oleh

Jalan

​Saya mencoba menebak-nebak. Meraba-raba. Menerka-nerka. Jalan mana saja yang paling banyak dikeluhkan warga.

Terutama di media sosial. Di mana jempol lebih cepat dari sambaran petir. Tapi itu lebih jujur daripada laporan ABS.

​Saya menghimpun informasi itu dengan cara sederhana.

Menggunakan Google Trends, CrowdTangle, hingga field intelligence.

Hasilnya? Daftarnya panjang.

​Di Lampung Tengah, ruas Bandarjaya–Mandala, Kalirejo–Bangunrejo, hingga Padangratu–Kalirejo.

Di Pringsewu, ada ruas Kalirejo–Pringsewu.

Di Lampung Timur, ada Jabung–Labuhan Maringgai.
​Tak berhenti di sana.

Di Tulang Bawang, ada Gedongaji–Umbul Mesir.

Mesuji punya Brabasan–Wiralaga.

Di Way Kanan, Kasui–Air Ringkih dan Tegal Mukti–Tajab.

Bahkan di jantung ibukota, Bandar Lampung, Jalan R.E. Martadinata masih dikeluhkan.

Pun akses Tol Itera di Lampung Selatan, Simpang Korpri–Purwotani.

Ruas-ruas ini jalur vital. Jalur warga menuju puskesmas. Rumah sakit. Sekolah. Pasar. Jalur para petani mengangkut hasil bumi.

Jalur ini benar-benar urat nadi. Tempat di mana keringat dan rupiah berbaur menjawab harapan setiap warga.

Jalur yang mempertemukan pundi-pundi rupiah dengan sesuap nasi.

​Penyebutan jalan-jalan ini tinggi di media sosial bukan sekadar viral. Itu adalah jeritan.

​Tapi, hari ini, saya ingin mengajak kita semua menarik napas sedikit lebih lega.

Ada kabar gembira dan kabar melegakan.

Saya sampaikan kabar gembiranya dulu.

​Ruas-ruas jalan yang selama ini wara wiri di beranda media sosial itu, kini masuk daftar prioritas untuk di perbaiki di tahun 2026 ini.

Pemerintah Provinsi Lampung dibawah kepemimpinan Gunernur Rahmat Mirzani Djausal (RMD) memilih berdiri bersama rakyat.

Ini bukti pemimpin kita mendengarkan suara rakyatnya.

​RMD memberi instruksinya ke Dinas BMBK. Perintahnya jelas dan tegas. Akselerasi. Percepat. Jangan biarkan rakyat menunggu lebih lama lagi.

Tentu, kita harus waras dalam berekspektasi.

Membangun jalan bukan seperti sulap atau membalik telapak tangan.

Ini menggunakan uang rakyat. Ada mekanisme yang harus dijalankan. Ada aturan yang harus diikuti agar tidak jadi masalah hukum di kemudian hari.

Gubernur memerintahkan percepatan, tapi tetap dalam koridor aturan yang lurus.

Kita ingin jalan yang bagus, sekaligus kepemimpinan yang taat aturan.

​Jika kita cermati lebih dalam, ini adalah soal keberpihakan hati.

Di tengah anggaran yang terbatas. Yang harus dibagi untuk sekolah dan rumah sakit.

Pemprov Lampung juga mengutamakan aspirasi publik yang paling pedih.

Bukan sekadar menampung, tapi langsung mengeksekusi secara konkret.

Sekarang saya sampaikan kabar melegakkannya.

Yang paling melegakkan, kita saat ini memiliki pemimpin yang tidak reaktif, tidak emosional, dan tidak mengaku-ngaku preman saat mendapat kritik.

Tidak menantang-nantang balik rakyatnya, saat rakyatnya menjerit.

Dan kita saat ini di pimpin Gubernur yang tetap tersenyum saat ada cibiran. Dan selalu mendengarkan jerit rakyatnya.

Yang paling menyejukkan, dia lebih memilih ke masjid saat gundah. Memilih mengadu ke pada Tuhan dari pada menuding-nuding yang mengkritiknya.

​Inilah bedanya memiliki pemimpin muda dan visioner yang kaya pengalaman. Dia tau cara paling bijak menjadi pemimpin.

Mereka tidak antik terhadap viralitas yang pahit. Bagi mereka, keluhan warga adalah suara yang harus di dengar, bukan gangguan.

​Bekerja cepat. Mau mendengar. Dan yang paling penting tidak membiarkan rakyatnya merasa berjuang sendirian.

​Satu per satu, aspirasi itu mulai dijawab dengan kerja nyata. Satu per satu, jalan itu mulai diperbaiki.

Karena pada akhirnya, pemimpin yang baik adalah dia yang tidak hanya sibuk menghitung angka di atas kertas, tapi juga peka merasakan suara hati terdalam rakyatnya…Wallahu a’lam bish-shawab.(*)