Harianpilar.com, Tanggamus – Salah satu korban tewas akibat tenggelamnya kapal kayu yang bermuatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bertolak dari Johor Bahru, Malaysia menuju Batam, Kepulauan Riau pada Rabu (2/11/2016) lalu, ternyata Heriansyah (26), warga Pekon Kotabatu, Kecamatan Kotaagung, Tanggamus. Heri diketahui tewas setelah kapal kayu tersebut digulung ombak di Teluk Mergung Tanjungbembang, Kecamatan Nongsa, Batam.
Tangis pilu menyambut kedatangan jasad Heriansyah, memecah keheningan malam saat jasad ayah satu anak tersebut tiba di kediamannya, Senin (20/11/2016) malam, yang akhirnya jencazah Heriansyah dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) peko Kotabatu, Selasa (22/11/2016) sekitar pukul 10.00 Wib.
Kakak korban, Roji (30) mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari adiknya dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah kepada setiap orang. Bahkan dalam keluarga, Heriansyah adalah anak yang paling dicintai keluarga, dibandingkan kakak dan adiknya.
Diceritakan Roji, jika Heriansyah menjadi TKI di Malaysia melalui jalur tidak resmi lantaran tidak memiliki biaya. Dan selama dalam perantauan Heriansyah selalu memberikan kabar baik dan bekerja di perusahaan swasta.
Setelah dua tahun bekerja, lanjut Roji, Heriansyah pulang untuk menemui istri dan anaknya. Selang dua bulan, dia berangkat lagi ke Malaysia. Pada hari Selasa (1/11/2016) atau sehari sebelum peristiwa kapal tenggelam, Heriansyah sempat menelpon keluarga untuk memberi kabar bahwa dia ingin pulang. Kemudian keluarga mendapat kabar bahwa ada kapal berisi TKI yang tenggelam di Batam.
“Kami langsung mencoba menelpon dia, namun nomor telponnya sudah tidak aktif lagi. Padahal baru dua jam lalu, dia menelepon Kami. Selama menunggu kabar dari Tim SAR, Kami sekeluarga selalu berdoa dan berharap, bahwa adik saya bisa ditemukan dalam kondisi hidup. Namun harapan kami tak seperti kenyataan,” beber Roji.
Kepala Pekon Kotabatu, Darwis Usman mengatakan, mengetahui adanya kejadian kapal tenggelam, Harun (57) yang merupakan ayah korban, langsung ke Batam untuk mencari anaknya. Namun saat keluarga dari Tanggamus tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Batam, dari 54 korban meninggal dunia, ternyata jasad Heriansyah tidak ada.
Pencarian dilanjutkan ke kelompok korban selamat. Dari antara 39 korban selamat, Heriansyah juga tidak terlihat. Namun Harun dan yang lainnya masih yakin, bahwa Heriansyah masih hidup.
Selama menunggu, keluarga Heriansyah terus menantikan kabar dan informasi dari Tim SAR. Kemudian didapat informasi dari nelayan Teluk Mergung Tanjungbemban, bahwa nelayan di sana baru saja menolong enam orang dari perairan.
Jumlahnya ada enam orang, yaitu lima pria dan satu wanita. Mendapatkan kabar itu, keluarga makin yakin bahwa Heriansyah selamat dan ada di antara lima pria yang ditolong nelayan.
“Ke enam korban yang ditolong nelayan itu dibawa ke pinggir pantai, namun mereka langsung kabur. Mungkin, mereka kabur karena takut ditahan polisi, lantaran menjadi TKI ilegal. Tapi keluarga tetap yakin, salah satu di antara keenam orang itu adalah Heriansyah. Namun setelah sekian lama menunggu kabar tentang kondisi Heriansyah, akhirnya pihak keluarga mendapatkan titik terang. Pada saat-saat terakhir pencarian, Tim SAR menemukan jasad pria. Setelah diidentifikasi, diduga itu adalah jasad Heriansyah. Aparat Kepulauan Riau kemudian berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk mengkonfirmasi keluarga di sini. Setelah dicek, ternyata benar, itu adalah jasad Heriansyah,” beber Darwis mengulang cerita dari keluarga korban. (Imron/Agus/Juanda)









