oleh

Population Clock Diluncurkan

Harianpilar.com, Bandarlampung – Pj. Gubernur Lampung Samsudin membuka Seminar Kependudukan dan Grand Launching Population Clock sekaligus menjadi Keynote Speech, bertempat di Auditorium Institut Teknologi Sumatera (Itera), Jum’at (11/10).

Memgawali sambutannya, Pj. Gubernur Samsudin merasa kagum dengan kampus Institut Teknolgi Sumatera dan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan seminar kependudukan yang merupakan inisiasi BKKBN Provinsi Lampung, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Lampung dan Institut Teknologi Sumatera.

“Saya baru pertama kali masuk di ITERA ternyata sungguh menakjubkan, saya sangat bangga hadir dalam kegiatan seminar kependudukan penguatan program Bangga Kencana tahun 2024, tentunya ini adalah upaya untuk mengoptimalisasikan bonus demografi dan peningkatan SDM menuju Indonesia emas tahun 2045,” ungkapnya.

Samsudin menyampaikan upaya dan langkah-langkah pemerintah Provinsi Lampung dalam mengoptimalkan bonus demografi dan peningkatan Sumber Daya Manusia yang berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Sesuai arahan Presiden, Samsudin mengatakan bahwa Pembangunan Keluarga adalah pondasi utama tercapainya kemajuan bangsa.  Generasi yang sehat, produktif dan berkualitas adalah Tujuan Program Bangga Kencana menuju Indonesia Emas 2045 (100 tahun Indonesia Merdeka).

Menurutnya, rata-rata angka kelahiran total per wanita usia subur harus tetap dikendalikan. Karena angka kelahiran ini berkaitan erat dengan kualitas Kesehatan Ibu dan Anak, Kesejahteraan keluarga, dinamika kependudukan, dan Stunting.Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia, Angka Nasional Prevalensi Stunting tahun 2023 sebesar 21,5. Turun sebesar 0,1% dibandingkan tahun 2022 sebesar 21,6%.

Penurunan stunting 2023 tersebut belum cukup menggembirakan jika dibandingkan dengan target sebesar 18%. Prevalensi stunting Provinsi Lampung mengalami penurunan di atas rata-rata nasional, yaitu 0,3 dari 15,2% (2022) menjadi 14,9% (2023).

Oleh karena itu, Pj. Gubernur mengatakan bahwa percepatan penurunan stunting 2024, perlu dioptimalkan sebagai upaya pendampingan dengan memperhatikan beberapa hal seperti fokus pada sasaran Keluarga Beresiko Stunting (KRS) khususnya Ibu Hamil dan Baduta (Bayi Bawah Dua Tahun). Pendampingan Calon Pengantin sebagai bentuk intervensi spesifik dan sensitif. Penguatan kelembagaan koordinasi dan fungsi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) disetiap tingkatan (Kecamatan dan Desa/Kelurahan). Memperkuat Kolaborasi lintas sektor untuk melakukan operasional di akar rumput/lini lapangan. Mengoptimalkan peran Tim Pendampingan Keluarga (TPK) dalam pelaksanaan pendampingan keluarga.(Ramona)