Harianpilar.com, Tanggamus – Karena kelelahan empat gajah Way Kambas, akan dipulangkan, meskipun gajah liar masih berada di hutan lindung dan belum mau masuk ke TNBBS.
Menurut Asisten II Pemkab Tanggamus Karjiono, empat gajah yang disewa untuk mengatasi konflik di Kecamatan Semaka belum sampai target yang diharapkan, namun karena kondisi gajah yang telah kelelahan tersebut harus dipulangkan dulu ke Way Kambas.
“Dari hasil rapat bersama anatara Pemkab Tanggamus, TNBBS, WWF dan pawang gajah siang tadi, dengan melihat keadaan gajah yang sudah kelelahan yang disebabkan oleh kondisi perbukitan terjal, disertai cuaca saat ini lagi extrim, sehingga diputuskan agar ke empat gajah itu dipulangkan dulu ke Way Kambas untuk dilakukan perawatan,” katanya, Senin (5/12/2017).
Pada prosesnya, kata Karjiono, gajah liar yang disebut gajah talang bamban itu sudah lima kali digiring ke TNBBS, tapi gajah-gajah tersebut kembali masuk kearea hutan lindung register 31 sehingga empat gajah latih itupun kelelahan, ditambah medan yang dilalui adalah perbukitan terjal yang notabene berbeda jauh dengan kondisi di Way Kambas.
“Sementara untuk perawatan disini masih sangat terbatas. Apabila kondisi gajah-gajah itu sudah kembali sehat betul, barulah akan kita sewa kembali, itupun kalau masih diperlukan,” terang Karjiono.
Karjiono mengaku, saat ini gajah liar yang menyebabkan konflik di masyarakat selama ini, masih berada di hutan lindung dan belum mau masuk ke lokasi TNBBS seperti ditargetkan. Meskipun tidak kembali lagi ke perkampungan penduduk atau marga.
“Meskipun demikian, dengan kondisi itu misi kita belum selesai, sehingga diagendakan minggu depan akan kita rapatkan kembali dengan pihak-pihak terkait untuk langkah selanjutnya,” ungkapnya.
Langkah yang bisa kita ambil untuk saat ini, lanjut Karjiono, pemkab dan NJO akan berupaya melakukan sosialisasi kemasyarakat yang terdampak konflik gajah, agar tidak merasa resah atau membuat kawanan gajah liar tersebut kembali ke perkampungan.
“Sosialisasi antisifasi dan penjegahan, tujuanya agar masyarakat tidak panik ketika datangnya gajah liar, lalu kita sarankan untuk mengganti tanaman masyarakat dengan tanaman yang tidak disukai gajah, terutama dilokasi tempat biasanya gajah itu lewat atau jalan mereka masuk. Seperti menanam bambu atau pohon kemiri di lokasi itu,” terang Karjiono.
Lebih lanjut Karjiono mengaku, akan mendirikan sedikitnya 2 pos jaga di lokasi keluar masuknya gajah dari lokasi TNBBS ke hutan lindung.
“Ada dua jalur jalan yang sering digunakan gajah liar itu keluar masuk TNBBS ke hutan lindung, jadi di dua jalur itu akan kita buatkan semacam gardu atau pos, dan dijaga siang malam oleh petugas, hal itu untuk antisifasi dari dalam, agar gajah gajah tersebut tidak lagi menyasar ke perkampungan warga,” pungkasnya.
Terakhir, Karjiono mengimbau kepada masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan lindung untuk ikut berperan aktif dalam mengatasi konflik gajah liar, dengan berkesadaran untuk keluar dari hutan lindung, agar gajah gajah tersebut tidak lagi masuk kepemukiman warga.
“TNBBS dan hutan lindung adalah tempat gajah gajah itu mencari makanan dan tempat tinggal mereka, bisa jadi mereka keluar dari rumah karena merasa terusik dan tidak nyaman lagi, kami berharap semua pihak terlibat langsung dalam mengatasi hal ini agar tuntas,” tegasnya. (Agus/Mar)









