3 persen dari HPS dan pesertanya mayoritas sama serta bergantian jadi pemenang mengindikasikan proyek-proyek itu sudah cacat sejak lahir. Dan hal itu kecil kemungkinan terjadi karena kebetulan.

“Penawaran semua pemenang tender 7 proyek itu hanya turun 0,2 persen sampai 0,3 persen. Terus pesertanya sama semua dan gantian jadi pemenang. Jadi wajar kalau muncul dugaan sejak awal atau sejak lahir sudah terindikasi cacat. Mungkin gak tender seperti itu terjadi karena kebetulan, bukan di kondisikan? Ini pertanyaan dasarnya dan aparat penegak hukum (APH) harusnya lebih peka melihat masalah ini,” ujar Indra.

Menurut Indra, masalah yang terjadi pada tender proyek Dinas PUPR Waykanan itu kecil kemungkinan terjadi karena kebetulan. Sebab jumlah proyek yang tendernya terindikasi bermasalah banyak.”Kecuali kalau yang tender seperti itu hanya satu atau dua paket saja, masuk akal kebetulan. Kalau inikan hampir semua proyek bernilai besar di Dinas PUPR Waykanan tahun 2024 tendernya seperti itu semua, maka wajar kalau muncul dugaan itu karena dikondisikan bukan kebetulan,” tegasnya.

Tender yang bermasalah itu, lanjutnya, juga mempengaruhi pelaksanaan di lapangan yang amburadul. “Pada tahap tender saja sudah terindikasi bermasalah, maka wajar jika pelaksanaanya juga amburadul,” terang Indra.

Diberitakan sebelumnya, pelaksanaan sejumlah proyek tahun 2024 milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Waykanan diduga kuat sarat penyimpangan. Bahkan “borok” proyek bernilai fantastis tapi berkualitas murahan itu sudah terjadi dari proses tender hingga pelaksanaan dilapangan.

Dalam proses tender proyek-proyek ini diduga kuat sarat masalah. Hal itu terlihat dari nilai penawaran semua pemenang tender kurang dari satu persen atau rata-rata hanya turun 0,1 sampai 0,3 persen dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS), indikasi tender sarat “mainan” semakin terlihat dari peserta tender yang hampir selurunya sama dan bergantian menjadi pemenang tender.

Proyek-proyek itu diantaranya proyek Peningkatan dan Rekonstruksi Jalan Sp. Andalas – Talang Plastik dengan HPS Rp17.035.244.185 tendernya di menangkan PT. Alvin Akbar Kontruksindo dengan penawaran Rp16.985.933.305 hanya turun Rp49.310.880 atau hanya 0,2 persen dari HPS.

Kemudian, proyek peningkatan dan rekonstruksi Jalan Sp. Zainal – Air Melintang dengan HPS Rp4.999.485.396, giliran CV.Nuansa yang menjadi pemenang tender dengan penawaran Rp4.981.981.600 hanya turun Rp17,5 juta atau hanya 0,3 persen dari HPS.

Selanjutnya, proyek peningkatan Jalan Sp. Sumamukti-Bumi Dana (DBH Sawit 2023) dengan HPS Rp6.512.311.788, giliran CV. Ratu Artha Jasa yang menjadi pemenang dengan penawaran Rp6.492.110.400 hanya turun Rp20,2 juta atau hanya 0,3 persen dari HPS.

Begitu juga pada proyek pembangunan Jembatan Way Besay Kampung Gedung Batin pad Ruas Gedung Jaya – Gedung Batin dengan HPS Rp17.999.018.573 tendernya dimenangkan PT. Bora Bora Teknik Indonesia dengan penawaran Rp17.976.450.000 hanya turun Rp22,4 juta atau hanya 0,1 persen dari HPS.

Proyek pembangunan Jalan Lancar Jaya/Talang Kemis – Air Melintang dengan HPS Rp13.218.381.880 tendernya dimenangkan Prima Indo Persada dengan penawaran Rp13.176.978.500 hanya turun Rp41,4 juta atau hanya 0,3 persen dari HPS.

Proyek peningkatan dan Rekonstruksi Jalan Sp. Gunung Katun – Tanjung Ratu (Lanjutan) dengan HPS Rp15.435.657.086 tendernya dimenangkan PT. Haberka Mitra Persada dengan penawaran Rp15.389.292.900 hanya turun Rp46,3 juta atau hanya 0,3 persen dari HPS.

Selain terlihat dari semua penawaran pemenang tender yang hanya turun 0,1 hingga 0,3 persen dari HPS, indikasi tender proyek-proyel ini bermasalah sangat terlihat dari peserta tender mayoritas sama dan bergantian menjadi pemenang, yakni PT.Belibis Jaya Group, PT. Haberka Mitra Persada, PT. Alvin Akbar Konstruksindo, CV Tebing Mlinting Perdana, CV.Rahmat Jaya Abadi, CV.Nuansa, PT. Anugrah Putra Kuwarasan Properti, CV.Putra Bahuga, Prima Indo Persada, CV.Hasrat Murni, CV. Muara Kebun, CV. Ratu Artha Jasa.

Indikasi penyimpangan proyek ini juga terjadi pada pelaksanaan dilapangan yang secara kualitas maupun kuantitas sangat buruk. Seperti proyek peningkatan dan rekonstruksi Jalan Sp. Andalas – Talang Plastik meski menghabiskan anggaran hingga Rp16,9 Miliar namun kualitasnya sangat buruk. Proyek yang dikerjakan PT. Alvin Akbar Konstruksindo ini sudah banyak berlubang besar, bergelombang bahkan terdapat banyak bagian aspal yang sudah mengelupas hingga tanah terlihat.

Kondisi tak jauh berbeda juga terjadi pada proyek peningkatan dan Rekonstruksi Jalan Sp. Gunung Katun – Tanjung Ratu (Lanjutan). Meski menelan anggaran hingga Rp15,4 Miliar proyek yang dikerjakan PT. Haberka Mitra Persada juga sudah mengalami kerusakan. Bahkan, sangat terlihat lapisan material aspal jalan ini sangat tipis dan mulai mengalai kerusakan seperti retak-retak dan berlubang.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Waykanan, Saptama, saat di konfirmasi mengatakan bawah proyek-proyek itu sudah selesai masa pemeliharaan dan sudah ada temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).”Temuan BPK sudah di kembalikan. “Yang proyek Simpang Andalas sudah lunas pengembalian temuan BPK-nya. Yang Gunung Katun tinggal sedikit lagi,” ungkapnya.

Disinggung berapa total temuan BPK proyek-proyek itu, Saptama mengaku lupa. Namun, Ia memastikan temuan BPK sudah dikembalikkan.”Saya lupa jumlahnya, tapi sudah di kembalikkan,” ungkapnya.(*)