Oleh: Citra Agustina Wulandini, S.Pd.
Harianpilar.com, Bandarlampung – DIMANA bumi dipijak disitu langit dijunjung. Mungkin peribahasa itulah yang tepat digunakan untuk mendeskripsikan betapa pentingnya budaya sebagai dasar pembentuk kepribadian manusia.
Dimana kita menjejakkan kaki maka disitu pulalah kita wajib menghargai adat istiadat budaya setempat. Lebih dari itu, kita hendaknya mampu menjaga dan turut melestarikan kearifan lokal tersebut.
Untuk membentuk kepribadian manusia yang baik di kalangan masyarakat, pendidikan nasional harus dilandasi oleh kebudayaan nasional.
Sedangkan kebudayaan nasional sendiri berakar pada kebudayaan daerah. Secara sederhana, kita dapat memaknainya sebagai gagasan setempat yang bersifat orisinil, bijaksana dan tentunya memiliki nilai kebaikan untuk kemudian dijadikan suatu falsafah atau pandangan hidup bermasyarakat atau dikenal dengan istilah way of life.
Kearifan lokal telah memengaruhi tatanan hidup bermasyarakat di Indonesia pada pelbagai sendi. Tak terkecuali masyarakat daerah Lampung.
Dalam kehidupan sosial, orang Lampung menganut falsafah hidup yang dikenal dengan istilah Piil Pasenggiri atau secara harfiah berarti perbuatan manusia yang agung dan luhur.
Falsafah ini disarikan dari kitab kuno orang Lampung, Kuntara Rajaniti, Cepala Keterem dan kitab kuno lainnya.
Sebagai sebuah poros kehidupan, falsafah Piil Pasenggiri perlu diinventariskan, disebarluaskan, dan diperkenalkan kepada khalayak khususnya generasi Z yang bermukim di daerah Lampung sebagai pewaris nilai-nilai luhur yang kelak diharapakan menjadi generasi muda merdeka, cerdas, unggul, dan kompetitif namun tidak kehilangan jati dirinya
Terdapat empat unsur Piil Pasenggiri, yaitu juluk adek yang terdiri atas dua butir (melakukan pembaharuan dan pantas dijAdikan panutan), yang kedua nemui nyimah yang terdiri atas tiga butir (berperilaku baik, berproduksi, dan menjadi pelayan masyarakat), yang ketiga nengah nyappur terdiri atas lima butir (kaya ide, mampu berkomunikasi, mampu bersaing, berilmu, serta berketerampilan), yang terakhir sakai sambaian terdiri atas dua butir saja (mampu bekerjasama dan dapat dipercaya).
Adanya falsafah atau pandangan hidup yang baik, tidak serta-merta menjamin kearifan lokal ini kukuh menghadapi hantaman arus globalisasi yang menampilkan tatanan hidup pragmatis dan modern. Faktanya, era Industri 4.0 membawa perubahan signifikan terhadap cara pikir serta perilaku generasi Z yang menginginkan segala sesuatu serba instan.
Hal ini tentunya menjadi sebuah tantangan besar bagi bangsa Indonesia.
Konsep kehidupan pragmatis mulai merasuki diri generasi muda bahkan pelaku akademik di lingkungan sekolah menengah. Konsep ini merujuk pada pola perilaku seseorang yang lebih mengedepankan kepraktisan dibandingkan manfaat.
Mereka, para penganut paham pragmatis, memandang hasil akhir sebagai bagian paling penting dan mengesampingkan nilai-nilai filosofis budaya yang selama ini menjadi unsur vital kehidupan
Para pelajar yang memiliki sifat terlalu ambisius dalam berprestasi misalnya, memiliki tendensi untuk menghalalkan segala cara agar target mereka dapat tercapai.
Sebagai contoh, seorang siswa yang diberi tugas berkreasi membuat pola baru pada kain etnik saat pelajaran prakarya. Apabila Ia telah terbiasa dimanjakan oleh teknologi digital, mungkin saja lebih memilih meniru pola gambar yang sudah tersedia di laman internet atau media sosial, dibandingkan dengan membuat pola kreasi baru yang tentunya membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama.
Jika dibiarkan hal ini akan mematikan kreativitas dan imajinasi yang ada dalam diri siswa karena kehilangan kemampuan bernalar kritis saat proses pembelajaran.
Satu langkah yang diambil oleh para praktisi pendidikan guna mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggagas satu aksi nyata yang dikenal dengan istilah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam kurikulum merdeka.
