Harianpilar.com, Bandarlampung – Wacana pemindahan pusat pemerintahan Republik Indonesia (RI) dari Jakarta ke luar Pulau Jawa terus bergulir. Tak hanya di kalangan aktivis dan politisi, gagasan Bung Karno yang dilontarkan kembali oleh Presiden Jokowi itu juga telah menjadi bahan diskusi serius di kalangan alim ulama dan akademisi, aktivis dan tokoh Lampung.
Mereka menyambut baik wacana pemindahan ibukota Pemerintahan RI oleh Presiden Jokowi, Juni 2017 lalu. Bahkan, mereka mendorong agar Sai Bumi Ruwa Jurai masuk dalam kajian.
Aktivis yang juga pimred salah satu media di Lampung, Hermansyah melihat, Provinsi Lampung paling seksi menjadi pusat Pemerintahan RI.
Menurutnya, Lampung memiliki posisi yang strategi. Posisinya berhadapan langsung dengan lalu lintas perairan ekonomi internasional antarbenua , berseberangan dengan Singapura, Taiwan, Jepang dan lainnya.
“Provinsi ini relatif dekat dengan Ibu Kota RI, punya lahan “gratis” ribuan hektare yang dapat menjadi terasnya pemerintahan Republik Indonesia,” ujarnya, Minggu (3/12/2017).
Terkait, ketersediaan lahan, Kementerian Kehutanan dan PTPN VII memiliki puluhan ribu hektare tanah yang sangat mungkin dikonversi menjadi lahan ibukota, sehingga Pemerintah RI tak perlu keluarkan biaya pembelian tanah hingga dapat meminimalisir konflik dan spekulan tanah.
Selain itu, Lampung juga memiliki garis pantai pesisir timur Lampung ada 270 Km yang aman dari bencana alam.
“Ketika sesar menggeliat, kawasan pesisir adem ayem. Ketika Siklon Dahlia menimbulkan bencana alam, pesisir ini nyaris tak terdenger musibah berat. Topografinya juga relatif datar tinggal penataan saja. Lintas Timur bagian dari jalur sutra,” urainya.
Di kawasan timur Lampung, lanjutnya, ada pipa gas dan jaringan listrik antar provinsi. Lahan milik pemerintahan ribuan hektare di kawasan yang penduduknya relatif tak padat.
“Soal keamanan, di belakangnya, ada Pangkalan Utama TNI AL III dan sedang direncanakan kawasan industri militer di sisi baratnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Lampung memiliki sumber daya dan kesiapan berbagai indikator untuk menjadi ibukota negara. Berdasarkan kajian geopolitik, ekonomi, infrastruktur, telekomunikasi dan informasi teknologi, sosial budaya, planologi dan lintas keilmuan.
“Lampung sudah menjadi Indonesia mini sejak Era Kolonial. Di provinsi ini, bahasa yang digunakan Bahasa Indonesia. Ada pemukiman berbagai suku dan semuanya menjunjung tinggi pepatah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Lampung memang seksi jadi ibukota pemerintahan NKRI,” pungkasnya.
Untuk diketahui, setelah sebulan lebih Jokowi melempar wacana pemindahan ibu kota pemerintahan RI, Ketua Yayasan Alfian Husin Andi Desfiandi Alfian SE, MA menginisiasi Forum Group Discussion I Daerah Khusus Ibukota (FGD DKI) Lampung di Hotel Emersia, Kota Bandarlampung, Selasa (15/8/2017).
FGD II DKI Lampung dilanjutkan Institute Teknologi Sumatera (Itera)di Jatiagung, Lampung Selatan, Selasa (3/10/2017). Hadir pada FGD lanjutan tersebut Walikota Bandarlampung Herman HN, Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad, staf kantor kepresidenan RI Zaidirina Wardoyo , mantan Kapolda Lampung Irjen Ike Edwin, Prof Sugeng P Harianto, dan banyak tokoh lainnya.
Mereka antusias mendukung dijadikannya Lampung menjadi alternatif pilihan ibu kota pemerintahan RI. Bak gubung es, mereka yang mendukung Lampung menjadi ibu kota pemerintahan RI semakin banyak. Paska-FGD DKI Lampung terbentuklah Tim Panja DKI Lampung yang dibina Ketua MPR RI Dr. (Can) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M. dan dipimpin Dr. H.Andi Desfiandi Alfian, S.E.,M.A.
Zulkifli Hasan antusias bergabung setelah serombongan akademisi, tokoh masyarakat, dan aktivis menemuinya di DPR RI, Kamis (14/9/2017). Tim Panja DKI Lampug lalu rapat dengar pendapat (RDP) dengan para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (11/10/2017).
Panja DKI Lampung berusaha meyakinkan banyak pihak daerahnya paling pas jadi terasnya Indonesia. Sebagai bentuk kesungguhan, Tim Panja lawatan ke berbagai pihak hingga puncaknya menghadiri perayaan pernihakan putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu dengan Bobby Arif Nasution, di Graha Saba Buwana, Solo, Rabu (8/11/2017). (Ramona/Mar)









