Harianpilar.com,Bandarlampung – Inovasi kecerdasan buatan (AI) dari Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya berhasil menembus hibah penelitian nasional. Kolaborasi dosen Program Studi Sistem Informasi Unggul dan mahasiswa Program Magister Teknik Informatika (MTI) Unggul IIB Darmajaya tersebut meraih hibah penelitian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI Tahun 2026.
Riset yang digarap mengusung tema “Pengembangan Early Warning System Akademik Berbasis Random Forest sebagai Mitigasi Dini Drop Out Mahasiswa.”
Penelitian dipimpin Dr. Sutedi, S.Kom., M.T.I., dosen Program Studi Sistem Informasi IIB Darmajaya, dengan melibatkan Dzaki Al Hafiz, mahasiswa Program Magister Teknik Informatika, sebagai anggota tim.
Kolaborasi tersebut menjadi bukti sinergi dosen dan mahasiswa dalam mengembangkan inovasi teknologi yang diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di dunia pendidikan.
Sutedi mengatakan, penelitian ini berangkat dari persoalan mahasiswa yang mengalami putus studi atau drop out di berbagai perguruan tinggi.
Selama ini, mahasiswa yang memiliki risiko putus studi kerap baru teridentifikasi setelah persoalan akademiknya berkembang. Akibatnya, ruang untuk melakukan intervensi dan pendampingan menjadi semakin terbatas.
“Melalui penelitian ini kami ingin menghadirkan sistem yang mampu memberikan peringatan dini kepada dosen wali maupun ketua program studi mengenai mahasiswa yang berpotensi mengalami drop out. Dengan begitu, pendampingan akademik dapat dilakukan lebih cepat sehingga peluang mahasiswa menyelesaikan studinya juga semakin besar,” ujar Sutedi, dalam siaran persnya, Rabu (12/8/2026).
Sistem yang dikembangkan memanfaatkan Early Warning System (EWS) berbasis algoritma Random Forest, salah satu metode machine learning yang digunakan untuk melakukan klasifikasi data.
Sistem nantinya memanfaatkan sejumlah data akademik mahasiswa, seperti indeks prestasi, tingkat kehadiran dan riwayat akademik untuk memetakan tingkat risiko mahasiswa secara lebih akurat.
Dengan sistem tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat memperoleh informasi lebih awal mengenai mahasiswa yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Pendekatan ini memungkinkan intervensi dilakukan sebelum persoalan akademik berkembang menjadi risiko putus studi.
Selain menghasilkan prototype system, penelitian tersebut memiliki sejumlah target luaran. Di antaranya publikasi pada jurnal nasional terakreditasi minimal SINTA 2, menghasilkan hak cipta (HAKI) untuk perangkat lunak yang dikembangkan serta meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) hingga level 3.
Sutedi berharap penelitian tersebut tidak berhenti sebagai proyek akademik, tetapi dapat menjadi solusi bagi perguruan tinggi dalam meningkatkan retensi mahasiswa dan memperkuat tata kelola akademik berbasis data.
“Teknologi kecerdasan buatan seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, tetapi juga mampu menjawab tantangan di dunia pendidikan. Kami berharap sistem ini dapat membantu kampus mengambil keputusan secara lebih cepat, akurat, dan berbasis data sehingga semakin banyak mahasiswa yang dapat menyelesaikan studinya tepat waktu,” pungkasnya. (Ramona)










Komentar