Harianpilar.com, Bandarlampung – Upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat Lampung dikemas dengan cara yang berbeda. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama Transmedia menghadirkan Lampung Financial Festival 2026, sebuah festival yang memadukan edukasi keuangan, inspirasi kewirausahaan dan hiburan.
Digelar pada 5–6 September 2026 di Novotel Bandar Lampung, festival ini menghadirkan sejumlah tokoh publik dan musisi untuk menyampaikan pesan-pesan edukasi keuangan dengan kemasan yang lebih menarik dan mudah diterima masyarakat.
Chairman Transmedia, Chairul Tandjung, mengatakan konsep festival sengaja dibuat berbeda agar edukasi keuangan tidak terkesan kaku dan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Tujuan acara memberikan edukasi kepada masyarakat terkait literasi keuangan, untuk meningkatkan literasi keuangan Provinsi Lampung,” kata Chairul Tandjung dalam konferensi pers di Novotel Lampung, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pengetahuan (knowledge), tetapi juga pengalaman yang menyenangkan. Karena itu, unsur hiburan sengaja dipadukan dengan materi edukasi dalam satu rangkaian acara.
“Pokoknya, acara kita buat semenarik mungkin. Selain knowledge, kita juga adakan hiburan,” ujarnya.
Pada hari pertama, masyarakat akan diajak mendengarkan pengalaman Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dalam membangun usaha. Kisah perjalanan dari dunia hiburan menuju dunia bisnis diharapkan dapat memberikan inspirasi mengenai kewirausahaan sekaligus pengelolaan keuangan.
Sementara pada hari kedua, Giring Ganesha akan berbagi pengalaman mengenai anak muda dan dunia kewirausahaan.
Tak berhenti pada sesi edukasi, festival juga dimeriahkan penampilan Charly Setia Band, King Nassar, band lokal dan sejumlah bintang tamu lainnya.
“Semua nanti akan memberikan edukasi tentang literasi keuangan,” kata Chairul.
Pemilihan Lampung sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, mengungkapkan tingkat literasi keuangan Lampung masih sedikit berada di bawah rata-rata nasional.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen. Sementara masyarakat yang mengetahui secara spesifik mengenai LPS di tingkat lokal, termasuk Lampung, tercatat sekitar 50,31 persen.
“Angka literasi keuangan Lampung ini tergolong cukup baik, meskipun posisinya masih sedikit berada di bawah rata-rata nasional terbaru, yaitu 69,57 persen,” ujar Anggito.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan Lampung dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan festival.
“Artinya Lampung masih di bawah rerata nasional. Ini yang menjadi alasan kenapa Lampung jadi lokasi Lampung Financial Festival,” katanya.
LPS juga membidik kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai sasaran utama edukasi. Kelompok ini dinilai penting karena merupakan generasi yang mulai mengenal produk dan layanan keuangan serta menjadi pengguna rekening sejak usia muda.
“Sasaran kami siswa, mahasiswa, karena mereka para pengguna rekening awal. Ini target kami,” ujar Anggito.
Festival yang menggabungkan edukasi dan hiburan ini terbuka untuk masyarakat umum dan gratis. Hingga Jumat (4/9/2026), pihak penyelenggara mencatat lebih dari 2.000 orang telah mendaftarkan diri.
Perwakilan penyelenggara, Wahyu Daniel, mengatakan masyarakat yang sudah mendaftar dapat langsung mengikuti acara. Sedangkan masyarakat yang belum melakukan pendaftaran tetap dapat mendaftar di lokasi.
Selain menghadirkan artis dan musisi, rangkaian kegiatan juga diisi Business Talks & Policy Dialogue, Educational Class dan Inspirational Talks yang menghadirkan pemangku kebijakan, regulator, pimpinan perbankan nasional serta tokoh inspiratif.
Chairul Tandjung menegaskan, Transmedia sebagai penyelenggara bersama LPS ingin memastikan festival tidak sekadar menjadi panggung hiburan.
“Acara ini bisa memberi manfaat untuk masyarakat Lampung,” tegasnya.
Dengan konsep edukasi dikemas entertainment, Lampung Financial Festival diharapkan mampu membuat isu literasi keuangan yang selama ini identik dengan seminar dan diskusi formal menjadi lebih dekat, menarik dan mudah dipahami masyarakat. (Ramona).










Komentar