oleh

Ekonomi Rayap

​Mumpung lagi libur panjang, kita sejenak menepi dari ngomngin urusan yang bikin kening berkerut.

Kita bicara yang agak bernas sedikit, hitung-hitung olahraga otak di hari santai.

​Setiap awal Februari sebenarnya momen spesial bagi saya.

Tapi jujur, saya sering lupa. Maklum, sejak kecil saya tidak punya tradisi merayakan ulang tahun.

Tumbuh besar di dekat Danau Ranau, setiap hari gembiranya seperti ulang tahun.

Jadi awal Februari bagi saya ya hari biasa saja. Meski itu hari ulang tahun.

​Namun, selalu ada kawan yang mengingatkan itu. Di luar anak dan istri, yang paling rajin memberi ucapan adalah salah satu kawan lama. Dia tinggal di Bandung. Alumnus ITB. Dia pelahap buku yang rakus.

Seperti umumnya orang yang kenyang bacaan, pikirannya luas dan diskusinya dalam.

​Dia tahu saya suka membaca, meski tak segila dirinya. Itu sebabnya di rak buku saya, koleksi yang bagus-bagus rata-rata adalah pemberiannya.

Termasuk awal Februari kemarin, sebuah pesan WhatsApp masuk: ” Selamat ultah ya. Kirim alamat rumah. U harus baca buku ini. Karya kawan-kawan yang sudah keliling Indonesia. Isinya bagus,” tulisnya.

​Beberapa hari lalu, paket itu tiba. Judulnya #ResetIndonesia.

Ditulis oleh jurnalis-jurnalis kawakan Dandhy Laksono dan Farid Gaban,
serta dua jurnalis muda Yusuf Priambodo Benaya Harobu.

Nama Dandhy langsung mengingatkan saya pada buku Jurnalisme Investigasi yang dulu sempat saya baca.

​Saat membaca #ResetIndonesia, sampai pada Bab 2, mata saya tertahan pada subjudul Blue Donut, Anyone? Mazhab-mazhab Ekonomi Alternatif.

Tulisan itu mengulas tentang ekonomi biru.

​Selama ini, telinga kita mungkin lebih akrab dengan ekonomi hijau.

Konsep yang digadang-gadang sebagai ekonomi ramah lingkungan.

Tapi dalam praktiknya, ekonomi hijau sering kali menuai kritik karena dianggap tetap merusak lingkungan dan berbiaya mahal.

​Contoh sederhananya, kendaraan listrik. Katanya solusi polusi, tapi baterainya butuh tambang nikel yang harus menggali perut bumi secara masif.

Belum lagi harganya yang selangit. Ekonomi hijau, seringnya, hanyalah ekonomi kelas atas yang butuh subsidi besar agar terlihat ramah.

Di sinilah ekonomi biru masuk sebagai jawaban yang lebih masuk akal.

Teori ini baru populer sekitar 2010. Meski sejatinya teori ini sudah ada sejak 1994.

Pada tahun itu, Gunter Pauli, seorang pengusaha asal Belgia, diminta oleh PBB untuk memikirkan model bisnis masa depan yang tidak merusak lingkungan untuk persiapan protokol Kyoto.

Pauli mendirikan ZERI (Zero Emissions Research and Initiatives). Di sini, ia mulai merumuskan bahwa masalah utama ekonomi modern adalah limbah.

Ia berargumen bahwa dalam alam, tidak ada yang namanya sampah. Limbah dari satu spesies adalah makanan bagi spesies lain.

Begitu teori awalnya.

Teori ekonomi biru mulai banyak dikenal setelah Pauli menerbitkan bukunya yang fenomenal The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs.

Pauli memilih warna biru untuk membedakannya dengan ekonomi hijau. Menurutnya, ekonomi hijau seringkali mahal karema membutuhkan subsidi dan investasi tinggi agar ramah lingkungan.

​Sementara ekonomi biru bertujuan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya lebih sedikit, menggunakan bahan lokal, dan meniru cara kerja ekosistem alam.

​Inspirasi Pauli ini datang dari hal-hal luar biasa di alam. Misalnya, bagaimana jamur tumbuh subur hanya dari limbah kopi.

Atau yang paling unik, bagaimana rayap mengatur sirkulasi udara di sarangnya agar tetap sejuk tanpa butuh bantuan AC.

​Karena itulah, agar lebih mudah diingat, saya lebih suka menyebutnya ekonomi rayap.

​Ini adalah model ekonomi yang bekerja selaras dengan alam, efisien, pakai apa yang ada di depan mata, dan tidak menyisakan sampah yang merusak.

Kini, konsep ini mulai jadi tren dunia, bahkan didorong di forum-forum besar seperti G20.

​Pemerintah daerah pun sudah saatnya mulai menginternalisasi ekonomi biru dalam kebijakan dan program pembangunan.

Misalnya, setiap pengadaan barang harus punya komponen daur ulang atau bahan lokal yang tinggi.

Membangun gedung harus memikirkan agar sikulasi udara baik, sehingga bisa mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Pemerintah cukup jadi dirigen yang mengatur agar limbah dari satu sektor bisa mengalir jadi berkah bagi sektor lainnya.

​Membaca buku kado dari kawan ini membuat saya sadar. Mungkin sudah saatnya kita berhenti merusak alam atas nama perbaikan.

Kita perlu belajar kembali pada alam.

Belajar pada cara hidup rayap. Ya, rayap.

Makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan dan perusak, tapi ternyata punya cara hidup yang jauh lebih beradab terhadap semesta…Wallahu a’lam bish-shawab. (*)