oleh

Tujuh Kabupaten ‘Dikepung’ Banjir

Harianpilar.com, Lampung Utara – Tujuh kabupaten di Provinsi Lampung dalam sepekan ini diterjang banjir, setelah hujan deras yang mengguyur pada Rabu (8/3) malam hingga Kamis (9/3) pagi. Selain merendam ratusan rumah, akses jalan ikut terendam hingga memutus transportasi darat.

Tujuh daerah itu yakni, Tulang Bawang, Tulangbawang Barat, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Utara dan Way Kanan.

Catatan Harian Pilar, banjir di Lampung Utara menelan korban jiwa siswa SD. Banjir di Lampura menyebabkan 700 kepala keluarga (KK) dari enam kecamatan di Lampura terpaksa mengungsi lantaran harta benda ludes diterjang banjir.

Di Lampung Timur berada di Pasar Sukadana akibat air sungai meluap dan mengakibatkan tanggul jebol.

Untuk ketinggian debit air mencapai 70 sampai 80 cm. Terjadi penutupan akses jalan utama akibat genangan air.

di Kecamatan Tanjung Raja, Abung Tinggi, Kotabumi Selatan, Kotabumi Utara, Abung Timur, Abung Surakarta, Hulu Sungkai, dan Muara Sungkai.

Banjir di Tulang Bawang merendam sejumlah jalan lintas hingga puluhan rumah terendam banjir.

Di Lampung Barat, banjir bandang dan tanah longsor juga terjadi di Pekan (Desa) Sidomulyo, Kecamatan Pagar Dewa.

Banjir Lampung Tengah menyebabkan, empat rumah hanyut saat banjir menerjang Kampung Gunung Batin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai.

Banjir juga merendam bedengan milik pekerja Divisi 3 PT GMP (Gunung Madu Plantations) di Kampung Terbanggi Ilir, Kecamatan Bandar Mataram,

Di Kabupaten Lampung Utara, banjir merendam ratusan warga di Kecamatan Tanjung Raja, Abung Tinggi, Kotabumi Selatan, Kotabumi Utara, Abung Timur, Abung Surakarta, Hulu Sungkai, dan Muara Sungkai.

Banjir mengakibatkan jembatan putus, beberapa hewan ternak hilang, kolam pemancingan meluap, dan lahan pertanian hingga ratusan rumah warga terendam air.

Kepala Bidang ‎Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lampung Utara, Zulkarnaen‎ membenarkan, jumlah korban banjir mencapai ratusan kepala keluarga. Mereka tersebar di enam kecamatan yang ada.

‎”Kecamatan itu di antaranya adalah Kec‎amatan Kotabumi, Kotabumi Selatan, Abung Timur, Abung Selatan,” jelasnya.

Pihaknya juga telah menerjunkan para personilnya di lokasi bencana banjir. Mereka bertugas untuk membantu warga untuk mengevakuasi barang-barang berharga mereka, dan juga memantau perkembangan terkini setiap titik banjir.

“Kalau untuk bantuan, sudah mulai disalurkan sejak pertama kali banjir terjadi,” kata dia.‎‎

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Lampung Utara, Mikael Saragih menjelaskan, jumlah dana tidak terduga Pemkab Lampung Utara tahun ini hanya sebesar Rp3 miliar.

Dana ini salah satu kegunaannya untuk menangani bencana alam seperti yang sedang terjadi di sana.

Selama lima hari belakangan ini, Lampung Utara dilanda banjir dahsyat.

Sejumlah desa di enam kec‎amatan terendam banjir. Akibatnya, lebih dari 700 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Banjir kali ini menelan korban jiwa seorang siswa SD dan juga menyebabkan longsor.

“Dana tidak terduga yang dialokasikan tahun ini sebesar Rp3 miliar,” terangnya.

Dana tidak terduga ini memiliki banyak peruntukannya. Salah satu peruntukan utamanya ‎adalah untuk menangani bencana alam. Meski begitu, dana itu tidak dapat dicairkan jika instansi terkait tidak ada yang mengajukannya.

“Jadi, kalau enggak ada pengajuan, ya tidak bisa dicairkan,” kata dia.

Dari Kabupaten Tulangbawang (Tuba), puluhan hektare tanaman padi usia dua minggu di Kampung Way Dente, Kecamatan Denteteladas, Kabupaten Tulangbawang terendam banjir.

Petani hanya bisa pasrah, tanaman padi mereka mati jika dalam waktu dekat air tidak kunjung surut.

Sekretaris Gapoktan Kampung Waydente, Suren mengatakan, terdapat sekitar 50 hektare lahan sawah milik petani terendam banjir. Usia padi bervariasi sekitar 14 hari hingga 20 hari.

“Luas lahan satu hamparan sekitar 61 hektare yang terendam banjir 50 hektare di wilayah Kelompok Tani Harapan Makmur di Dusun Kampung Tua 1, Kampung Waydente,” kata Suren, Sabtu (11/3).

Nurohim salah satu petani kampung setempat, mengaku pasrah dengan musibah banjir yang telah merendam tanaman padi miliknya selama empat hari .

Banjirnya sudah dari Rabu kemarin. Airnya tinggi, tanaman padi sampai hilang(terendam) . Kalau petani seperti kami ini ya hanya mampu menerima keadaan, seperti apa adanya sambil menunggu air kering,” kata Nurohim.

Dia khawatir, jika dalam waktu dekat air tidak segera surut tanaman padi akan rusak dan mati. Faktor banjir selain curah hujan yang tinggi melanda di wilayah setempat, turut dipengaruhi aliran air yang tidak begitu lancar.

“Kalau satu mingguan ini air enggak kering, otomatis mati padinya. Masalahnya pembuangan airnya enggak sesuai dengan debit air yang datang dari atas, jadi lama keringnya,” katanya.

Dia bilang, untuk menggarap 1 ha lahan dibutuhkan modal Rp5 jutaan. Dana itu digelontorkan untuk menyiapkan lahan mulai dari membajak, membeli obat pestisida, bibit, dan upah menanam. (*)