Harianpilar.com, Tulangbawang – Mantan Bupati Pembangunan Tulangbawang II Priode Abdul Rahman Sarbini alias Mance mengeritik hasil kinerja kepemimpinan Handoyo selama empat tahun meminpin Kabupaten Tulangbawang, Senin (24/10/2016) .
Kedatangan mantan orang no 1 ke Tulangbawang untuk memberikan dukungan kepada kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Winarti dan Hendriwansyah untuk melanjutkan program kepemimpinannya yang sempat diabaikan Bupati Hanan A. Rozak dan Heri Wardoyo. Pasalnya, program pembangunan dan tempat rekreasi kurang mendapat perhatian pasangan Handoyo.
Seperti tempat rekreasi Cakat Nyenyek Universitas Megou Pak Tulangbawang dan masih banyak lagi. Dari contoh yang diatas Mance sangat ‘kecewa’ peninggalan saat kepemimpinannya tidak dilestarikan atau dikembangkan lebih maju.
“Seharusnya sekarang sudah menjadi Universitas Negeri, ini malahan ditahan oleh Bupati tidak memberikan tandatangan proses penegerian universitas yang kita cintai,” ujar Mance.
Mance menginginkan pada pasangan Win dan Hen harus ada perubahan yang ada, karena pembangunan Tulangbawang sangat mundur dari kepemimpinannya.
Dan juga renovasi kantor Bupati lama yang dilakukan menghabiskan anggaran Rp20 miliar merupakan suatu pemborosan anggaran, karena kantor bupati baru yang bangun di massa kepemimpinan Mance menghabiskan anggaran Rp20 miliar. “Apalagi kabarnya renovasi kantor Bupati yang dilakukan terdapat temuan dari BPK sebesar Rp8 miliar, saya berharap pada kawan-kawan media agar mengontrol pembangunan yang telah dilakukan semasa kepemimpinan Handoyo.
“Terkait program GSMK yang menjadi kebanggaan Handoyo terdapat banyak masalah. Pasalnya, dalam proses pembangunan yang dilakukan dalam program GSMK tidak melibatkan pihak kecamatan dan aparat kepala kampung. “Dalam pelaksanannya, bupati hanya membentuk Tim Pokmas saja,” paparnya.
Apalagi saat kepemimpinan Mance, pos anggaran untuk pembangunan disetiap kampung memang sudah ada. “Program GSMK itu hanya mengganti nama saja. Tujuannya sama dan pos-pos anggaranya memang udah ada dari jaman saya memimpin Tulangbawang, akan tetapi tidak sebesar sekarang,” ujar Mance.
Pengamat pembangunan Putra, S.T sangat menyayangkan hasil kinerja pembangunan yang dilakukan Handoyo selama ini.
Sebagaimana yang disampaikan Bupati terdahulu Mance, pembanguan Tulangawang hanya bersifat bongkar pasang. Menurut Putra renovasi kantor Bupati lama yang dilakukan merupakan pemborosan APBD Tulangbawang saja. Sebab pada jaman kepemimpinan Mance telah dibangun kantor bupati yang cukup megah dengan lokasi yang strategis bila dilihat para pengguna jalan lintas Timur Sumatera dan juga usia bangunan juga masih sangat muda belum mencapai sepuluh tahun,” ujar Putra.
Menurut Putra anggaran yang digunakan untuk rehab cukup fantastis, sampai puluhan miliar rupiah.
Putra menjelaskan renovasi menelan biaya untuk konsultan perencana dan pengawas sebesar Rp1.3 miliar, untuk renovasi fisik Rp22,2 miliar, dan untuk peralatan kantor mobelair Rp5,212 miliar, tambah lagi AC Rp1,2 miliar belum pengadaan CCTV dan barang-barang elektronik lainnya.
“Ini merupakan pemborosan anggaran. Pengadaan sarana dan prasarana kantor Bupati. Bila dilihat dari gedung yang megah, pembelian mobelair yang kesemuanya serba baru, seharusnya ketika pindah kantor menggunakan sarana prasarana yang telah ada,” katanya.
Seharusnya pemerintah Tulangbawang lebih cermat dalam meneliti kebutuhan barang milik daerah, sehingga barang-barang yang telah dibeli menggunakan APBD dapat bermanfaat. (Merizal)









