Harianpilar.com, Tanggamus – Bupati Tanggamus Bambang Kurniawan diwakili Sekdakab Tanggamus Mukhlis Basri mengatakan, terselenggaranya kegiatan simulasi bencana ini sangat penting dilaksanakan. Mengingat wilayah Kabupaten Tanggamus secara geografis, geologi, hidrologis dan demografis termasuk wilayah rawan bencana alam dan non alam, serta bencana sosial yang dapat menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan , kerugian harta benda dan dampak psikologis bagi masyarakat.
“Saya sangat apresiasi, karena potensi ancaman bencana inilah yang membuat Pemkab Tanggamus melalui BPBD Tanggamus gencar melakukan sosialisasi pemahaman kepada masyarakat mengenai antisipasi jika terjadi bencana, seperti yang saat ini kita laksanakan. Dan ini menjadi urusan pemerintah wajib karena berkaitan dengan pelayanan dasar yang harus dilaksanakan, untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana. Mulai dari prabencana, tanggap darurat dan pasca bencana,”kata Mukhlis Basri Simulasi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami yang dipusatkan di lapangan Pemkab setempat, Rabu (14/12/2016).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat bersama dengan Pemkab Tanggamus. Dipilihnya Kabupaten berjuluk Bumi Begawi Jejama ini untuk digelar simulasi bencana lantaran, Tanggamus masuk dalam deretan 12 kabupaten/kota yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) rawan akan bencana gempa bumi dan tsunami, dengan indeks resiko bencana Indonesia (IRBI) sebesar 201,2 dan merupakan yang terbesar se-Sumatera.
Ia menjelaskan, salah satu bencana yang paling berpotensi adalah bencana gelombang tsunami. Berdasarkan analisa dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tinggi gelombang tsunami bisa menghantam pesisir Tanggamus antara ketinggian 5-11 meter.”Potensi bencana yang kita sampaikan bukan untuk menakut-nakuti, akan tetapi lebih kepada menyadarkan kita semua bahwa wilayah Tanggamus rawan akan tsunami, dan kita harus bisa melakukan langkah antisipasi bencana agar selamat,” tukasnya.
Kepala BPBD Tanggamus Ovi Ariansyah didampingi oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Syarif Zulkarnain menambahkan, ada tiga faktor penyebab bencana gelombang tinggi tsunami nantinya akan terjadi, yakni adanya letusan dari Gunung Anak Krakatau (GAK), bergeser/patahnya lempengan bumi yang dikenal dengan lempengan benua eurasia-indoaustralia dan patahan sesar semangko.
Bilamana nanti setelah gempa dengan skala richter (SR) di atas 7 dan berpotensi tsunami. Maka sirine peringatan bencana akan berbunyi. Dan hal yang dilakukan oleh masyarakat adalah mengikuti jalur evakuasi yang sudah ada, dan berkumpul di titik aman, yakni di taman kota Kec. Kota Agung. Karena memiliki ketinggian yang cukup, jadi jangan lari kemana-mana lagi. Dan untuk diketahui, kegiatan simulasi tanggap bencana gempa bumi dan tsunami ini pertama kalinya dilaksanakan di Tanggamus
“Dalam pelaksanaannya, kita melibatkan sekitar 350-400 peserta dari TNI, Polri, PMI, Tagana, BPBD Tanggamus, SKPD dan masyarakat. Ada 75 adegan simulasi yang harus diperagakan, dan dimulai dari pukul 10-11.30 wib. Dan Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Untuk kedepannya mungkin akan kembali dilakukan, tapi dengan tanggap bencana lainnya, seperti banjir bandang dan tanah longsor,” ujar Ovi. (Ron/Mar)









