Sesekali kita ngomongin sepak bola. Momentumnya pas, mumpung demam Piala Dunia 2026 masih melanda.
Saya tergerak menulis ini meski bukan pengamat yang paham taktik. Saya melihat ada pelajaran besar yang bisa kita petik. Dan kalau kata anak muda sekarang, relate dengan kehidupan sehari-hari diluar urusan sepakbola.
Pelajaran terbesar itu datang dari Tim Nasional (Timnas) Prancis. Menurut saya, kekalahan Mbape dan kwn2nya itu kekalahan tragis.
Bukan hanya karena timnas Prancis sangat diunggulkan melaju ke final, bahkan digadang-gadang menjadi juara Piala Dunia 2026. Mengingat ada rekam jejak 4 kali masuk final pildun.
Tapi karena timnas Prancis juga timnas dengan materi pemain yang paling mahal. Dengan total nilai pasar mencapai angka fantastis sekitar €1,52 miliar (sekitar Rp28,9 triliun).
Inilah mengapa menurut saya, kekalahan Prancis saat menghadapi Spanyol di Stadion AT&T, Texas adalah sesuatu yang tragis.
Bagi saya yang awam ini, kekalahan Prancis berakar dari keangkuhan internal, khususnya dari sang megabintang Kylian Mbappe dan sang pelatih.
Perang dingin yang melibatkan Mbappe ini, berujung pada keputusan pelatih untuk memarkir NGolo Kante di bangku cadangan sepanjang turnamen.
Puncaknya, tidak memainkan Kante semenit pun dalam laga krusial melawan Spanyol. Sebuah kesalahan fatal yang harus dibayar mahal dengan kegagalan menuju partai puncak.
Itulah mengapa menurut saya, Prancis tersingkir bukan karena kalah materi pemain, melainkan karena keangkuhan yang menyia-nyiakan benteng tertangguh mereka.
Saya coba membaca beberapa artikel tentang Kante, juga menonton kembali video pertemuan Timnas Prancis dan Spanyol sebelum pildun.
Dalam pertandingan itu, terlihat jelas Kante sukses mengobrak-abrik lini tengah Spanyol. Kekuatan fisik, kecepatan lari, dan intensitas tinggi Kante terbukti efektif merusak dominasi Spanyol.
Sayangnya, sebuah formula matang yang sudah teruji itu justru dikesampingkan begitu saja.
Kesalahan semakin fatal ketika pelatih tetap bersikeras dengan egonya hingga semifinal. Keputusan itu jelas menciptakan celah besar yang sudah dipelajari Spanyol.
Tanpa kehadiran Kante sebagai perusak alur, Spanyol begitu leluasa mendikte permainan dan mengalirkan bola dengan nyaman.
Kekalahan menyakitkan ini menjadi bukti sahih, bahwa menyingkirkan pemain yang secara historis mampu meredam permainan lawan, adalah keputusan bunuh diri atas nama ego.
Padahal, dalam banyak literatur, sosok Kante adalah tipikal pesepak bola yang sangat rendah hati, sederhana, dermawan, jauh dari drama, religius, dan yang paling mengagumkan. Kante adalah pesepak bola besar yang nyaris tanpa pembenci.
Maka, ketika Kylian Mbappe dan pelatih Timnas Prancis bergesekan dengannya, maka masalahnya jelas bukan pada Kante.
Di luar urusan sepak bola, fenomena keangkuhan sering kali mirip dengan dinamika pelatih Prancis dan pemain yang dianakemaskan itu.
Baik dalam kekuasaan, politik, bisnis, termasuk pergaulan sehari-hari. Orang-orang dengan pengalaman matang, loyalitas tinggi, atitute bagus dan rekam jejak teruji, kerap disingkirkan oleh ego dan pertimbangan pragmatis sesaat.
Namun, ketika kekalahan datang dan kehancuran melanda, akibatnya ditanggung oleh semua orang. Celakanya, jarang ada yang mau menyadari bahwa keangkuhan dan egoisme itulah yang menjadi penyebab utama semua kekacauan.
Semoga kita bisa memetik pelajaran. Agar hal seperti ini tidak terjadi di kehidupan. Karena penyesalan setelah kehancuran, adalah kesia-siaan… Wallahu a’lam bish-shawab.(*)










Komentar