oleh

Awal 2026 Lampung Deflasi 0,07 Persen

harianpilar, com. Banadarlampung –Provinsi Lampung mencatat deflasi 0,07 persen (month to month/mtm) pada Januari 2026. Capaian ini berbalik arah dibandingkan Desember 2025 yang mengalami inflasi 0,59 persen, sekaligus menandai terkendalinya tekanan harga pada awal tahun.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi Lampung lebih rendah dibandingkan deflasi nasional yang mencapai 0,15 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat 1,90 persen (year on year/yoy), jauh di bawah inflasi nasional sebesar 3,55 persen.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung menilai deflasi tersebut terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi, seperti cabai merah, bawang merah, cabai rawit, bensin, dan jeruk.

Deputi Direktur KPw BI Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menyampaikan bahwa melimpahnya pasokan hortikultura menjadi faktor utama penahan tekanan inflasi di awal tahun.

“Deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh peningkatan pasokan cabai merah dan cabai rawit yang memasuki masa panen di beberapa sentra produksi, serta turunnya harga bawang merah dan penyesuaian harga BBM non-subsidi,” ujar Achmad P. Subarkah dalam keterangan resminya.

Ia menjelaskan, cabai merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,25 persen, disusul bawang merah minus 0,12 persen dan cabai rawit minus 0,06 persen. Sementara dari kelompok nonpangan, penurunan harga bensin turut menahan inflasi.

Meski demikian, deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama emas perhiasan, serta beberapa sayuran seperti tomat, kangkung, dan bayam. Kenaikan harga emas dipengaruhi tren harga global dan ketidakpastian ekonomi dunia, sedangkan harga sayuran naik akibat gangguan produksi karena curah hujan tinggi.

Ke depan, Bank Indonesia optimistis inflasi Lampung tetap terkendali.

“Kami memprakirakan inflasi Provinsi Lampung pada 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen. Namun, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri,” kata Achmad.

Risiko tersebut antara lain penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP), peningkatan mobilitas masyarakat, potensi gangguan panen akibat fenomena La Nina lemah, serta dinamika harga energi dan pangan global.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Lampung terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, termasuk melalui operasi pasar, penguatan kerja sama antar daerah, serta perbaikan distribusi dan infrastruktur logistik. (*)