oleh

Petani Cabai Gagal Panen

Harianpilar.com, Tulangbawang Barat – Petani cabai di Tiyuh Kibangyekti Jaya, Kecamatan Lambu Kibang, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) terancam merugi pada panen tahun 2016. Hal tersebut lantaran kemarau panjang yang berdampak pada sulitnya air dan berimbas pada penurunan hasil panen.

Suratman, petani cabai Tiyuh Kibangyekti Jaya, Lambu Kibang menyatakan hasil panen cabai miliknya mengalami perurunan yang sangat drastis. Kemudian diperparah dengan penurunan harga jual, kualitas cabe juga kurang bagus.

“Penen cabe kali ini hasilnya menurun. Diperparah dengan harga jual, ditambah lagi kurang maksimalnya perawatan berdampak pada kualitas hasil panen. Itu semua mempengaruhinya,” kata Suratman, Rabu (15/9/2016).

Jika dilihat dari kualitas mutu bila dibandingkan dengan hasil panen tahun 2015 lalu, jauh beda. Hal tersebut lantaran kurangnya air dalam perawatanya. Sementara ia hanya mampu memanfaatkan air di lokasi kebun dengan cara yang sederhana.

“Buah cabenya banyak yang keriting, belum lagi yang mengering hingga busuk akibat kurang air. Keadaan ini sangat berbeda dengan tahun lalu,  karena adanya ketersediaan air yang cukup melimpah. “Saya hanya mampu memanfaatkan air yang ada disekitar perkebunan saja,” paparnya.

Penurunan hasil panen cabe miliknya kata Suratman mengalami penurunan hingga 40 persen.

Hal tersebut akan berimabas pada penurunan hasil yang disertai pula dengan menurunnya harga jual. “Kalau kebunnya dirawat dengan baik, dan ketersediaan air cukup, maka hasilanya bisa mencapai 1,2 sampai 1,5 kilogram dalam 1 pohon. Tetapi kali ini jika dilihat dari kualitas pohon cabai,  hanya 0,76 sampai 0,9 kilogram rata-rata dalam 1 pohonya. Disamping itu turunya harga cabai dipasaran yang kini kisaran Rp 30.000 per kolograma, juga akan berdampak pada penurunan hasil panen pada bulan September-Oktober 2016 ini,” kata dia. (Epri/Mar)