oleh

Polemik LCC Viral, Adab Debat Jadi Sorotan

Harianpilar.com, Bandarlampung – Polemik viral Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI di Kalimantan Barat memantik perhatian luas publik. Perdebatan mengenai keputusan juri, kualitas argumentasi peserta, hingga transparansi penilaian menjadi sorotan tajam di media sosial.

Akademisi sekaligus Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM Lampung, Hasbullah, menilai fenomena tersebut tidak boleh dianggap sekadar keributan biasa. Menurutnya, polemik itu mencerminkan krisis etika debat dan menurunnya kepercayaan publik terhadap objektivitas penilaian dalam sebuah kompetisi pendidikan.

“Kita hidup di zaman ketika semua orang ingin berbicara, tetapi sedikit yang mau mendengar. Semua merasa paling benar, tetapi jarang yang bersedia memahami sudut pandang orang lain,” ujar Hasbullah dalam siaran persnya, Senin (8/5).

Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu itu menegaskan bahwa debat sejatinya merupakan ruang pendidikan untuk melatih cara berpikir sistematis, menyusun argumentasi, menghormati lawan bicara, serta menerima perbedaan pendapat secara dewasa.

Namun, menurutnya, esensi tersebut mulai memudar. Debat kini sering dipahami sebagai arena menyerang lawan demi kemenangan formal dan popularitas, bukan mencari kebenaran bersama.

Padahal, lanjutnya, dalam tradisi intelektual Islam, debat memiliki adab yang luhur. Ia mengutip QS. An-Nahl ayat 125 yang memerintahkan agar perdebatan dilakukan dengan cara yang paling baik.

Hasbullah juga menyoroti derasnya kritik di media sosial yang kerap kehilangan batas etika. Potongan video singkat dianggap mewakili keseluruhan peristiwa, sementara komentar publik berubah menjadi hujatan dan perundungan digital.

“Media sosial memberi ruang kepada semua orang untuk bersuara, tetapi tidak semua suara lahir dari pengetahuan yang utuh. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi ledakan emosi daripada kedalaman argumentasi,” katanya.

Ia menilai, polemik tersebut seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama bagi penyelenggara lomba, dewan juri, peserta, hingga masyarakat. Sistem penilaian harus lebih transparan dan profesional, sementara kritik publik perlu diarahkan menjadi kritik yang membangun, bukan sekadar melampiaskan kemarahan.

Mengutip pesan Imam Syafi’i, Hasbullah menegaskan bahwa debat sejati bukanlah arena mempertahankan ego, melainkan ruang mencari kebenaran bersama.

“Pendidikan bukan sekadar mencetak manusia yang pandai berbicara, tetapi juga mampu menjaga adab, menghormati perbedaan, dan menghadirkan keteduhan di tengah kegaduhan,” pungkasnya. (Ramona)

Komentar