Para pelaku akademik di berbagai sekolah menengah di Indonesia kini telah mengimplementasikannya di unit satuan kerja masing-masing.
SMP Negeri 16 Bandarlampung merupakan salah satu sekolah model yang secara konsisten melaksanakan kegiatan aksi nyata P5 demi mempersiapkan peserta didiknya menjadi pribadi yang kompeten dan berkarakter, unggul dan siap menghadapi tantangan hidup abad-21.
Pembelajaran abad-21 adalah pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan teknologi informasi.
Hal ini seiring sejalan dengan visi misi SMP Negeri 16, yaitu menjadi sekolah model berbudaya lingkungan, berakhlak mulia, unggul pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Para pelaku akademik SMP Negeri 16 menyadari bahwa mempelajari hal-hal diluar kelas dengan cara yang menyenangkan dapat membantu peserta didik memeroleh kecakapan hidup yang lebih baik, dibandingkan hanya berkutat dengan buku pelajaran di dalam kelas.
Dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik di lingkungan sekolah, maka pada projek P5 bulan April 2023 ini, SMP Negeri 16 memutuskan untuk memilih kearifan lokal sebagai tema projek mereka.
Nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah hidup orang Lampung diharapkan bisa diimplementasikan dengan baik kepada peserta didik saat melaksanakan projek.
Mula-mula, Para siswa kelas VII dan VIII dibagi menjadi beberapa kelompok belajar. Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang fasilitator untuk membimbing mereka di lapangan.
Bersama fasilitator, dalam hal ini guru yang telah ditunjuk mendampingi kelompok, siswa dibimbing untuk belajar membuat dekorasi khas Lampung Sai Batin, lidah (tirai) dan taplak meja.
Selama ini, para siswa hanya mengetahui desain atau pola hiasan rumah dengan tema modern. Sebut saja hiasan atau dekorasi rumah bernuansa Eropa klasik atau rustic.
Padahal sentuhan lokal tak kalah menariknya. Perpaduan kain beludru merah dan sulaman benang emas yang membentuk pola celugam (motif tradisional asal Lampung Barat) pada tirai dan taplak meja sungguh menarik jika terpasang pada dinding rumah atau gedung-gedung pertemuan.
Dahulu motif-motif ini hanya digunakan untuk upacara adat namun kini telah diaplikasikan di pelbagai produk kekinian. Selain itu beberapa motif khas Lampung seperti lalamban, puttut manggus, pipon, dan cumcok juga turut diajarkan kepada siswa.
Pembuatan dekorasi khas Lampung tidak bisa selesai secepat kilat ala Bandung Bondowoso. Dapat terselesaikan dalam waktu satu malam.
Butuh proses dan perjuangan panjang agar dapat terpasang indah di satu ruangan.
Mulai dari proses memotong kain sesuai ukuran yang diinginkan, mengkreasikan pola atau sketsa, hingga menyulam di atas kain yang telah bergambar pola.
Selama pelaksanaan projek, guru dan siswa juga diminta mendokumentasikan rangkaian kegiatan dalam bentuk foto dan video kemudian mengunggahnya ke berbagai sosial media semisal Instagram dan TikTok. Video Projek P5 ini kiranya dapat membuat kearifan lokal semakin dikenal luas sekaligus mempersuasi generasi muda untuk ikut melestarikannya.
Nilai yang terkandung dalam Piil Pasenggiri dalam unsur nengah nyappur butir kaya ide, mampu berkomunikasi, mampu bersaing, berilmu dan berketerampilan yang telah diimplementasikan oleh guru dan siswa diharapkan bisa melebur ke dalam diri mereka.
Pembiasaan ini jika terus dilakukan bukan tidak mungkin suatu hari menjadi kultur baik sekolah. Guru dan siswa tidak hanya mengenal khasanah lokal namun mampu memetik nilainya sebagai satu kecakapan hidup atau life skill.
Filosofi inilah yang hendak ditanamkan para pelaku akademik SMP Negeri 16 Bandarlampung kepada para peserta didik yang menjadi bagian dari generasi Z. Filosofi kehidupan yang mengajarkan arti kerja keras, dengan penuh kesabaran dan ketelitian mendayagunakan pikiran dan kreativitas untuk menghasilkan suatu karya.
Ingatlah bahwa pemikiran praktis itu baik namun ada hal lain yang tidak boleh kita abaikan, yaitu nilai manfaat yang bisa diperoleh selama proses menimba ilmu. Manfaat yang tak bisa diukur dengan harta benda. Karena hidup tak melulu menyoal materi. (*)








