oleh

Bertambah, Tiga Balita Suspek AKI

Harianpilar.com, Bandarlampung – Kasus suspek Progresif Atipikal/Atypical Progressive Acute Kidney Injury (AKI), yang menyerang Balita di Provinsi Lampung bertambah menjadi tiga orang.

Dari tiga pasien yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) ini, satu pasien kondisinya berangsur membaik, setelah dilakukan cuci darah melalui rongga perut.

Seiring dengan penaganan medis, satu pasien lainnya berhasil mengeluarkan urine.

“Hari ini ada penambahan dua pasien balita gagal ginjal akut. Jadi total penderita AKI tiga orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung DR.dr.Hj Reihana, M.Kes, Rabu (26/10).

Dijelaskan Reihana, dua penambahan pasien AKI masing-maisng  bayi berusia 11 bulan asal Bandarlampung dan bayi 8 bulan.

Dijelaskan Reihana, saat ini ini bayi suspek gagal ginjal akut tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Abdul Moeloek, sambil memantau hingga bayi dapat buang air kecil secara lancar.

“Sudah tiga hari ini belum buang air kecil. Kita masih melakukan pemeriksaan mendalam termasuk obat-obatan yang dikonsumsi sebelumnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Lampung juga menemukan adanya bayi suspek gagal ginjal akut. Bayi tersebut berusia 11 bulan asal Bandar Lampung. Seiring dengan penanganan medis, bayi tersebut berhasil mengeluarkan urine.

Sementara bayi yang terkonfirmasi mengidap gagal gijal akut dalam kondisi membaik usai dilakukan cuci darah yang dilakukan melalui rongga perut atau CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis).

“Kemarin sudah diCAPD. Saat ini kondisinya membaik walaupun masih belum mengeluarkan urine,” jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung terus melakukan kewaspadaan dini, terkait meninggalnya satu dari dua pasien Balita 11 bulan yang pertama kali dinyatakan positif ginjal akut Progresif Atipikal/Atypical Progressive Acute Kidney Injury (AKI), Sabtu (21/10).

Dinkes juga melakukan observasi serta penyelidikan epidemiologi (PE) terhadap kasus tersebut.

“Langkah yang diambil terhadap pasien AKI dengan melakukan penyelidikan epidemilogi,” kata Kadiskes Provinsi Lampung DR.dr, Hj Reihana, M Kes, saat dihubungi via telepon, Minggu (23/10).

Upaya ini menurut Reihana, sebagai upaya kewaspadaan dini dan respon cepat terhadap kasus AKI.

“Untuk kewaspadaan terus dilakukan surveillance,” ungkapnya.

Selain itu, kata Reihana, pihaknya juga telah mengambil sampel darah, urine terhadap pasien dengan gejala AKI.

“Pada pasien dengan gejala AKI diambil sampel darah, urine, swab nadopharunx dan swab rectal. Sampel akan dikirim ke Kemenkes untuk diperiksa lebih lanjut,” ujarnya.

Termasuk, kata Reihana, pihaknya telah menyimpan obat-obatan yang dkonsumsi pasien sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“Kami juga menyimpan obat-obatan yang telah dikonsumsi sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit,” tandasnya.

Reihana juga mengimbau masyarakat agar segera melaporkan jika ada anak maksimal usia 18 tahun dengan gejala AKI, untuk segera melaporkan dan membawa ke rumah sakit agar cepat mendapatkan tindakan perawatan.

Diketahui sebelumnya, bayi berusia 11 bulan yang pertama kali diumumkan kasus gagal ginjal akut di Lampung meninggal dunia pada Sabtu (22/10/2022) setelah kondisinya terus memburuk akibat tidak bisa buang air kecil.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Lukman Pura mengatakan pihaknya berduka atas meninggalnya bayi tersebut.

“Kami berduka, satu pasien berusia 11 bulan penyakit gagal ginjal pada anak meninggal dunia kemarin,” kata dia, Minggu (23/10).

Lukman menjelaskan, kondisi bayi tersebut saat pertama kali dirawat RSUDAM, cukup mengkhawatirkan. Bayi tersebut tidak buang air kecil sejak dirawat.

Sementara itu, bayi berusia 1 tahun dengan kasus gagal ginjal akut lainnya masih menjalani perawatan di RSUDAM. Menurut Lukman, kondisinya mulai stabil meski belum bisa buang air kecil.

“Kondisinya stabil dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital semua normal, kondisi suhu tubuh juga sudah menurun, dia juga nangis-nangis normal. Namun memang kondisi juga sama belum bisa buang air kecil juga,” jelasnya. (*)