oleh

Harga Singkong di Tuba Anjlok, Petani Menjerit

Harianpilar.com, Tulangbawang – Pekerja buruh cabut dan angkut memanen singkong di areal lahan singkong di Bawang Lata, Kecamatan Menggala Kabupaten Tulangbawang (Tuba), Senin (02/11/2020).

Harapan petani singkong untuk mendapatkan nilai tukar hasil panen yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga pada panen sebelumnya kandas. Harga ubi kayu atau singkong di Kabupaten Tulangbawang kembali terjun bebas.

“Harga singkong September 2020 lalu masih Rp 860 per kilo. Saat panen awal November 2020 ini, harga malah turun jadi Rp650 per kilo,” ujar Joni, warga Kelurahan Ujung Gunung , Kecamatan Menggala, dikediamannya, Senin (02/11/2020).

Sebelumnya harga singkong pada Januari 2020 lalu dikisaran Rp1.200 per kilo, Februari turun menjadi Rp1.050 per kilo, Maret harga turun menjadi Rp950 per kilo dan angka itu bertahan sampai April. Pada Mei 2020 harga jual singkong mengalami kenaikan cukup tinggi di angka Rp1.400 per kilo, Juni 2020 kembali merosot Rp900 per kilo, sedangkan pada Juli harga masih Rp900 per kilo dan Agustus harga menjadi Rp870 per kilo, dan pada bulan Oktober ini anjolok menjadi Rp 650 per kilo.

“Biasanya, saat panen raya harga singkong di pabrik dipastikan anjlok dan bila panen raya berakhir atau stok singkong di pabrik belum memenuhi kuota untuk produksi harga beli dipastikan naik,” kata dia.

Untuk besaran potongan yang mesti ditanggung petani di pabrik, untuk singkong varietas kasesa sebesar 19 persen dan varietas thailand sebesar 25 persen. Selain itu, ongkos cabut Rp100 per kilo dan angkut serta mobil Rp100 per kilo.

“Harga singkong di pabrik sama, yang membedakannya adalah besarnya potongan tergantung varietas yang dinilai dari tinggi rendahnya kadar aci,” kata dia.

“Pendapatan sekitar Rp 8,3 juta per hektare, mesti dikurangi dengan modal mulai dari pembelian pupuk, tanam serta pembersihan lahan sebesar Rp7 juta per hektare, maka didapat hasil bersih Rp1,3 juta per ha, dalam waktu masa tanam dan panen 10 bulan. Jadi rata-rata hasil keringat petani hanya dihargai Rp 830 ribu per bulan,” kata dia lagi.

Menurutnya selama masa pandemi Covid-19, penghasilan sebesar itu mesti disiasati untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya tidak bisa berharap lebih, karena harga beli selalu diatur oleh pasar,” kata dia. (Rizal)