oleh

Kredit Lampung Tumbuh 4,7 Persen, Tertinggal dari Nasional dan Sumbagsel

Harianpilar.com,  Bandar Lampung – Kinerja perbankan di Provinsi Lampung hingga Triwulan IV 2025 menunjukkan pertumbuhan kredit sebesar 4,7 persen atau mencapai Rp111,98 triliun. Angka tersebut masih berada di bawah pertumbuhan nasional sebesar 9,63 persen dan di bawah rata-rata Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) yang tumbuh 8,08 persen.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung Otto Fitriandi menyampaikan, meski tumbuh positif, akselerasi kredit Lampung memang relatif lebih moderat dibandingkan regional maupun nasional.

“Total kredit perbankan di Lampung mencapai Rp111,98 triliun atau tumbuh 4,7 persen. Ini memang masih di bawah nasional yang 9,63 persen dan Sumbagsel 8,08 persen. Namun dari sisi kualitas, kredit kita tetap terjaga,” ujar Otto dalam paparan kinerja Industri Jasa Keuangan Triwulan IV 2025 di Ballroom Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Selasa (3/3/2026).

Dari total penyaluran Rp111,98 triliun, kredit modal kerja tercatat Rp54,14 triliun (tumbuh 2,75 persen), kredit investasi Rp18,03 triliun (3,34 persen), dan kredit konsumsi Rp39,83 triliun yang justru tumbuh paling tinggi 8,14 persen.

Secara regional, kredit Sumbagsel mencapai Rp454,82 triliun dengan pertumbuhan 8,08 persen, ditopang lonjakan kredit investasi 18,01 persen. Sementara secara nasional, total kredit menembus Rp8.585,9 triliun.

Otto mengakui pertumbuhan kredit investasi di Lampung masih relatif stagnan dibanding wilayah lain. “Kredit investasi perlu kita dorong karena itu yang berdampak langsung pada ekspansi usaha dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.

Dari sisi kualitas kredit, rasio NPL gross Lampung berada di angka 2,36 persen atau sebesar Rp2,64 triliun, sedikit lebih tinggi dibanding NPL nasional 2,05 persen dan Sumbagsel 2,03 persen. Meski demikian, NPL net masih terkendali di 1,08 persen.

“Rasio NPL kita masih dalam batas aman, meski ada kecenderungan meningkat di 2025. Ini menjadi perhatian agar intermediasi tetap sehat,” tegas Otto.

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Lampung tercatat Rp71,01 triliun atau tumbuh 4,6 persen. Tabungan menjadi penopang utama sebesar Rp41,85 triliun, disusul deposito Rp19,62 triliun dan giro Rp9,53 triliun.

Sebagai perbandingan, DPK nasional tumbuh 13,83 persen menjadi Rp10.059 triliun, sementara Sumbagsel tumbuh 6,89 persen menjadi Rp288,17 triliun.

Kredit UMKM di Lampung memang meningkat dari Rp25,4 triliun pada 2021 menjadi Rp34,7 triliun di 2025. Namun laju pertumbuhannya melambat tajam, dari 15,39 persen (2021) menjadi hanya 2,40 persen pada 2025. Nominal NPL UMKM juga menunjukkan tren kenaikan dalam tiga tahun terakhir.

“UMKM tetap menjadi fokus. Kita siapkan penguatan ekosistem pembiayaan, termasuk kebijakan hapus tagih piutang macet UMKM dan kemudahan akses pembiayaan,” jelas Otto.

Penyaluran KUR sepanjang 2025 tercatat Rp10,51 triliun dengan 191.848 debitur, didominasi sektor pertanian sebesar Rp6,45 triliun atau 62,55 persen.

Secara wilayah, penyaluran kredit terbesar masih terkonsentrasi di Kota Bandar Lampung yang mencapai 38,60 persen dari total kredit. Pertumbuhan tertinggi tercatat di Lampung Timur (21,95 persen), sementara dua daerah mengalami kontraksi yakni Mesuji dan Tulang Bawang Barat.

Ke depan, OJK menargetkan pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 10–12 persen secara nasional. Untuk Lampung, OJK akan mendorong penguatan modal, tata kelola risiko, kemudahan pembiayaan UMKM, serta dukungan terhadap program prioritas pemerintah.

“Kami optimistis dengan penguatan sektor produktif dan proyek strategis daerah, pertumbuhan kredit Lampung dapat meningkat dan lebih kontributif terhadap ekonomi daerah,” pungkas Otto. (Ramona).