Harianpilar.com, Tulangbawang – Setelah proyek infrastrutkur jalan tahun 2015 dan 2016 yang diduga sarat praktik korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), kini giliran proyek masterplan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Tulangbawang yang diduga sarat penyimpangan. Puluhan proyek materplan dari tahun 2013 hingga 2015 itu diduga sarat masalah.
Seperti diketahui yang dimaksud dengan masterplan adalah gambar keseluruhan bentuk dari mulai bentuk yang kecil hingga yang besar sehingga menjadi satu kesatuan gambar yang utuh, masterplan juga merupakan rancangan atau gambaran pembangunan jangka panjang. Materplan dan DED merupakan produk yang dihasilkan dari para Konsultan dan menjadi salah asset daerah yang tidak berwujud.
Berdasarkan dokumen yang diperoleh Harian Pilar, diduga kuat sejumlah proyek masterplan milik Dinas PU Tuba sarat penyimpangan. Seperti pada tahun 2013 Dinas PU Tuba membuat Masterplan Kawasan Sejarah dan Budaya Kota Menggala senilai Rp250 juta yang dikerjakan PT. Nandha Citra Kreasi. Namun, pada tahun 2015 Dinas PU Tuba membuat masterplan serupa yang dipecah menjadi tiga bagian yakni Masterplan Pusat Wisata dan Rekreasi Rawa Pulau Daging senilai Rp250 juta dikerjakan PT. Visitama Daya Solusi, Masterplan Kawasan Wisata Perahu Lokasi Cakat Nyenyek Lintas Timur senilai Rp250 juta dikerjakan CV. Priwirasa Tehnik Consultant, dan Masterplan Peningkatan Pembangunan Kawasan Tangga Raja Menggala senilai Rp250 dikerjakan CV.Visi Cipta Mandiri.
Pada tahun 2013 Dinas PU Tuba membuat Masterplan Pasar Kampung Bugis Menjadi Pasar Terbuka senilai Rp200 juta dikerjakan CV. Takabeya Mitra Konsultan. Kemudian tahuh 2014 Dinas PU Tuba melanjutkan dengan membuat DED Pasar Lama Menjadi Pasar Terbuka senilai Rp395 juta dikerjakan CV. Priwira Tehnik Consultant. Lalu pada tahun 2015 Dinas PU Tuba membuat Masterplan Pusat Jajanan dan Cinderamata Jalan Lintas Timur Kampung Bugis Menggala Kota senilai Rp250 juta yang dikerjakan CV. Takabeya Mitra Konsultan. Dengan kondisi ini maka terlihat jika Dinas PU Tuba tidak cermat dan tidak teliti dalam pembuatan Masterplan dan DED. Sebab, Masterplan Pasar Kampung Bugis Menjadi Pasar Terbuka tahun 2013 dan pembuatan DED Pasar Lama Menjadi Pasar Terbuka menjadi mubazir karena Masterplan Pusat Jajanan dan Cinderamata Jalan Lintas Timur Kampung Bugis Menggala Kota yang dibuat tahun 2015 berada di lokasi yang nyaris sama. Kuat dugaan pihak Dinas PU dan konsultan tidak pernah melakukan survey ke lokasi tersebut sebelum melakukan pembuatan Masterplan maupun DED Pasar Terbuka. Sebab Dinas PU Tuba juga baru mengetahui lahan tersebut ternyata milik Dinas Transmigrasi Provinsi Lampung.
Parahnya lagi, pada tahun 2013 Dinas PU Tuba mebuat Masterplan Pintu Gerbang dan Rest Area di Astra Ksetra dan Perbatasan Mesuji senilai Rp250 juta yang dikerjakan PT. Mitra Teknik Konsultan. Di dalam Masterplan tersebut selain ada gambar Tugu Perbatasan Astra Ksetra, terdapat gambar Jalan Dua Jalur dan Rest Area berupa Pendopo serta Taman, masterplan ini juga dilengkapi Tempat Penjualan Kuliner atau Jajanan. Anehnya, tahun 2014 Dinas PU Tuba kembali membuat Masterplan Jalan Dua Jalur Lintas Timur Astra Ksetra Sampai Simpang Pematang (Perbatasan Mesuji) senilai Rp200 juta dikerjakan CV.Revando Lubay Konsultan, dimana isi proyek masterplan ini terdapat dalam proyek masterplan tahun 2013. Sehingga sangat jelas proyek masterplan ini bentuk pemborosan anggaran dan berpotensi merugikan Negara.
