Harianpilar.com, Lampung Timur – Seorang narapidana di Rutan Kelas II B Sukadana Lampung Timur melarikan diri. Pihak rutan meminta bantuan Polres Lampung Timur untuk menangkap kembali napi tersebut.
Adapun identitas narapidana tersebut bernama Wildan. Ia dikatakan merupakan narapidana atas kasus penggelapan sepeda motor.
Kepala Rutan Kelas IIB Sukadana M Jawad Cirry membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan peristiwa kaburnya Wildan terjadi pada Kamis (5/3/2026) pagi. “Benar, peristiwa nya Kamis kemarin,” katanya kepada detikSumbagsel, Sabtu (7/3/2026).
Jawad menyebutkan Wildan adalah narapidana yang dijatuhi vonis kurungan 2 tahun penjara. “Vonisnya 2 tahun, sisa 1 tahun lebih. Wildan ini tamping (tahanan pendamping),” ungkapnya.
Saat ini, kata Jawad, pihaknya berkoordinasi dengan jajaran Kanwil Ditjenpas Lampung serta Polres Lampung Timur untuk melakukan pengejaran terhadap Wildan.
“Saat ini kami masih melakukan upaya pengejaran, kami sudah meminta bantuan ke polres juga dan sudah melaporkan ke Kanwil,” jelasnya.
“Tim juga sudah mendatangi pihak keluarganya untuk memberikan informasi jika memang mengetahui keberadaan yang bersangkutan dan meminta mereka bersikap kooperatif,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala Pengamanan Rutan (KPR ) Sukadana Mario Filie melalui voice note yang diterima media ini membenarkan kejadian tersebut. “Iya, informasinya begitu, dia merupakan Tamping kebersihan luar dengan kasus penggelapan Motor”, ucap Mario Filie. (06/03/26)
Lebih Lanjut Mario menyampaikan bahwa Petugas beserta tim sedang berupaya mencari keberadaan napi yang melarikan diri. “Ini kami bersama tim sedang berupaya mencari keberadaanya, itu informasi sementara”, tambahnya.
Saat wartawan media ini menghubungi KPR melalui pesan Whatsapp dan telepon pribadinya guna mempertanyakan kronologi atas kaburnya Napi tesebut. Belum ada jawaban dari Mario Filie.
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun, Wildan dipercaya menjalankan pekerjaan kebersihan di area luar blok tahanan. Namun pada satu titik pengawasan, keberadaannya tidak lagi terpantau oleh petugas. Peristiwa ini seketika memicu pencarian internal oleh petugas rutan. “Ini kami bersama tim sedang berupaya mencari keberadaannya. Itu informasi sementara,” tambah Mario.
Dalam praktik pemasyarakatan, napi yang dipercaya menjadi tamping biasanya telah melalui proses penilaian perilaku. Namun dalam sejumlah kasus, kepercayaan tersebut kadang berubah menjadi celah yang dimanfaatkan untuk kabur.
Hingga berita ini diturunkan, pihak rutan belum memberikan penjelasan detail terkait kronologi lengkap kaburnya Wildan, termasuk bagaimana sistem pengawasan bisa kecolongan. Upaya konfirmasi lanjutan kepada Mario Filie melalui pesan WhatsApp maupun panggilan telepon belum mendapatkan respons. (rls)









