Harianpilar.com, Bandarlampung – Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mengumumkan nilai ekspor Lampung hingga Mei 2017 mencapai US$ 300,85 miliar. Jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 0,20 persen dibanding pada April 2017.
“Walaupun ekspornya mengalami penurunan, komoditas Lemak dan minyak hewan/nabati kontribusinya dia lebih tinggi yaitu sebesar 36,17 persen. Disusul kopi, teh dan rempah-rempah sebesar 20,77 persen, Batu bara sebesar 11,30 persen, Olahan dari buah-buahan/sayuran sebesar 7,01 persen dan Karet serta barang dari karet sebesar 5,61 persen,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Yeane Irmaningrum dalam rilisnya, dikantor BPS Lampung, Kamis (15/6/2017) siang.
Yeane menjelaskan, adapun negara tujuan ekspornya paling tinggi adalah ke India sebesar US$ 67,26 juta. Kemudian disusul dengan Amerika Serikat sebesar US$ 32,09 juta dan Italia sebesar US$ 21,23 juta.
Sementara itu, nilai impor Lampung pada Mei 2017 mencapai US$ 287,78 juta atau naik sebesar 31,64 persen dibandingkan April 2017 sebesar US$ 218,61 juta. Angka ini juga lebih tinggi dibanding Mei 2016 yang tercatat US$ 195,59 juta.
Adapun komoditas utama impor yang mengalami kenaikan adalah Kendaraan & bagiannya sebesar 5.137,57 persen, gula dan kembang gula untuk kebutuhan industri sebesar 220,96 persen, binatang hidup sebesar 7,85 persen, biji-bijian berminyak naik 2,44 persen dan ampas/sisa industri makanan naik 0,80 persen.
Kontribusi terbesar untuk impor diberikan oleh Migas sebesar 40,13 persen. Kemudian disusul secara berurutan oleh Gula dan kembang gula sebesar 27,43 persen, Binatang hidup sebesar sebesar 7,46 persen, ampas/sisa industri makanan sebesar 6,04 persen, Kendaraan dan bagiannya 4,19 persen dan biji-bijian berminyak 4,05 persen.
Pada bulan ini juga tercatat negara importir baru yaitu El Salvador dengan komoditas impornya berupa gula rafinasi yang sebelumnya biasa diimpor dari Thailand.
“Perkembangan neraca perdagangan Lampung pada Mei 2017 mengalami surplus. Meskipun nilai ekspor kita turun menjadi US$ 300, 85 juta, tapi nilai impor kita ternyata tercatat sebesar US$ 287,78 juta sehingga masih mengalami surplus sebesar US$13,07 juta,” imbuh Yeane. (Ramona/Lis)









