oleh

Merinding. Benar-benar merinding.
Menyaksikan barisan siswa STM/SMK.
Menuju gedung DPR RI.

Mereka menunjukkan : gerakan kaum milenial.

Seperti terbakar oleh heroisme mahasiswa. Dalam aksi massa dua hari terakhir.
Tak kalah semangat. Tak kalah militan.

Mereka bergerak. Menyatu. Dalam langkah dan tujuan.

Di beberapa media online. Menyebutkan barisan putih abu-abu ini tak begitu paham dengan tuntutan mereka. Tak begitu mengerti apa masalah yang diprotes.

Dari menolak revisi undang-undang (UU) hingga masalah pemindahan ibukota. Mereka teriakkan. Dengan semangat.

Mahasiswa bangkit bersama karena ada kesamaan pandangan. Lantas apa yang membangkitkan para kaum putih abu-abu ini?

Solidaritas…!!!

Itu yang membangkitkan dan menggerakkan mereka.

Pembubaran aksi massa mahasiswa dengan gas air mata, pentungan, water cannon. Tersiar dengan cepat. Di media massa. Di media sosial.

Tindakan represifitas ini. Menumbuhkan rasa kemanusian. Menyemai jiwa solidaritas.

Puncaknya : tergerak. Turut berjuang.

Jika tindakan represif terus terjadi. Bukan hanya para siswa. Tapi seluruh lapisan rakyat bisa tergerak. Bersolidaritas.

Hukum Newton berlaku. Semakin kuat aksi maka reaksi juga menguat. Semakin keras represifitas terhadap massa aksi ini, maka perlawannya semakin hebat.

Seperti balon air. Semakin ditekan semakin menguat. Dan, akan menemukan titik ledak.

Sejarah juga telah mengajarkan. Perlawanan rakyat akan membesar seiring meningkatnya respresifitas.

1998, gerakan massa semakin di represif, semakin militan. Setiap ada muncul korban, semakin membakar emosi massa. Memperluas solidaritas rakyat.

Apa lagi di era serba cepat. Informasi begitu mudah sampai ke masyarakat. Setiap aksi kekerasan akan mudah memicu reaksi massa.

Pemerintah, aparat, dan semua pihak harus harus menahan diri. Hindari kekerasan. Gunakan pendekatan presuasif.

Pemerintah harus sadar. Kuatnya protes rakyat. Karena ada kekecewaan.

Aksi pelajar dan mahasiswa ini :

Bukan menolak Jokowi.
Bukan pemberontakan.
Bukan juga kudeta.

Mereka hanya ingin di dengar : aspirasinya. Suaranya.

Rakyat sudah memberi mandat. Jangan berkhianat…wassallam.