Sementara, pihaknya Dinas PU Tuba juga bungkam terkait masalah ini. Dikonfirmasi melalui surat resmi, Kepala Dinas PU Tuba, Ferli Yuledi tidak memberikan jawaban.
Diberitakan sebelumnya, Pelaksanaan proyek infrastruktur jalan tahun 2015-2016 milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Tulangbawang diduga kuat sarat penyimpangan. ‘Kebobrokan’ proyek-proyek bernilai miliaran itu terlihat dari kondisi proyek yang mayoritas sudah rusak parah.
Dari sample yang diambil dari proyek tahun 2015 dan 2016, ditemukan pelaksanaan proyek Dinas PU Tuba cenderung berkualitas murahan meski menelan anggaran miliaran, bahkan baru seumur jagung proyek-proyek itu sudah mengalami kerusakan parah.
Seperi proyek tahun 2015 berupa Peningkatan jalan sampai hotmik ruas jalan SP.Bawang Sakti-Cempaka Dalam Kecamatan Menggala Timur yang dikerjakan CV.Abadi Pembangunan Persada menelan anggaran Rp 1,5 Milyar dengan volume pekerjaan panjang 1,03 Km dan lebar 3,5 M. Kini jalan ini sudah banyak berlubang, retak-retak panjang, bahkan ambrol baik ditengah dan dipinggir kanan dan kiri jalan.
Begitu juga proyek tahun 2015 lainnya yakni Proyek jalan Lapen ruas Jalan Poros Rajawali – Karya Bakti Kecamatan Meraksa Aji dikerjakan oleh CV. Putri Menggala menelan anggaran Rp1,5 Miliar dengan volume panjang 3 Km lebar 3 Meter, dan proyek Ruas Jalan Kecubung Jaya KNPI – Talang Buah Kecamatan Gedung Aji dengan volume panjang 2,25 Kilometer dan Lebar 3,50 Meter, Proyek ini dikerjakan oleh CV.Indo Teknis Prima Solusi dengan menghabiskan anggaran Rp3 Miliar.
Kedua proyek ini kondisinya juga sudah sangat parah, selain terdapat banyak lubang juga sudah mengalami retak-retak parah serta ambrol. Bukannya membuat masyarakat bangga, keberadaan proyek berkualitas buruk ini justru menyengsarakan masyarakat.”Baru saja selesai dikerjakan sudah rusak kembali mas. Seperti jalan lapen dari Simpang Poros Rajawali sampai dengan Karyabakti ini, sudah banyak lobang dan ambles, batu-batunya bertaburan dijalan, ini malah menyengsarakan mas,” keluh Sutiman (26), Warga di Kecamatan Meraksa Aji.
Menurut Sutiman, awalnya masyarakat sangat berterimakasih pada Pemerintah yang telah memperbaiki jalan itu. Namun, pelaksanaan perbaikan yang menghasilkan jalan berkualitas buruk itu justru menimbulkan kekecewaan pada masyarakat. “Kami atas nama masyarakat Gedung Aji sangat berterimakasi kepada pemerintah yang telah meperbaiki jalan di Kampung kami, tetapi kami juga sangat kecewa atas kualitas jalan itu, kondisinya sudah mulai berlubang dan retak panjang,” cetusnya, beberapa waktu lalu.
Dari hasilpenelusuran Harian Pilar, memang ditemukan kondisi jalan-jalan itu rusak parah, retak-retak dan belah, hingga ambrol dan berlubang. Bahkan, sisi kanan dan kiri pada masing- masing bahu jalan terkelupas sehingga mempersempi jalan tersebut.Kondisi jalan ini justru membahayakan pengguna jalan khususnya pengendara sepedah motor.
Kondisi yang sangat parah juga ditemukan pada Jalan Kecubung Mulya-Kecubung yang baru selesai dikerjakan Desember 2016. Proyek tahun 2016 yang dikerjakan oleh CV. Putri Menggala ini menghabiskan anggaran hingga Rp3,2 Miliar, tapi kini kondisinya sudah rusak parah, retak dan mengelupas serta berlubang.
Kuat dugaan pengerjaan proyek ini tidak sesuai spesifikasi teknis yang ditentukan dalam kontrak,hal itu terlihat dari penggunaan matrial lapisan permukan pada jalan yang sangat tipis sehingga ikatan antaraspal dengan agregat mudah lepas dan menyebabkan jalan cepat rusak. (Merizal/Maryadi)









