oleh

Menguak ‘Mainan’ Proyek Dinkes Pringsewu

Harianpilar.com, Pringsewu – Pengerjaan Proyek Pembangunan Gedung Kelas Satu Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Kabupaten Pringsewu tahun anggaran 2016, yang merupakan proyek milik Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu sarat ‘Mainan’.  Betapa tidak, proyek senilai Rp2,6 miliar itu terkesan asal jadi, sehingga kualitasnya sangat ‘Bobrok’ dan meragukan.

Berdasarkan keterangan sumber, proyek tersebut tidak dipasang papan plang proyek oleh rekanan, setiap ditanya para tukang mengaku tidak tahu siapa pemilik proyek tersebut.

Selain itu, proyek pembangunan gedung kelas satu tersebut pengerjaannya terkesan asal jadi, mulai dari pemasangan pondasi dibuat di atas batu disusun disiram pasir dan besi cakar ayam juga banyak yang dioplos, demikian juga pondasi depan juga kedalamannya juga hanya sekitar 20cm saja, kata seorang sumber yang minta dirahasiakan namanya.

Lebih jauh sumber juga mengatakan, jika adukan semen cor selup bagian bawah dan atas juga adukan cor tiang diaduk dengan asal atau tidak dengan ukuran yang jelas, karena tampak terlihat saat pengerjaannya menggunakan molen mesin. Namun pasir dimasukkan tampa menggunakan takaran kotak melainkan langsung menggunakan skop pasir tampa ukuran yang jelas.

Demikian juga besi selup dan tiang merata dioplos menggunakan besi 12 meter dan di oplos dengan besi 10 meter. “Besi cor juga dioplos demikian juga adukannya semen dan pasir juga gak jelas takarannya,” kata sumber.

Selain itu, jelas sumber, keramik yang digunakan keramik warna putih yang murah, sementara gedung kelas satu seharusnya menggunakan keramik yang kelas terbaik, demikian juga keramik toilet atau kamar wc nampak juga keramiknya tidak sesuai rencana awal, karena nampak jelas keramik dinding toilet seharusnya menggunakan keramik khusus dinding ukuran 25X40 cm.

“Namun rekanan menggunakan keramik ukuran 50 cm persegi dan dipotong dua dibuat ukuran 25X40 cm jelas ini rekayasa rekanan,” ungkap sumber.

Menurut sumber juga, dinding bangunan gedung kelas satu ini seharusnya menggunakan cat yang anti kuman, namun karena cat ini sangat mahal harganya maka rekanan menggunakan cat biasa, namun di apis bagian luarnya saja yang menggunakan cat anti kuman.

selai itu, plafon yang seharusnya menggunakan PBC ukuran 1 MM, namun yang digunakan ukuran 0,6 MM.

“Ini terlihat plafonnya ngebayang jika dilihat dari bawah karena lebih tipis dari standarnya,” tandasnya.

Sementara, PPK proyek tersebut Sailendra lubis belum berhasil hubungi, beberapa kali koran menemui Sailendra jarang masuk kerja, dihubungi melalui ponselnya selalu tidak aktif. (Sahirun/Juanda)