Harianpilar.com, Tulangbawang – Diduga akibat rendahnya insentif yang diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten Tulangbawang, terhadap dokter spesialis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Menggala, berdampak pada menurunya kualitas pelayanan kesehatan dan kinerja dokter di RS setempat dua tahun belakangan ini.
Penurunan pelayanan kesehatan sangat minin terlihat jelas, dengan jarang hadirnya para dokter spesialis di RSUD Menggala. Ini menyebabkan banyak pasien di RS tersebut, baik pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal, sehingga banyak pasien harus dirujuk ke RS lain untuk mendapatkan perawatan yang maksimal.
Seharusnya dengan status RSUD Menggala yang telah naik dari tipe C menjadi RS yang terakriditasi tipe B, RSUD Menggala harus dapat meningkatkan fasilitas serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, sehingga status akriditasi yang disandang RS tersebut bukan hisapan jempol belaka.
Pemandangan yang sering kita lihat di RS ini banyak dokter spesialis yang absen atau tidak hadir walaupun ini merupakan jadwal mereka praktek atau fisit di RS Menggala, sehingga banyak pasien yang berobat jalan dan rawat iniap di RS ini kecewa karna dokter spesialis yang menangani penyakit mereka tidak datang.
Dari salah satu dokter umum yang bertugas di RSUD Menggala yang enggan disebutkan namanya mengatakan, jumlah dokter spesialis yang kita miliki sebanyak 23 orang, dan dokter spesialis kontrak ada dua orang, satu dokter spesialis jiwa dan Dokter spesialis otopet atau tulang, sedangkan jumlah dokter umum ada 13 orang, 10 orang dokter PNS, dan 3 Orang dokter kontrak.
Seharusnya dengan jumlah dokter spesialis dan dokter umum yang bertugas di RSUD Menggala, sudah cukup lumayan untuk dapat melayani pasien yang ada. Akan tetapi karna rendahnya insentif yang diberikan khususnya kepada dokter spesialis yaitu Rp 10 juta per bulan sehingga para dokter spesialis banya membuka praktek di luar RSUD Menggala.
“Jamannya Papi Mance insentif dokter baik dokter umun maupun dokter spesialis paling mahal dibayarkan dibandi insentif di RS diseluruh lampung, tapi semenjak Bupati Hanan, insentif yang kami terima jauh lebih murah dibanding insentif di RSUD di Kabupaten lainya, contoh untuk insentif dokter spesialis aja di RSUD kabupaten Tulangbawang Barat saja Rp 25 juta, sedangkan di RSUD Menggala hanya Rp 10 juta perbulan, perbandingannya kan cukup lumayan jauh,” ujarnya.
Kondisi dokter spesialis yang jarang masuk ini sudah lama terjadi, ini merupakan bentuk protes para dokter spesialis yang ada di RSUD Menggala, agar Pemerintah dapat memikirkan kesejahtraan para dokter di RSUD ini, akantetapi pihak menejemen RSUD tidak memenuhi apa yang menjadi permintaan kami, padahal semakin RSUD naik tipe fasilitas dan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien semakin baik.
Seharusnya Pemerintah lebih cekatan dalam mengatasi permasalahan tersebut.
“Kalau emang dokter spesialis di RSUD Menggala minta di naikan seperti insentif di RSUD Tulangbawang Barat, kenapa harus ditahan, kenapa Pemerintah gak naikin, padahal kan permintaan dokter itukan cukup wajar, apa lagi tenaga dokter sangat kita butuhkan di RSUD Menggala ,” ujar Hery salah satu keluarga pasien.
Kalaupun anggaran APBD kita harus habis karna untuk membayar tenaga medis yang masyarakat kita butuhkan, kenapa Bupati kita tidak bisa memberi kebijakan menaikan anggaran untuk kenaikan insentif para dokter di RSUD. Anggaran APBD ini kan untuk kesejahtraan rakyat, jadi kalau anggaran insentif dokter dinaikan kan otomatis pelayanan dokter kepada masyarakat Tulangbawang dapat maksimal, kalau insentif dokter tidak naik percuma namanya saja dokter yang ada, tapi dokter nya tidak pernah ada.
Hery berharap Pemerintah dapat mengambil langkah kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan perang dingin yang terjadi antara dokter dan pihak menejemen RSUD Menggala sehingga pelayanan kesehatan yang ada di RSUD ini dapat berjalan sebagai mana RSUD pada umumnya. (Merizal/Maryadi)









