Harianpilar, com. Bandarlampung – Provinsi Lampung menorehkan capaian penting di awal tahun 2026. Tingkat inflasi Januari tercatat 1,9 persen, terendah di Sumatera dan masuk 10 provinsi dengan inflasi terendah secara nasional, menandai keberhasilan pemerintah daerah menjaga stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok.
Capaian positif tersebut terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin langsung Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian, Senin (9/2). Pemerintah Provinsi Lampung mengikuti rapat secara daring dari Ruang Command Center, diwakili Staf Ahli Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Politik Achmad Saefulloh.
Dalam paparannya, Mendagri menyampaikan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11 persen (year on year), sementara inflasi nasional berada di angka 3,55 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Tito menegaskan keseimbangan inflasi tetap menjadi kunci agar kepentingan konsumen dan produsen dapat berjalan seiring.
Ia menjelaskan, inflasi tahunan Januari 2026 terutama dipicu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 15,22 persen, khususnya emas perhiasan, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 11,93 persen. Kenaikan tarif listrik terjadi karena berakhirnya subsidi 50 persen bagi pelanggan 2.200 VA ke bawah yang masih berlaku pada Januari–Februari 2025.
Namun demikian, secara month to month, kondisi nasional justru menunjukkan deflasi sebesar -0,15 persen pada Januari 2026, setelah sebelumnya inflasi 0,64 persen pada Desember. Deflasi terutama disumbang kelompok makanan dan minuman (-1,03 persen) serta transportasi (-0,46 persen), menandakan harga relatif terkendali.
Sejalan dengan tren nasional, Lampung mencatat kinerja pengendalian harga yang sangat baik. Indeks Perubahan Harga (IPH) Lampung pada Minggu I Februari 2026 turun -0,08 persen, mencerminkan stabilnya pasokan dan distribusi komoditas strategis.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, inflasi nasional yang relatif tinggi pada Januari dipengaruhi Low Base Effect, terutama akibat penyesuaian tarif listrik. Ia memproyeksikan kondisi tersebut akan kembali normal pada Maret–April 2026.
Pada periode yang sama, dari 40 provinsi, 22 provinsi mengalami penurunan IPH, termasuk Lampung, yang didorong oleh turunnya harga cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Capaian ini menegaskan sinergi Pemerintah Provinsi Lampung bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga. Dengan inflasi rendah dan stabil, Lampung semakin mengukuhkan diri sebagai provinsi dengan iklim ekonomi yang kondusif dan berkelanjutan. (Ramona).









