Oleh: Mico P
Masih belum hilang dari memori publik. Pernyataan dari mulut besar itu,”Jangankan lima ribu, lima puluh ribu orang suruh mengerahkan, saya tidak akan gentar!”
Itu pernyataan Gagah. Berani. Sekaligus Jemawa.
Itu kalimat yang keluar dari mulut besar Bupati Pati, Sudewo, saat rakyatnya menjerit karena Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dinaikkan gila-gilaan sampai 250 persen.
Saat rakyat mau demo, dia menantang. Dia pasang badan bak benteng yang tak bisa ditembus. Tapi hari ini, benteng itu runtuh bukan oleh massa demonstran. Bukan oleh Yayak Gundul yang disebutnya dalam tantangan itu. Benteng itu runtuh oleh kedatangan tim KPK yang menyusup senyap.
Sekarang, masihkah Pak Bupati tidak gentar? Atau nyalinya mendadak ciut saat tangan tak lagi memegang palu kekuasaan, melainkan terborgol?
Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) ini seperti membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat oleh arogansi. Kita dipaksa melihat sebuah drama ironi yang memuakkan.
Bayangkan, di satu sisi dia memeras keringat rakyat lewat kenaikan pajak dengan dalih demi honorer dan perbaikan jalan. Narasi yang dibangun seolah-olah dia adalah pahlawan anggaran yang sedang menyelamatkan daerah.
Tapi di sisi lain, dia justru tertangkap tangan dalam dugaan laku lancung memakan uang haram. Ini namanya munafik kelas wahid.
Rakyat disuruh ikat pinggang bayar pajak, pejabatnya malah sibuk melonggarkan celana untuk menampung upeti.
Jejak kotor ini sebenarnya bukan barang baru. Aroma tak sedap soal kasus jalur kereta api saat dia masih di Senayan sudah lama tercium. Tapi mungkin karena merasa “sakti”, lolos dari pemakzulan DPRD, dia merasa di atas angin.
Tapi dia lupa, sepandai-pandainya tupai melompat atau sekeras-kerasnya pejabat menantang, akhirnya jatuh ke lubang bui juga.
Sudewo adalah contoh sempurna dari pepatah lama: Mulutmu, harimaumu.
Arogansi kekuasaan seringkali memabukkan. Merasa diri raja kecil yang tak tersentuh. Meremehkan suara rakyat yang dianggap cuma angin lalu. Lupa bahwa doa rakyat yang terzalimi itu punya jalur ekspres menembus langit atau setidaknya, menembus radar penyadapan KPK.
Kejadian di Pati ini harus jadi cermin retak bagi kepala daerah lain. Jangan main-main dengan amanah. Jangan petantang-petenteng menantang rakyat sendiri.
Pak Sudewo, Anda boleh saja membatalkan kenaikan pajak setelah didemo. Anda boleh minta maaf di depan massa saat terdesak. Tapi integritas yang sudah tergadai tak bisa ditebus dengan materai sepuluh ribu.
Saat ini, rakyat Pati mungkin tersenyum kecut. Sang penantang akhirnya tumbang. Bukan di medan perang, tapi di ruang periksa.
Selamat menikmati “penginapan” baru, Pak Bupati. Di sana, Anda tak perlu gentar menghadapi 50 ribu massa. Cukup gentar menghadapi hati nurani sendiri. Itu pun kalau masih punya…Wassalam.









