Harianpilar.com, Bandarlampung – Pers di era revolusi industri 4.0 memiliki tantangan yang lebih besar. Sebab hadirnya berbagai platform media sosial, kecepatan arus informasi dan berubahnya prilaku publik dalam memperoleh informasi menuntut media massa harus berubah dalam berbagai hal.
Demikian point penting yang terungkap dalam Talkshow dialog bersama antara Wakil Ketua Dewan Pers Hendri CH Bangun, Mantan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Pimpinan Umum Surat Kabar Harian Pilar Mico Periyandho, dengan moderator Risma Borthon.
Talkshow ini dibungkus dalam acara Perayaan HUT bersama antara Fajar Sumatera Group dan Harian Pilar Group dengan mengangkat tema “We Will Give a Second truth World” di Hotel Novotel Bandarlampung, Minggu (13/12/2020).
Wakil Ketua Dewan Pers, Hendri CH Bangun, menekankan kepada insan pers dalam menyajikan karya jurnalistiknya harus objektif.”Kalau patuh dan taat pada kode etik maka tidak boleh menghakimi, bekerja untuk masyarakat, tidak menguntungkan oknum atau salah satu pihak atau calon jika dalam pilkada,” ujarnya.
Hendri mengatakan, dalam era revolusi industru 4.0 media massa mendapat dua pukulan.”Pertama mengenai adanya perubahan prilaku audiens, kita tidak menyebutnya pembaca karena masyarakat itu tidak lagi hanya membaca tapi sekaligus menonton youtobe. Perubahan prilaku audiens ini sesuai hasil riset Dewan Pers, masyarakat itu selalu ingin mudah, cepat dan murah. Jadi masyarakat itu pagi hari yang pertama dibuka Whats App Grup untuk mendapatkan informasi, kemudian youtobe, media onlien. Media cetak itu urutan ke 7. Nah ini tantangan,” terangnya.
Kondisi itu, lanjutnya, yang membuat kesulitan media untuk mendapatkan penghasilan dari pembeli atau pelanggan.”Masyarakat yang selalu ingin cepat, mudah dan murah ini, menjadikan media massa sulit mendapatkan pendapatan,” tandasnya.
Tantangan berikutnya, jelas Hendri, tantangan dari luar yakni masarakat ingin berlangganan hanya konten premium, sementara perusahaan media untuk memproduksi konten premium membutuhkan sumberdaya manusia (SDM) yang unggul dan tentu dengan gaji yang besar.”Saat ini sulit bagi perusahaan media untuk menggaji SDM yang unggul dengan gaji yang sangat besar. Ini tantangan juga bagi pers,” ungkapnya.
Menurut Hendri, Negara harus hadir guna mengatasi berbagai tantangan itu.”Dalam kondisi ini, menurut saya Negara harus hadir. Negara ini bukan hanya pemerintah ya, karena di beberapa Negara lain Negara itu memang menyokong karena pers itu pilar demokrasi yang mengontrol kekuasaan. Kalau bukan pers siapa lagi yang mengontrol kekuasaan, masa setiap hari harus ada demo,” tandasnya.
Artinya, jelas Hendri, tantangan pers saat ini mulai dari perubahan prilaku audien, tantangan ekonomi, dan tantangan kualitas SDM,” tuturnya.
Sementara, Mantan Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, mengatakan, tidak semua orang menyadari apa yang menyatukan semua orang.”Yang menyatukan kita semua adalah media. Baik itu media sosial maupun medis massa. Ketika kita bicara 4.0, maka kita bicara perkembangannya. Dari analog yang linier itu, dan sampai saat ini yang tidak lagi linier karena sudah digital. Artinya semua sudah terhubung dengan cepat, apa yang disiarkan dari satu tempat bisa dilihat dan diketaui dari seluruh tempat,” ungkapnya.
Artinya, lanjut Saut, media massa saat ini tidak lagi bicara benda mati, tapi sudah dinamis dan sangat luas.”Internet of things. Pembaca media itu sudah sangat luas karena terhubung oleh internat. Karena itu pers harus mengedepankan nilai-nilai yang baik. Kebenaran, keadilan, dan kejujuran itu harus dikedepankan dan dipegang teguh. Sebab zaman sekarang tidak ada lagi yang bisa ditutupi,” terangnya.
Selain itu revolusi industri 4.0 juga berbicara sistem integrasi sehingga pers juga harus menyesuaikan perkembangan itu.”Perubahan-perubahan itu harus diikuti perkembangannya, dengan tetap memegang teguh kebenaran, keadilan dan kejujuran sehingga bisa memenangkan persaingan,” urainya.
Sementara, Pimpinan Umum Surat Kabar Harian Pilar, Mico Periyandho, mengatakan, setiap periode tantangan pers berbeda-beda dan cara menyikpainya juga berbeda-beda.”Zaman prakemerdekaan pers meghadapi kolonialisme, menghadapi penjajah. Pers saat itu memiliki tantangan bagaimana menghadapi penjajah sekaligus membangkitkan rasa nasionalisme rakyat untuk melawan. Era Orde Lama pers Indonesia memiliki kemerdeakaan yang baik, meski begitu tetap memiliki tantangan dimana politik nasional dan ekonomi nasional belum setabil. Di zaman orde baru kemerdekaan pers justru meredup dan tantangannya adalah ancaman pemberedelan,” terangnaya.
Pasca orde baru tumbang, jelas Mico, kemederaan pers Indonesia kembali ada bahkan cenderung sangat merdeka karena nyaris tidak ada regulasi yang membelenggu kemerdekaan pers. Namun, tantangan pers justru lebih berat karena berkaitan kualitas umberdaya manusia dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat.”Tantangan saat ini lebih berat, tantangannya sangat kompleks baik dari internal pers sendiri maupun tantangan dari eksternal. Ini menjadi tanggungjawab bersama untuk menjaga pers agar tetap bisa mejalankan fungsi kontrol, penyambung lindah rakyat, dan membela yang benar,” pungkasnya.(Ramona/Maryadi)









