oleh

Disdikbud Provinsi Ancam Pecat Kepala SMAN 1 Kedondong

Harianpilar.com, Bandarlampung – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung sedang memeroses pemberhentian Kepala SMA Negeri 1 Kedondong, Pesawaran Dudi Indiana. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas (Kadis) Disdikbud Provinsi Lampung, Sulpakar. Dia mengatakan bahwa Dudi Indiana sedang dalam proses persiapan perggantian.

“Yang bersangkutan mengundurkan diri, dan terkait pengunduran diri ini bukannya karena apa-apa, tetapi alasan kesehatan. Jadi sedang dalam tahap proses pemberhentian,”ujar Sulpakar ditemui di lingkungan Disdikbud Provinsi Lampung, Rabu (18/10/2017).

Mantan Kadisdik Kabupaten Lampung Selatan itu mengungkapkan sebelum proses penggantian ini, secara internal sekolah sudah diperbaiki oleh Dudi Indiana (kepsek), dan apa yang dibinakan oleh Disdikbud Provinsi Lampung. “Pemberhentiannya masih diproses, tunggu saja kabar selanjutnya, itu dulu ya informasinya,” singkatnya.

Diberitakan sebelumnya, Dudi Indiana, Kepala SMA N 1 Kedondong-Pesawaran mendapat nilai raport merah. Penilaian ini tentunya bukan tanpa alasan. Pasalnya, dibawah kepemimpinannya, SMA yang menjadi favorit bagi masyarakat Kecamatan Kedondong dan sekitarnya itu mengalami  kemunduran drastis, baik dalam bidang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) maupun kegiatan ekskul sekolah.

“Kegiatan ekskul seperti halnya PMR dan ROHIS sudah tidak berjalan lagi, begitupun dengan kegiatan pramuka. Dan sewaktu kami mengajukan permohonan bantuan dana kepada sekolah tidak diakomodir. Alasannya dana tidak ada. Dan parahnya lagi, pelaksanaan classmeting lalu, kami dibebani iuran sebesar Rp 50 ribu/kelas. Katanya untuk buat pendaftran dan untuk pembelian hadiah. Dan dananya kami setorkan melalui OSIS,” Ungkap salah satu siswa, seraya mewanti namanya tidak disebutkan.

Bobroknya kondisi satuan pendidikan SMA N 1 Kedondong itu juga tampak terlihat dalam kualitas dan kuantitas pendidikan. Dimana medio kepemimpinan Dudi sebagai kepsek tidak satupun menoreh prestasi, baik itu dari mutu prestasi siswa maupun prestasi ekskul.

“Waktu jam belajar gurunya kadang gak datang, kami cuma disuruh nyatet saja,” aku cantik siswa kelas XII itu.

Menanggapi parahnya kondisi pendidikan di sekolah yang berada dilingkungan  perkantoran Camat dan perkantoran UPT Pendidikan ini, Ketua Komite SMAN I Kedondong, Ruzammi Karim angkat bicara. Dikatakannya, pihaknya sudah berungkali melakukan peneguran terhadap pihak sekolah melalui kepsek setempat. Namun, teguran untuk memperbaiki kondite sekolah ini masih juga belum dapat terlaksana dan berjalan dengan baik.

“Saya menilai perlu dilakukan roling setidaknya 50 persen dewan guru untuk dilakukan penyegaran. Dan Kepsek sebagai pemimpin mestinya mampu memenej sekolahan lebih baik. Untuk itu pihak terkait dalam hal ini Disdikbud Provinsi dapat mengevaluasi kembali Dudi Indiana selaku kepsek.  Karena saya menilai dirinya gagal dalam melakukan pembinaan di sekolah ini,” tukas mantan DPRD Pesawaran.

Parahnya lagi, terkuak kemudian, saat rapat internal komite dan kepala sekolah serta dewan guru, untuk tunjangan guru honor selama 3 bulan ditahun 2017 belum terbayarkan. Dan rapat internal pada Sabtu (29/7/2017) kepsek juga dicecar sejumlah pertanyaan terakait pengelolaan dan penggunaan Dana Komite tahun 2016/2017 dan tahun 2017/2018 dan dana BOS tahun tahun 2017.

Bahkan dalam rapat internal komite menyeruak kemudian persoalan baru. Dimana tunjangan untuk tenaga honor murni tahun 2017 selama 3 bulan itu belum terbayarkan oleh pihak sekolah. Dan lucunya lagi, berdasarkan indormasi didapat jika Dudi Indiana sempat mengundurkan diri sebagai kepsek, namun entah mengapa Dinas terkait mempertahankannya. Meskipun dirinya selama menjabat kepsek tidak pernah menorehkan prestasi memuaskan baik dalam bidang pendidikan maupun bidang ekskul.

Terpisah, Kepala SMAN I Kedondong, Dudi Indiana menampik tudingan seperti yang dituduhkan pada dirinya. Menurutnya, untuk saat ini dirinya telah mampu mengatasi kondite sekolah dalam hal KBM. Namun ia tidak menyanggah terkait tunjangan guru honor yang belum terbayarkan. Dia beralasan, dana partisipasi dari komite tidak bisa menutupi untuk pembayaran gaji honor.

“Sekarang saya sudaj srtiap hari masuk sekolah. Dan terkait penilaan terhadap dewan guru sudah saya buatkan laporan tiap bulan. Dan mengenai gaji guru honor memang benar belum terbayarkan selama 3 bulan ini, karena dana partisipasi dari komite tidak cukup untuk membayar gaji guru honor. Sementara bicara tentang pengunduran diri saya benar adanya. Dan surat pengunduran diri waktu itu telah saya buat dan disampaikan ke Dinas. Karena saya orang Kedondong, saya ingin ngabdi dan kembali lagi menjadi guru biasa. Namun mungkin ada pertimbangan lain, sehingga Dinas masih mempertahankan saya tetap menjadi Kepsek,” pungkas. (Ramona/Fahmi)