oleh

Herman HN ‘Egois’ Dalam Pembangunan

Harianpilar.com, Bandarlampung – Pemerintah kota (Pemkot) Bandarlampung dibawah kepemimpinan Walikota Herman HN dinilai’egois’ dalam melakukan pembangunan. Pemkot ‘ngotot’ melakukan pembangunan jembatan layang (Flyover), sementara persoalan banjir yang terus dialami masyarakat justru tidak di tangani dengan profesional.

Pengamat Hukum Kebijakan Publik Universitas Lampung (Unila), Budiono, menilai, banjir parah yang kerap melanda Kota Bandarlampung dikarenakan semakin sempitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang diakibatkan oleh terlalu mudahnya proses perizinan pendirian bangunan di daerah resapan air.

“Karena banyaknya bangunan jadi berkurang daerah resapan air, harusnya jika memang ada pembangunan dipikirkan juga dampak sekitarnya, jangan hanya mengejar pembangunan flayover dan Flyover,” cetus Budiono, Selasa (18/4/2017).

Pembangunan Flyover dirasa hanya mementingkan egoisme pemimpin semata, bukan untuk kemajuan Kota Bandarlampung dan kesejahteraan masyarakatnya.”Pembangunan Flyover tidak sebanding dengan dampak yang didapat, daerah resapan air tidak ada, gorong-gorong berkurang, sedangkan volume hujan makin bertambah ya dampaknya air menggenang dimana-mana, ini yang tidak difikirkan,” tegasnya.

Menurut Budiono, seharusnya Pemkot Bandarlampung mempersiapkan masterplan untuk beberapa tahun kedepan dalam penanganan banjir.”Jangan sampai ini justru tidak dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Bandarlampung untuk kedepannya,” ujarnya.

Dan untuk Satuan kerja (Satker) terkait di Pemkot Bandarlampung diharapkan bisa bekerja lebih maksimal.
“Jangan hanya menunggu perintah pimpinan baru bergerak,”imbuhnya.

Soal penanganan banjir di Kota Bandarlampung, Pemerintahan kota(Pemkot) Bandarlampung seolah buang badan. Senin (17/4/2017).

Walikota Bandarlampung Herman HN saat hendak di konfirmasi sedang berada dirumah dinas untuk persiapan kegiatan diluar kota, sehingga tidak bisa di wawancara. Yang aneh lagi sikap Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) kota Bandarlampung, Sukarma Wijaya. Saat dihubungi melalui ponselnya Sukarma Wijaya menjawab. Namun, saat mengetahui akan di konfirmasi terkait perencanaan penangan banjir Sukarma langsung mematikan telepon.

Diberitakan sebelumnya, Kepemimpinan Walikota Bandarlampung Herman HN sudah memasuki periode ke dua. Namun, sampai saat ini persoalan banjir masih belum teratasi. Padahal banjir sudah menjadi masalah lama yang kerap di alamai masyarakat Bandarlampung.

Seperti pada Minggu (16/4/2017), banjir terjadi di sejumlah wilayah di Bandarlampung. Hujan yang turun sekitar satu jam langsung merendam sejumlah ruas jalan utama Bandarlampung mulai dari jalan RA Kartini, jalan Tulangbawang, jalan Gajah Mada, jalan S Parman, jalan Pangeran Antasari, dan beberapa ruas jalan lainnya. Selain merendah sejumlah ruas jalan utama, banjir juga melanda Mandrasah Iftidayah Negeri (MIN) 9 Sukajawa.

Di jalan RA Kartini genangan air mencapai selutut orang dewasa hingga menyebabkan kemacetan panjang. “Air yang tingginya mencapai betis orang dewasa ini juga mengakibatkan kendaraan roda dua (motor) mengalami kerusakan akibat kemasukan air,” ujar Syaifullah, salah satu petugas keamaan salah satu mall di jalan RA Kartini.

Menurutnya, kemacetan yang terjadi akibat banjirnya cukuppanjang. “Setahu saya ini karena gorong-gorong tersumbat, ditambah buruknya sistem drainase di jalan Kartini ini,” ujarnya, Minggu (16/4/2017).

Sementara itu, dari pantauan yang lain, Jalan Tulang Bawang, tepatnya dekat SMA Arjuna ternyata lebih parah terendam air. Bahkan, beberapa warga mencoba menutup agar akses jalan tidak dilalui pengendara.

“Bisa di lihat sendiri, makin kesini semakin parah. Hujan sedikit menggenangnya luar biasa. Kami terpaksa menutup jalan, kasian pengendara motor banyak yang mogok,” kata Sutono, warga setempat.

Air juga menggenang di Jalan Gajah Mada (persimpangan sebelum flyover), Jalan S Parman (dekat Gedung Wanita) , Jalan Pangeran Antasari (dekat Villa Citra), dan beberapa ruas jalan lainnya.

Di Jalan Sukajawa sekitaran pasar Tamin juga mengalami hal yang sama. Sejumlah warga tampak membersihkan sampah kayu yang menyumbat selokan. MIN 9 Sukajawa pun tampak digenangi air.

“Wah mas, kalau hujan lebih dari satu jam daerah sini bisa dipastikan banjir, “ujar Andre salah satu warga Sukajawa yang sedang membersihkan selokan yang tersumbat oleh sampah.

Andre berharap pemerintah Kota Bandar Lampung dapat memperbaiki drainase agar kondisi seperti ini tidak berulang ulang terjadi.

Pengamat Tata Kota Universitas Bandarlampung, IB Ilham Malik, menilai banjir yang terus menerus melanda Kota Bandarlampung setiap dilanda hujan menunjukan ada persoalan serius dalam sistem drainase. MSeharusnya Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung melakukan mengevaluasi masreplant drainase.”Solusinya adalah Pemkot perlu mengevaluasi masterplan draianse. Tapi bukan Dinas PU yang mengerjakannya tapi Bappeda Kota,” jelasnya kepada Harian Pilar, Minggu (16/4/2017).

Dosen Teknik sipil Universitas Bandarlampung itu mengatakan, evaluasi diperlukan agar ada studi kelayakan pada pola draianse terlebih dahulu. Menurutnya, Dinas PU Kota Bandarlampung pernah membuat masterplan drainase. Namun, langsung membuat design tanpa ada kajian secara komprehensif.

Saat ini, jelasnya, Bandarlampung belum memiliki sistem drainase kota.”Kita belum punya sistem drainase kota. Lahan-lahan yang dulunnya rawa dan tempat penampungan air alami, sekarang sudah berubah menjadi bangunan,” jelasnya.

Kondisi itu, menyebabkan berkurangnya daerah resapan air, akhirnya air tidak memiliki saluran yang baik dan tergenang termasuk di daerah permukiman dan menjadi banjir.

“Yang lebih memprihatinkan lagi adalah ternyata air limpahan sekarang ini banyak yang terperangkap oleh lapisan kedap air (bangunan) dan tanpa aliran,” cetusnya.

Perencanaa draianse sangat berkaitan dengan perencanaan tata ruang kota. Jika pembagian pemanfaatan lahan antara lahan budidaya dan lahan lindung tidak pas dan sesuai dengan kondisi geografi kota, maka biasanya akan muncul masalah banjir.

“Yang jelas ketika ada masalah serius pada sistem drainase Kota yang tidak memperhatikan topograpi lahan Kota maka banjir akan terus menjadi langganan saat hujan,” pungkasnya.

Sementara, Walikota Bandarlampung Herman HN hingga berita ini di turunkan belum berhasil di mintai tanggapan terkait masalah ini. (Ramona/Maryadi)