Harianpilar, com. Bandarlampung- Dari balik kesibukan melayani pasien di puskesmas, Asri menjelma menjadi motor penggerak pelestarian budaya. Istri prajurit TNI, Kopda Angga Dwi Ferdian dari Yonif 143/TWEJ Kodam II/Sriwijaya itu, sukses mengangkat kain tapis Lampung ke panggung yang lebih modern tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Di balik seragam putihnya sebagai bidan, Asri menenun mimpi melalui helai-helai benang emas khas tapis—warisan budaya Lampung yang sarat filosofi. Tahun 2023 menjadi titik balik ketika ia memutuskan melanjutkan usaha keluarga yang telah dirintis sejak 1992.
“Saya ingin tetap produktif dari rumah dan membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan peran sebagai ibu dan istri,” ujar Asri dalam siaran persnya, Rabu (8/4).
Berbekal modal awal sekitar Rp20 juta, Asri merintis UMKM Asri Tapis Lampung dari nol. Ia tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga melakukan terobosan dengan memadukan tapis dan batik menjadi produk fesyen yang lebih fleksibel—bisa dikenakan dalam suasana formal maupun santai.
Langkah inovatif ini menjadi jawaban atas tantangan zaman, di mana kain tradisional kerap dianggap terbatas pada acara adat. Di tangan Asri, tapis hadir lebih modern tanpa kehilangan makna filosofisnya sebagai simbol kehormatan dan perjalanan hidup masyarakat Lampung.
Dukungan pun mengalir dari lingkungan Persit. Ketua Daerah XXI/Radin Inten memberikan apresiasi atas kiprah Asri dalam mengembangkan usaha berbasis budaya.
“Ini bukan sekadar usaha, tetapi juga bentuk pelestarian warisan budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Kini, usaha yang digeluti Asri terus berkembang. Tujuh tenaga kerja telah direkrut untuk mendukung produksi. Ia juga aktif dalam program Ajang Persit Bisa 2, yang semakin memperluas jejaring dan peluang pasar.
Tak sekadar mengejar keuntungan, Asri memiliki misi lebih besar: menjaga eksistensi tapis di tengah generasi muda. Ia ingin membuktikan bahwa kain tradisional mampu bersaing dengan produk modern, bahkan menjadi identitas kebanggaan daerah.
Dari ruang puskesmas hingga ruang produksi, Asri menunjukkan bahwa perempuan mampu menjalankan banyak peran sekaligus. Di tangannya, tapis bukan hanya kain—melainkan simbol ketekunan, keberanian, dan upaya menjaga jati diri Lampung di tengah arus modernisasi. (Ramona)









