Pemerhati Pembangunan
Dari Pesisir Barat hingga Kota Agung, Lampung punya stok yellowfin tuna, lemadang, dan marlin berlimpah.
Sayangnya, kata Aswin Tama, pengusaha muda yang kerap memancing di laut dalam, ikan-ikan premium itu hanya berhenti di pengepul dermaga lalu dikirim ke Jakarta.
“Nelayan belum menikmati nilai tambah. Mimpi mereka adalah koperasi yang langsung ekspor,” ujarnya.
Rantai Pendek, Nilai Hilang
Pola lama ini membuat Lampung sekadar pemasok bahan mentah. Surplus ekonomi lebih banyak dinikmati pelaku usaha di Jakarta dan Surabaya. Tanpa pengolahan dan akses pasar sendiri, posisi tawar nelayan tetap rendah.
Teori Berlian Porter yang Patah
Dalam kerangka keunggulan kompetitif Michael Porter, Lampung memiliki faktor kondisi alam (sumber daya) tetapi lemah di strategi perusahaan, industri pendukung, dan permintaan lokal. Tanpa rantai dingin, sertifikasi mutu, dan koperasi kuat, berlian daya saing kita retak.
Koperasi sebagai Jalan Keluar
Konsolidasi lewat koperasi dapat menjadi mesin kolektif: menjaga standar mutu, mengurus sertifikasi HACCP, hingga mengakses offtaker global.
Namun butuh pendampingan manajemen dan teknologi penyimpanan. “Kami butuh pelatihan penanganan ikan ekspor dan dukungan pemerintah,” tambah Aswin.
Tren Global dan Harapan
Data KKP menunjukkan Indonesia pemasok utama tuna sirip kuning dunia. Permintaan pasar Jepang, AS, dan Eropa terus naik. Menteri Kelautan pun gencar mendorong hilirisasi dan korporatisasi nelayan. Lampung harus merebut momentum ini.
Mimpi ekspor langsung bukan utopia. Jika ekosistem pendukung pembiayaan, infrastruktur dingin, pendampingan mutu terbangun, yellowfin tuna, lemadang, dan marlin Lampung bisa menjadi bintang di piring dunia.(*)









Komentar