oleh

Kecam Aksi Teror di Makasar, Rektor Darmajaya Dorong Perkuat Pembelajaran Agama di Kampus

Harianpilar.com, Bandarlampung – Rektor Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya, Ir. Firmansyah Yunialfi Alfian, MBA., MSc mengecam keras aksi pengeboman Gereja Katedral di Makasar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Minggu (28/03/2021).

“Mengecam keras atas tindakan terorisme yg terjadi mengatasnamakan agama, tidak ada agama yang membenarkan dan mengajarkan terorisme,” ujarnya, Senin (29/03/2021).

Dirinya pun juga mendorong perguruan tinggi yang ada di Provinsi Lampung untuk memperkuat pembelajaran di Kampus. Hal itu mengingat Data dari Badan Inteligen Negara (BIN) juga menguatkan hal ini dengan semakin meningkatnya paham konservatif keagamaan di beberapa kampus perguruan tinggi.

“Melakukan pembinaan tentang bagaimana mencintai dan mengamalkan agama yang mereka yakini dan bisa menghargai perbedaan. Karena perbedaan itu hal yg mutlak dan tidak ada ciptaan ALLAH SWT yang sama, makhluknya saja diciptakan berbeda,” ungkapnya.

Lanjutnya, kampus harus punya warning system di internal untuk mencegah paham radikaliame masuk kampus. Hal itu tentunya dengan melalukan pembelajaran agama secara sungguh-sungguh.

“Selama ini pembelajaran agama di kampus masih dianggap sebagai pelengkap hanya 2 sks saja,” tuturnya.

Menurutnya, sebagai benteng terakhir pembelajaran jelas 2 sks itu tidak cukup, maka perlu ada terobosan-terobosan dari pimpinan kampus dalam mensikapi keringnya nurani dan iman dalam hati anak-anak mahasiswanya.

“Kalau pembelajaran agama dilakukan dengan sebaik-baiknya maka paham radikalisme pasti bisa kita musnahkan. Tindakan pemboman bunuh diri terjadi karena doktrinasi sesat yang dilakukan segelintir orang jahat yang berkedok agama,” paparnya.

Ia pun telah mencontohkan dan menerapkan hal demikian, perkuat Pembelajaran di kampus yang dipimpinnya.

“Sudah, salah 1 nya pembelajaran agama kita buat jadi 4 sks di semester 1 dan 2. Setelah itu fokus pembejaran agama tidak hanya kognitifnya tapi juga fokus pada praktek dan perubahan perilaku, fokusnya perbaikan pada alhlak. Dan semua agama mendpatkan pemberlakuan yg sama. agama islam diasuh oleh ustad ustadzah, agama kristen oleh para pendeta begitu juga agama-agama lain,” pungkasnya. (Ramona)